
Senandung Pena Chairul Harun
Karya: Leni Marlina
Di bawah pelangi Pariaman, tempat embun menyapa pagi,
Chairul Harun engkau hadir membawa sinar damai,
Seperti bunga yang mekar di lembah sunyi,
Engkau ukir kisah, menggugah jiwa, merangkai cerita penuh makna.
Dalam kekayaan Minangkabau yang megah,
Engkau melukis sejarah dengan tinta emas,
Kata demi kata, engkau jalin seperti benang sutra,
Mengikat tradisi dalam alunan yang tak lekang waktu.
Kata-katamu, aliran sungai jernih,
Menghidupkan pepohonan cerita di lembah dan bukit,
Menyentuh hati, berbisik lembut di telinga kita,
Mengisahkan cinta pada tanah leluhur yang abadi.
Setiap baris puisimu, ranting kayu menari,
Ditiup angin sepoi, menceritakan cinta pada warisan,
Menjaga jejak budaya, tak terhapus waktu yang berlalu,
Engkau adalah penjaga, pengingat masa yang telah berlalu.
Di ruang kelas, di panggung seni,
Engkau bagai mentari menyinari pagi,
Membakar semangat di dada siswa,
Menanamkan cinta pada akar tradisi.
Penghargaan datang bagai hujan bintang,
Namun bagimu, itu hanyalah bayang,
Engkau tulus seperti pelangi setelah hujan,
Mengabdi tanpa pamrih, dengan hati yang lapang.
Di tengah hiruk pikuk zaman yang berlalu,
Terhamparlah kisah-kisahmu wahai sang budayawan dan sastrawan, Chairul Harun,
Seperti benang sutra yang menganyam,
Menggambarkan keindahan sastra dan kehidupan.

Dalam “Dua Puluh Sastrawan Bicara”,
Pemikiranmu hadir, membuka jendela dunia,
Antologi esai yang memukau, menggugah rasa,
Menyibak makna, Chairul Harun engkau luar biasa.
“Warisan”, novel yang menjadi pusaka,
Mengisahkan sengketa harta dalam adat Minangkabau,
Dengan gaya bahasa yang khas, penuh makna,
Engkau singkap sisi kelam, menantang tradisi.
Melalui sorotan Veven S.P. Wardhana,
Kita pahami makna yang tersirat,
Kata-katamu menyentuh kehidupan,
Menggambarkan konflik yang dalam.
Bill Watson pun angkat bicara,
Mengapresiasi pemikiranmu yang bijak,
Engkau tidak hanya menulis cerita,
Namun mempertanyakan adat yang berlaku.
“Warisan” bukan sekadar karyamu,
Namun cerminan tajam realitas sosial,
Menyibak sisi kelabu masyarakat,
Mengajak kita bertanya tentang hak dan keadilan.
Kini engkau telah lama tiada, namun karyamu abadi,
Seperti pohon beringin yang kokoh di hati,
Chairul Harun, sang pemahat budaya sejati,
Nyalakan kembali jiwa kami, setiap kali membaca hasil goresan penamu.
Terima kasih, oh penulis bijak,
Kau adalah burung merak yang melebarkan sayap,
Dalam indahnya cerita, kekayaan budaya,
Karyamu tetap hidup, inspirasimu takkan pernah pudar.
Padang, Juni 2024
Sekilas Penulis
Puisi ini awalnya diterbitkan dalam koleksi puisi Leni Marlina pada bulan Agustus 2016, dan direvisi kembali Agustus 2022, sebelum dipublikasikan setahun kemudian melalui media digital.
Sejak tahun 2006, penulis telah berdedikasi sebagai dosen di Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.
Ia juga merupakan pendiri dan kepala World Children’s Literature Community (WCLC). Selain itu, ia aktif sebagai anggota Asosiasi Penulis Satu Pena Sumatera Barat sejak tahun 2022, dan terlibat dengan Asosiasi Penulis Victoria – Australia sejak tahun 2012.
(Putrie)























