
Oleh: Aisah Sulia Fitri
INDONESIA merupakan negara yang kaya dan melimpahnya budaya dan tradisi. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing, baik dari segi bahasa, pakaian adat, tarian, musik, makanan, maupun upacara adat.
Salah satu tradisi unik dalam budaya Indonesia adalah acara balimau sebelum puasa Ramadhan, yang biasa dilakukan oleh masyarakat Minangkabau.
Balimau sebelum puasa adalah sebuah ritual tradisional yang dilakukan sebagai persiapan menghadapi bulan puasa yang merupakan bulan yang sakral dimana seluruh umat muslim diwajibkan untuk berpuasa selama sebulan penuh.
Sebagai persiapan menghadapi bulan puasa, masyarakat Minangkabau melakukan ritual balimau yang dipercaya dapat membersihkan diri dari segala macam dosa dan keburukan.
Tradisi Balimau adalah tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat, sebagai bagian dari persiapan menjelang bulan puasa Ramadhan.
Tradisi ini dilakukan dengan cara mandi bersama di tepian sungai atau tempat pemandian umum menggunakan air jeruk nipis yang dicampur dengan daun sirih dan bunga melati.
Adapun tradisi yang mirip dengan balimau yaitu meugang dari Aceh. Tradisi balimau dipercaya sudah ada pada abad ke-19 pada masa penjajahan Belanda. Awalnya tradisi ini merupakan bentuk ritual dimana pada hari terakhir bulan Sya’ban seseorang diwajibkan mandi keramas dengan limau, setelah itu barulah seseorang berniat berpuasa Ramadhan esok harinya.
Tradisi ini sangat digemari masyarakat Minangkabau, khususnya remaja dan anak-anak.
Latar belakang tradisi ini muncul adalah membersihkan diri secara lahir dan batin sesuai dengan ajaran agama Islam yaitu menyucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa. Zaman dahulu tidak semua orang bisa mandi dengan bersih karena tidak dapat memenuhi kebutuhan seperti sabun, kekurangan air atau sebagainya.
Akan tetapi pada saat itu pengganti sabun di beberapa wilayah Minangkabau adalah limau atau disebut juga dengan jeruk nipis karena dapat melarutkan keringat atau minyak di tubuh.
Namun pada 2020, tradisi balimau ditiadakan karena virus Corona mewabah ke seluruh penjuru dunia. Akan tetapi setahun setelahnya tradisi ini kembali dilakukan.
Acara balimau sebelum puasa biasanya dilakukan pada siang hari, tepat sehari sebelum bulan Ramadhan tiba. Pada acara ini, masyarakat Minangkabau berkumpul di sebuah tempat yang telah disiapkan oleh panitia.
Tempat ini biasanya merupakan sebuah lapangan terbuka atau sebuah halaman rumah yang luas. Setiap orang yang datang harus membawa seekor ayam jantan yang masih muda.

Setelah semua orang berkumpul, acara dimulai dengan memperkenalkan para tokoh adat yang hadir, seperti datuk, ninik mamak, dan tokoh masyarakat lainnya. Kemudian, para tokoh adat akan memimpin doa dan membacakan ayat-ayat suci Al-Quran.
Setelah itu, acara balimau dimulai. Masyarakat yang hadir akan membawa ayam-ayamnya dan mencelupkannya ke dalam wadah yang berisi air campuran daun sirih dan bunga rampai.
Air ini dipercaya dapat membersihkan diri dari segala macam dosa dan keburukan. Acara balimau sebelum puasa bukan hanya sekadar membersihkan diri dari dosa dan keburukan, namun juga sebagai ajang untuk mempererat tali silaturahmi antara masyarakat.
Pada acara ini, masyarakat akan saling berjabat tangan dan bercengkerama, serta saling bermaafan jika ada kesalahan yang pernah dilakukan di masa lalu. Hal ini bertujuan untuk memulai bulan puasa dengan hati yang bersih dan damai.
Seiring berjalannya waktu tradisi ini pun mengalami perubahan salah satunya adalah penambahan ornamen-ornamen seperti pesta musik, yang seharusnya tidak ada dalam tradisi tersebut.
Adapun perubahan yang mencolok dari tradisi balimau ini yang seharusnya sebagai tradisi menyucikan diri dan tradisi menyambut bulan Ramadhan, akan tetapi sekarang dijadikan alasan untuk pergi hura-hura dan berpacaran. Bagi remaja tradisi ini hanyalah simbol, balimau dijadikan alasan agar mendapatkan izin dari orangtua.
Perubahan yang terjadi dalam tradisi balimau diakibatkan oleh perubahan perilaku masyarakat Minangkabau dalam merayakannya. Perubahan perilaku ini terjadi akibat dari perkembangan zaman. Selain faktor zaman, faktor lainnya adalah kurangnya pendidikan atau pengenalan tradisi-tradisi sejak dini, hingga salah memaknai tentang tradisi balimau.
Namun, meskipun acara balimau sebelum puasa telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Minangkabau selama berabad-abad, beberapa pihak mengkritiknya karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Sehari sebelum dilaksanakan tradisi balimau, adapun tradisi yang wajib dilakukan yaitu tradisi bantai. Tradisi bantai berasal dari Sumatera Barat, khususnya Minangkabau.
Tradisi ini adalah menyembelih hewan kerbau ataupun sapi. Tradisi ini dilaksanakan setahun tiga kali yaitu bulan Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri. Hewan tersebut dibeli oleh warga atau kelompok. Hewan yang telah dibeli diikat di lapangan tempat hewan tersebut disembelih hingga diperjualbelikan. Masyarakat akan menjaga tempat penyembelihan itu, dan memeriahkan acara tersebut.
Hewan yang dibeli secara bersama-sama disembelih dan dibagi-bagikan adapun yang dijual kepada masyarakat untuk dikonsumsi menjelang Ramadhan. Daging tersebut bisa diolah menjadi rendang, gulai kari, ataupun gulai kalio.
Selain itu juga ada tradisi malamang yang dilakukan untuk menyambut bulan Ramadhan. Hal ini dilakukan sebagai rasa syukur atas nikmat Allah yang telah diberikan serta menyambut bulan yang suci dan penuh berkah.
Menurut pendapat penulis tradisi balimau diwariskan secara turun-temurun, bahkan masih ada hingga sekarang.
Adapun masyarakat Nagari Abai di Kabupaten Solok Selatan masih menjaga dan melestarikan tradisi ini. *)
Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























