Merupakan generasi zaman milenial dengan segala kemudahan yang mengiringi kehidupan mereka akibat pesatnya kemajuan teknologi –khususnya informasi. Mereka ini dimanjakan oleh teknologi. Cukup dengan sentuhan-sentuhan lembut, dunia sudah dalam genggaman mereka. Apapun keinginan bisa terwujud tanpa harus ke sana ke mari untuk mendapatkannya. Cukup tunggu di rumah, selesai semua
Inilah yang disebut dengan generasi layar sentuh. Dulu berawal dari Nokia pisang, berlanjut ke Black Berry, kemudian sekarang hampir semua hape (handphone) berbasis android memakai layar sentuh. Selain itu generasi ini disebut juga generasi metik (matic), generasi tanpa kopling. Di kehidupan yang datar oke, tapi saat mendaki masalah, emosi mereka lama stabilnya. Mereka gagap dan bermacam-macam pelampiasan mereka lakukan, seperti tawuran, dan perbuatan negatif lainnya.
Salah satu tanda generasi ini, mereka itu cuek, kayak bebek. Egepe, emang gue pikirin. Kalau boleh dibilang, hidup mereka cenderung individualistik. Mereka ini tidak bisa hidup tanpa hape apalagi kuota (internet). Sakau kalau kuota habis, meriang dan uring-uringan. Obatnya, mereka harus cepat-cepat mengisi paket atau pergi ke zona yang ada wifi gratis semisal cafe, mart dan lainnya. Duduk berlama-lama dengan modal sebotol / sekaleng minuman ringan.
Di sisi lain, generasi layar sentuh adalah generasi yang kreatif. Dari teknologi itu mereka menangkap peluang-peluang, apakah dalam bentuk bisnis maupun hiburan (entertain). Karena kebanyakan makanan fast food, otak mereka loading-nya lebih cepat, dan pertumbuhan badannya subur-subur dengan tungkai yang panjang-panjang. Komunitas-komunitas berbasis otomotif, seni dan hobi tumbuh bak cendawan di musim hujan. Dunia mereka adalah dunia swafoto (selfie). Kemudian di-share melalui media-media sosial.
Setiap generasi ada masanya, dan setiap masa ada generasinya. Tantangannya berbeda-beda. Generasi terdahulu mencemaskan generasi sesudahnya, begitu selanjutnya. Tapi yakin lah, secara alamiah setiap generasi itu punya cara untuk melakukan penetrasi. Ke depan kemajuan teknologi itu akan semakin pesat, tinggal bagaimana kita membentengi anak-anak, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara ini dengan pemahaman agama yang kuat. Sehingga kita lah yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
ISA KURNIAWAN
Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas)






















