
Oleh: Syafira
SOPAN SANTUN dalam adat Minangkabau terdapat ketika kita melihat orang lagi berbicara, hendak lah jangan menggangu orang tersebut berbicara. Tetap lah diam. Sesudah pembicaraan orang itu selesai baru kita berbicara kepada dia.
Saat kita berbicara memiliki sifat kato nan ampek, yakni; kato mandaki, kato manurun, kato mandata, dan kato malereang.
Dapat dijelaskan, kato mandaki merupakan ketika kita berbicara kepada orang yang lebih besar dari kita. Hendak lah kita berbicara dengan sopan santun dalam perkataan dan di jaga perkataan ketika berbicara dengan orang yang lebih besar dari kita.
Contohnya ketika kita berbicara dengan kakak, ibu, atau saudara yang lebih besar dari kita.
Kato manurun, ketika kita berbicara dengan orang yang lebih kecil dari kita.
Contohnya ketika kita berbicara kepada adik dengan lemah lembut agar kita bisa mencontohkan sikap yang lebih baik.
Kato mandata, ketika kita berbicara sesama besar atau seumuran dengan kita.
Contohnya ketika kita berbicara dengan teman sebaya dengan kita.
Kato malereng, ketika kita berbicara dengan ninik mamak atau saudara ipar kita. Biasanya kita ketika berbicara kepada mamak kita, kita harus sopan santun dengan tata krama dalam perilaku agar sifat kita tidak terlalu buruk dimata mamak.
Sopan hendaklah penting dalam perilaku terhadap sebuah pergaulan. Ketika kita sopan santun terhadap orang lain, pastinya orang lain tersebut lebih sopan kepada kita .
Kesantunan, berdasarkan beberapa teori, mengacu pada sikap atau perilaku yang teratur dalam interaksi manusia sesuai dengan kebiasaan atau norma komunikasi sehari-hari, saling menghormati, berbicara kata-kata baik, rendah hati dan saling membantu.
Kesopanan adalah bagian dari etika atau perilaku yang baik. Perilaku santun bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis atau spontan pada diri seseorang, tetapi perilaku terbentuk berdasarkan beberapa faktor.
Pembentukan perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor dari dalam dan luar individu.
Faktor internal adalah pengetahuan, sikap, kecerdasan, persepsi, emosi dan motivasi. Sementara, faktor eksternal adalah lingkungan sekitar, sosial ekonomi.
Faktor dominan yang mempengaruhi perilaku santun adalah: pengalaman pribadi, orang penting, lembaga pendidikan serta agama dan budaya. Agama di sini sebagai pandangan hidup dan pendidikan.
Moralitas yang tinggi menjadi salah satu ukuran harkat dan martabat manusia. Etika adalah salah satu kualitas yang harus dimiliki setiap warga Minang. Berabad-abad yang lalu, adat Minang memastikan bahwa jika moral suatu bangsa rusak, sudah pasti suatu saat bangsa itu akan hancur. Maka itu kita harus tetap mempertahankan atau menjaga perilaku sopan santun dalam adat Minangkabau.
Sopan santun merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial sehari-hari, karena dengan menunjukkan sikap yang santun, seseorang dapat dihormati dan dianggap eksis sebagai makhluk sosial dimanapun.
Membentuk kesantunan raso jo pareso dan malu, yang berarti bahwa orang Minang memiliki raso jo pareso yang tinggi dalam sikap dan tindakannya, terutama dalam kata-kata yang diucapkannya agar tidak menyinggung perasaan orang lain.
Adapun aturan sopan santun dalam masyarakat, yaitu; pertama, ketika kita mau pergi ke rumah tetangga hendaklah mengucapkan assalamualaikum terlebih dahulu sebelum masuk dan lalu bersalam. Ketika sudah masuk jangan langsung duduk sebelum orang tersebut suruh kita duduk di kursi.
Kalau sudah di suruh duduk barulah kita duduk. Setelah kita selesai ngobrol kepada di rumah orang hendaklah pamit terlebih dahulu dan bersalaman agar orang rumah tersebut tidak berburuk sangka terhadap kita.
Kedua, ketika kita makan bersama. Hendaklah jangan duduk kaki ke atas itu menimbulkan kita tidak lah sopan. Kita harus duduk dengan baik. Adapun cara duduk bagi perempuan yaitu dengan cara duduk bersimpuh, sedangkan laki-laki duduk dengan baselo.
Ketika makan jangan lah berdiri dan makan tangan kanan tidak boleh tangan kiri. Ketika makan jangan lah banyak bicara, itu tidak lah baik.
Ketiga, ketika kita berpapasan di jalan dengan orang yang kita kenal, lalu orang tersebut kenal pula dengan kita. Sebaiknya kita harus menyapa atau tersenyum kepada orang tersebut, lalu kita menghampiri atau bersalaman dengan orang tersebut dengan baik.
Ke-empat, ketika kita menguap di tempat umum, hendaklah kita menutup mulut.
Kelima, ketika kita berbicara kepada orang lain, kita harus berbicara yang tidak menyinggung perasaannya atau menyakiti nya karena dalam berbicara harus dijaga dengan baik agar kita lebih sopan kita kepada orang lain.
Ke-enam, ketika orang tua kita atau ibu kita menyuruh membelikan sesuatu hendaklah kita beli apa yang ibu kita suruh dengan hati yang baik. Janganlah kita berkata kasar atau menolak dengan perkataan yang menyakiti hati seorang ibu, karena dalam perkataan kita harus berkata sopan terhadap ibu kita sendiri karena ibu kita sudah membesarkan kita dari bayi hingga dewasa. Apalagi surga ada di telapak kaki ibu .
Manfaat ketika kita sopan santun terhadap orang lain, kita dihargai dan dihormati oleh orang lain karena orang yang melakukan sopan santun terhadap orang lain atau komunikasi yang baik dan lembut tutur katanya tanpa saling menjatuhkan antara keduanya, sehingga orang lain dapat menilai diri kita sebagai kita ini yang baik dan bisa mempercayakan sesuatu terhadap diri kita.
Ketika kita berbuat baik kepada orang lain, orang lain pun nggak segan-segan membalas kebaikan kepada kita. Kita juga merasa damai dalam berbuat baik dan sopan terhadap orang lain. Kita juga dihindari permusuhan dan dicintai oleh Allah SWT, ketika kita melakukan banyaknya kebaikan yang kita lakukan. *)
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























