Oleh : Khadafi Azwar
// forumsumbar //
WABAH virus corona atau Covid-19 saat ini sedang menghantam dunia, bahkan telah membuat kepanikan luar biasa para penghuni bumi Allah SWT ini.
Dalam kepanikan, sebagian orang masih mampu menenangkan orang lain, meskipun dirinya sendiri berada dalam kegalauan dan ketakutan, sama seperti yang dialami orang lain. Hanya saja ia lebih tenang menghadapi rasa takut itu, sehingga bisa melakukan aktivitas yang bermanfaat.
Wabah ini bukan hanya menghantam kesehatan manusia, tapi juga menghantam sendi-sendi perekonomian dunia, khususnya pada tataran usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah, sehingga banyak yang merasa ini bukan lagi ujian, melainkan hukuman Allah SWT.
Kondisi ini semakin diperparah dengan bertebaran berita hoaks, hujatan dan ujaran kebencian pada pengambil kebijakan, dari orang-orang yang tidak lagi memiliki rasa kemanusiaan.
Covid-19 diketahui memiliki penularan cukup cepat, melalui percikan ludah, yang di dalamnya mengandung lendir dimana epidemi ini berkembang, yang tanpa sengaja terpercik dari mulut seorang penderita, menempel di tangan lalu tanpa disadari kita memasukkan dalam rongga hidung, mulut atau telinga.
Untuk menghindari hal tersebut, kita sudah disarankan pengambil kebjikan untuk tidak meninggalkan rumah, agar mata rantai penyebaran bisa diputus, dan epidemi virus corona atau Covid-19 cepat teratasi.
Nah … di sini timbul permasalahan baru, tetap tinggal di rumah dengan konsekuensi mati usaha, atau abaikan anjuran pemerintah tetap berusaha dengan ancaman kematian, merupakan pilihan sulit, namun harus harus ada pilihan, dalam bayang-bayang ketakutan.
Pilihan teramat sulit ini mungkin tidak berlaku bagi jurnalis, karena pilihan terpahit harus dijalani, demi memberi informasi benar dan akurat pada seluruh lapisan masyarakat, tentang perkembangan hantaman Covid-19, mereka harus tetap keluar rumah dalam ancaman luar biasa penyebaran virus ini.
Dua pilihan sulit tersebut berkaitan dengan percepatan putusnya mata rantai penularan, kebijakan pemerintah untuk “merumahkan” warganya sudah cukup baik, namun masyarakat tetap ingin memenuhi kebutuhan hidup, dalam ancaman kematian.
Sekarang terpulang kembali kepada diri masing-masing, ikut saran pemerintah tidak keluar rumah dan memutus mata rantai penyebaran, dengan konsekuensi mati usaha, atau tetap keluar rumah dalam ancaman kematian. Allah hu alam bi sawab.
Penulis adalah :
Ketua Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumbar dan Pelaku Usaha























