
Bulan Pucat di Awan
Oleh : Patria Subuh
Saat bulan pucat di langit malam
Mendekam tertiup angin sepoi sepoi
Raga menyimpan dahaga
pada hujan rinai-rinai
Berdiri mengangkangi awan
Melintasi cakrawala kelabu
sambil tersenyum tersipu malu
Memancarkan cahaya lembut
Membasuh tatapan nanar
terus memandang takjub
Malam ini bulan purnama
datang tanpa basa basi
Bersinar dalam cahaya temaram
Merapal alam dalam kelam
Membius hati yang nestapa
menemani rasa gundah gulana
Namun bersiap siaplah
engkau kekasih
begadang berdendang riang
menikmati langit malam
hingga pagi menjelang
Karena purnama keduabelas
malam ini,
adalah malam jumat
Saatnya birahi datang memberontak
Menyeruak naik
bagai pasang air laut
Bergelora membelai
ombak daratan
Mengintip-intip mengintai sasaran
Mengarahkan kapal ke pinggir pantai
Diiringi angin lemah gemulai
pada rindu tak tertahankan
Berlabuh di tanah impian
Ayo, majulah!
sebelum bulan menghilang
Malam ini jangan lagi berbasa basi
Kesempatan kan lenyap percuma
Pesta gegap gempita kan luput terlewati
hampa diri kan segera terobati
Manfaatkan saja naluri purba
untuk momen nan jarang bersua
Dalam cahaya bulan purnama
melanglang buana ke seantero dunia
Membelai bayang-bayang kelana.
Ketika bulan merat,
di atas mahligai katulistiwa.
Cahayanya mulai meredup
Menerpa bumi nan merana
Berkobar menanggung
selaksa umpama
Atas nama wajahmu nan pias
Ketika sekujur tubuh
berdesah syahdu
hanyut mengharu biru
pikiran serasa luruh terkesima
sukma melambung jauh
tak terkira
tinggi melayang di awang-awang
Menembus cahaya bintang-gemintang
Payakumbuh, 13 Agustus 2024
Catatan;
Patria Subuh merupakan seorang ASN/PNS di Pemkab Limapuluh Kota yang punya perhatian terhadap permasalahan politik, ekonomi, sosial dan budaya (poleksosbud).
Tamatan Teknik Sipil ITB Bandung kelahiran Padang pada tahun 1967 ini juga sering menulis mengenai masalah kesehatan, dan juga puisi.
























