
Oleh: Farhan Nashrullah
TINGGINYA aktivitas perekonomian di suatu daerah pasti memberikan dampak terhadap kegiatan transportasi. Hal tersebut bisa dilihat pada kota-kota besar, salah satunya di Ibukota Jakarta.
Kepadatan lalu lintas yang dirasakan oleh masyarakat Jakarta tidak lepas dari tingginya aktivitas manusia dalam mencari kebutuhan ekonominya. Tidak hanya itu, peningkatan jumlah penduduk dan peningkatan pembelian kendaraan juga ikut mempengaruhi masalah kemacetan tersebut.
Di Jakarta kemacetan adalah peristiwa yang sering kita temui, hampir setiap wilayah di ibukota mengalami kemacetan.
Kemacetan di jakarta sudah menjadi ciri khas, bukan hanya di Jakarta tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia. Indeks kemacetan yang terjadi di tahun ini pun dinilai meningkat setelah sempat turun saat terjadinya pandemi Covid-19.
Beberapa faktor menjadi penyebab terjadinya kemacetan tersebut, diantaranya :
1). Padatnya aktivitas lalu lintas
Kondisi jalan yang penuh akibat aktivitas dari kendaraan para masyarakat di ibukota mengakibatkan kemacetan. Hampir setiap orang memiliki kendaraan di sana, baik itu mobil atau motor.
Menurut data Badan Pusat Statistik jumlah sepeda motor di Jakarta mencapai 17,3 Juta unit dan kendaraan roda empat sebanyak 3,7 Juta unit. Hal itu yang membuat penumpukan terjadi di ibukota sehingga kemacetan tidak dapat dielakkan.
2). Urbanisasi yang tinggi
Cepatnya urbanisasi yang terjadi di Jakarta mengakibatkan kepadatan yang luar biasa sehingga tidak mampu ditampung oleh infrastruktur jalan yang tidak memadai.
3). Pemakaian kendaraan pribadi
Masyarakat ibukota lebih cenderung menggunakan kendaraan pribadi sebagai transportasi untuk melakukan aktivitas sehari seharinya, baik jarak jauh ataupun dekat.
Jika mereka menggunakan kendaraan dengan waktu yang bersamaan maka itu akan menimbulkan kemacetan di titik-titik tertentu.
4). Individu yang nakal dan tidak tertib
Individu atau manusia sebagai pengguna jalur lalu lintas tidak seluruhnya yang patuh akan aturan yang berlaku di lalu lintas, terdapat juga yang nakal seperti melanggar rambu rambu lalu lintas.
Contohnya memarkirkan kendaraan di ruas pinggir jalanan yang dapat menghambat laju kendaraan yang lewat sehingga menimbulkan kemacetan nantinya.
Faktor-faktor di atas merupakan beberapa hal yang menjadi awal terjadinya kemacetan di Jakarta, namun masih banyak faktor lain penyebab terjadinya kemacetan. Lembaga pemeringkat lalu lintas kota dunia atau disebut Tomtom Internasional BV meletakkan Indeks kemacetan yang terjadi di Jakarta menempati urutan 29 dunia pada tahun 2023, yang diibaratkan waktu tempuh untuk sampai dalam jarak 10 KM rata-rata selama 23 menit.
Dalam hal ini pemerintah telah melakukan berbagai cara untuk mengatasi masalah kemacetan tersebut, di antaranya; Pertama, Penerapan sistem ganjil genap. Cara ini diberlakukan oleh pemerintah untuk mengurangi penumpukan penggunaan kendaraan di Jakarta.
Cara kerja sistem ini berpatokan kepada plat kendaraan yang dimiliki masing-masing masyarakat. Semisal plat yang berakhiran dengan nomor genap maka hanya dapat beroperasi pada tanggal genap, sedangkan kendaraan yang memiliki plat berakhiran ganjil juga hanya dapat digunakan saat tanggal ganjil.
Kedua, Penyediaan transportasi umum. Pemerintah Jakarta berusaha cepat memberikan penyediaan transportasi umum yang banyak dan memadai untuk mencegah terus terjadinya kemacetan. Berbagai macam transportasi umum, seperti KRL, MRT, LRT, dan TransJakarta yang ada di ibukota telah disiapkan untuk mengatasi masalah kemacetan yang dihadapi.
Dengan adanya kebijakan tersebut diharapkan masyarakat lebih condong untuk menggunakan transportasi umum yang lebih efektif untuk mengurangi penumpukan di jalan.
Kemudian, Ketiga, Peningkatan insfrastruktur. Proyek-proyek besar telah dilakukan di Ibukota Jakarta untuk meningkatkan pelayanan publik yang ada dengan tujuan salah satunya mengurangi kemacetan yang ada. Pembangunan jalan tol, perluasan jalan di beberapa titik pun dilakukan untuk menstabilkan kondisi lalu lintas yang ada di Jakarta.
Meskipun kebijakan-kebijakan tersebut telah dijalankan oleh pemerintah, namun permasalahan kemacetan yang ada di Jakarta tidak kunjung berakhir, karena ini merupakan masalah serius yang sudah sejak lama ada dan susah untuk di minimalisir.
Pemerintah juga sudah terus mengupayakan berbagai solusi untuk mengatasi masalah ini. Jika pemerintah dapat melakukan pembatasan pembelian kendaraan bermotor mungkin sedikit demi sedikit kemacetan yang ada akan juga berkurang.
Semoga dalam beberapa tahun ke depan masalah kemacetan yang dihadapi oleh Ibukota Jakarta segera terselesaikan dan memberikan dampak yang baik dalam berbagai sektor. *)
Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Andalas























