
Oleh: Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag
(Guru Besar UIN Imam Bonjol)
KEPEMIMPINAN tidak selalu bermakna memulai segala sesuatu dari awal. Kepemimpinan yang matang justru terlihat pada kesediaan melanjutkan program yang baik, menyempurnakan pekerjaan yang belum selesai, serta merawat warisan pembangunan para pendahulu.
Jika dilakukan survei kepada masyarakat Kabupaten Padang Pariaman, khususnya mereka yang berusia 40 tahun ke atas, dengan pertanyaan, “Siapakah Bupati yang paling dikenang?”, nama Muslim Kasim dan Ali Mukhni diyakini akan muncul cukup dominan. Keduanya hadir dalam ingatan masyarakat, bukan semata-mata karena pernah menduduki jabatan Bupati, melainkan karena meninggalkan jejak pembangunan yang dapat dilihat, dirasakan, dan diteruskan.
Tentu saja, setiap pemimpin mempunyai kelebihan dan kekurangan. Tidak ada masa pemerintahan yang sepenuhnya sempurna. Namun, penghargaan terhadap jasa pendahulu tidak boleh hilang hanya karena perbedaan zaman, pilihan politik, kelompok, ataupun kepentingan.
Bangsa Besar Menghargai Pendahulunya
Ada ungkapan yang terus hidup dalam kesadaran kebangsaan kita: bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan dan pendahulunya. Pesan ini tidak hanya berlaku dalam mengenang para pejuang kemerdekaan, tetapi juga relevan dalam kehidupan Pemerintahan Daerah.
Pemimpin terdahulu yang telah mewakafkan tenaga, pikiran, waktu, dan pengabdiannya untuk masyarakat patut ditempatkan secara terhormat dalam memori kolektif daerah. Penghormatan itu bukanlah pengultusan pribadi, melainkan pendidikan sejarah bagi generasi berikutnya.
Dalam adat Minangkabau dikenal prinsip:
Nan baiak dipakai, nan buruak dibuang;
nan lapuak dikajangi, nan usang dipabarui.
Artinya, kebaikan yang telah diletakkan oleh pendahulu hendaknya dipelihara dan dilanjutkan. Kekurangan diperbaiki, sedangkan capaian yang bermanfaat dikembangkan sesuai kebutuhan zaman.

Jejak Pembangunan Muslim Kasim
Muslim Kasim dikenang sebagai pemimpin yang meletakkan fondasi penting bagi arah baru pembangunan Kabupaten Padang Pariaman. Salah satu keputusan strategis pada masa kepemimpinannya adalah pemindahan ibu kota kabupaten dan pengembangan kawasan Ibu Kota Kabupaten (IKK) di Nagari Parik Malintang.
Pemindahan pusat Pemerintahan tersebut, bukanlah pekerjaan sederhana. Ia membutuhkan visi jangka panjang, keberanian politik, perencanaan wilayah, pembebasan lahan, pembangunan perkantoran, serta penyediaan infrastruktur pendukung. Keputusan itu kemudian menjadi dasar bagi terbentuknya pusat Pemerintahan Kabupaten Padang Pariaman, seperti yang disaksikan hari ini.
Di antara karya penting lainnya, adalah pengembangan kawasan Malibou Anai sebagai destinasi dan ruang pertumbuhan ekonomi daerah. Pada masanya juga dilakukan pembangunan serta peningkatan berbagai infrastruktur dasar yang menghubungkan masyarakat, pusat pemerintahan, pelayanan publik, dan kawasan ekonomi.
Pemindahan Ibu Kota Kabupaten, pengembangan Malibou Anai, pembangunan infrastruktur, serta berbagai kebijakan pembangunan lainnya merupakan bagian dari kinerja positif Muslim Kasim. Tidak seluruh hasilnya mungkin langsung terlihat pada saat kebijakan itu dimulai. Akan tetapi, sebagian fondasi yang diletakkannya menjadi pijakan bagi Pemerintahan berikutnya.

Warisan Pembangunan Ali Mukhni
Estafet kepemimpinan, kemudian dilanjutkan oleh Ali Mukhni. Ia tidak hanya meneruskan pembangunan yang telah dirintis, tetapi juga memperluas jaringan dan menghadirkan sejumlah proyek strategis yang memperkuat posisi Padang Pariaman dalam pembangunan Sumatera Barat.
Di antara warisan penting kepemimpinan Ali Mukhni, adalah kehadiran Akademi Pelayaran sebagai bagian dari penguatan pendidikan dan sumber daya manusia di bidang kemaritiman. Kehadiran lembaga pendidikan ini, membuka peluang bagi generasi muda untuk memperoleh pendidikan profesional yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Legacy lainnya, adalah berdirinya Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia di Padang Pariaman. Kehadiran madrasah unggulan tersebut, memberikan arti penting bagi pembangunan pendidikan Islam yang berkualitas, berwawasan ilmu pengetahuan, serta berorientasi pada pembentukan generasi berprestasi dan berkarakter.
Stadion Utama Sumatera Barat di Sikabu, juga menjadi salah satu jejak pembangunan besar pada masa kepemimpinannya. Stadion tersebut bukan hanya fasilitas olahraga, tetapi juga simbol potensi Padang Pariaman sebagai tuan rumah kegiatan olahraga dan aktivitas publik berskala daerah, nasional, bahkan lebih luas.
Demikian pula pengembangan kawasan Tarok City yang dirancang sebagai pusat pendidikan, pelayanan, dan pertumbuhan baru. Gagasan besar Tarok City memperlihatkan ikhtiar menghadirkan kawasan terpadu, yang diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi, pendidikan, sosial, dan pembangunan wilayah dalam jangka panjang.
Akademi Pelayaran, Madrasah Insan Cendekia, Stadion Utama Sumatera Barat di Sikabu, Tarok City, dan berbagai pembangunan lainnya merupakan legacy Ali Mukhni yang patut dicatat dalam sejarah daerah. Sebagian di antaranya masih membutuhkan kelanjutan, penyempurnaan, dan optimalisasi agar manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat.

Dari Ingatan Menjadi Warisan Publik
Gagasan menghadirkan nama Ali Mukhni pada sebuah Masjid dan nama Muslim Kasim pada Rumah Sakit Daerah, harus dipahami dalam kerangka penghormatan terhadap jasa senior dan pelestarian sejarah pembangunan Padang Pariaman.
Masjid merupakan pusat ibadah, pembinaan umat, pendidikan, dan penguatan nilai sosial. Rumah sakit adalah pusat pelayanan kemanusiaan, yang berhubungan langsung dengan keselamatan dan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, pengabadian nama tokoh pada kedua fasilitas publik tersebut memiliki pesan yang kuat: pengabdian seorang pemimpin harus terus hidup dalam pelayanan kepada masyarakat.
Nama Masjid Ali Mukhni dapat menjadi pengingat, bahwa pembangunan fisik semestinya berjalan beriringan dengan pembangunan spiritual. Nama RSUD Muslim Kasim dapat menjadi simbol, bahwa kepemimpinan harus bermuara pada pelayanan kemanusiaan, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan kesehatan.
Tentu, penamaan fasilitas publik perlu dilaksanakan melalui mekanisme hukum, administrasi, dan musyawarah yang berlaku. Aspirasi masyarakat, pertimbangan sejarah, serta persetujuan lembaga berwenang harus menjadi dasar. Dengan demikian, penghargaan tersebut memiliki legitimasi yang kuat dan tidak berhenti sebagai keputusan sesaat.

Kepemimpinan Bukan Menghapus Jejak
Salah satu kelemahan dalam pergantian kepemimpinan adalah munculnya kecenderungan mengganti, mengabaikan, bahkan menghapus program pendahulu hanya karena perbedaan politik. Akibatnya, pembangunan kehilangan kesinambungan. Anggaran terbuang, program terbengkalai, dan masyarakat menjadi pihak yang paling dirugikan.
Kepemimpinan melanjutkan menolak cara berpikir seperti itu. Pemimpin baru tidak akan kehilangan kehormatan, hanya karena meneruskan karya pemimpin lama. Sebaliknya, keberanian mengakui dan menyempurnakan keberhasilan pendahulu, merupakan tanda kebesaran jiwa.
Pemimpin yang baik tidak bertanya, “Siapa yang memulai program ini?”, tetapi bertanya, “Apakah program ini bermanfaat bagi masyarakat dan layak diteruskan?”
Jabatan pemerintahan mempunyai batas waktu, sedangkan kepentingan masyarakat berlangsung lintas generasi. Oleh sebab itu, pembangunan daerah harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan periode kekuasaan.

JKA dan Keteladanan Politik yang Beradab
Langkah Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis (JKA), dalam menghormati jasa para senior patut ditempatkan sebagai bagian dari politik yang beradab. Menghadirkan Masjid Ali Mukhni dan meresmikan RSUD Muslim Kasim, bukan hanya soal pemberian nama. Di dalamnya terdapat pesan, bahwa Pemerintah Daerah tidak melupakan orang-orang yang pernah bekerja dan berjasa bagi kemajuan daerah.
Sikap tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa pergantian kepemimpinan tidak harus melahirkan pemutusan sejarah. Pemimpin hari ini, berdiri di atas fondasi yang telah dibangun oleh pemimpin sebelumnya. Kelak, karya pemimpin hari ini juga akan dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Inilah makna kepemimpinan melanjutkan: menerima estafet dengan rendah hati, menjaga capaian yang sudah ada, memperbaiki kekurangan, menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas, serta menambahkan karya baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Memori Kolektif Daerah
Nama seorang tokoh yang diabadikan pada fasilitas publik, hendaknya tidak berhenti pada papan nama. Pemerintah Daerah perlu melengkapinya dengan dokumentasi sejarah, profil pengabdian, arsip pembangunan, dan narasi edukatif yang dapat dibaca oleh masyarakat.
Generasi muda harus mengetahui siapa Muslim Kasim dan Ali Mukhni, apa yang telah mereka kerjakan, tantangan apa yang mereka hadapi, serta pelajaran kepemimpinan apa yang dapat diwarisi. Pemindahan Ibu Kota Kabupaten, pembangunan IKK, Malibou Anai, Akademi Pelayaran, Madrasah Insan Cendekia, Stadion Utama Sumatera Barat di Sikabu, dan Tarok City harus ditempatkan dalam perjalanan sejarah pembangunan Padang Pariaman.
Dengan cara demikian, sejarah daerah tidak hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang tua, tetapi menjadi pengetahuan bersama yang diwariskan secara berkelanjutan.
Penghormatan kepada pendahulu, tidak akan mengecilkan pemimpin yang sedang menjabat. Justru dari sanalah terlihat kedewasaan, kerendahan hati, dan keluasan pandangan seorang pemimpin.
Akhirnya, kepemimpinan yang baik bukan hanya meninggalkan nama, melainkan menghadirkan manfaat. Bukan sekadar membangun monumen, tetapi merawat kesinambungan. Bukan menghapus jejak pendahulu, melainkan menyambungkan kebaikan dari satu masa kepada masa berikutnya.
Menghormati Muslim Kasim dan Ali Mukhni, berarti menjaga memori pembangunan Padang Pariaman. Melanjutkan karya mereka, berarti memastikan bahwa setiap estafet kepemimpinan tetap bergerak menuju kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. *)






















