
SETIAP PAGI, sebelum matahari benar-benar menghangatkan halaman Taman Budaya, seorang wanita separuh baya sudah sibuk membuka pintu warung kopinya.
Namanya Imas orang yang sering ke tempat itu memanggilnya Ayek.
Suami Ayek orang memanggilnya datuk karena gelar adat yang disandangnya di kampung. Di KTP Kardi namanya. Namun di Taman Budaya, ia lebih dikenal sebagai penjual kopi yang murah senyum dan sahabat para seniman.
Warungnya kecil. Dindingnya papan tua. Atap sengnya berbunyi nyaring setiap kali hujan datang. Di sudut warung berdiri sebuah rak berisi gelas-gelas kaca yang sebagian sudah buram dimakan usia.
Namun ada yang membuat warung itu berbeda dari warung-warung lain.
Penghuninya. Atau lebih tepatnya, anak-anak Uwo Kardi.
Pagi itu ia berdiri di depan warung sambil membawa baskom berisi nasi dan ikan.
“Bengkok!”
Seekor kucing kuning tua muncul dari bawah bangku.
“Keren!”
Kucing belang putih-hitam melompat dari atas meja.
“Beken!”
Seekor kucing gemuk berlari tergopoh-gopoh.
“Buyung! Dipo! Ucil! Cici!”
Satu demi satu mereka berdatangan.
Tujuh ekor semuanya.
Uwo Kardi tersenyum puas.
“Nah, lengkap.”
Dari dalam warung, Imas tertawa kecil.
“Kalau orang tak tahu, mereka kira kau sedang memanggil cucu.”
“Mereka memang cucuku.”
Imas menggeleng sambil menuang kopi.
“Kalau begitu aku niniaknya.”
Mereka tertawa bersama.
Uwo Kardi dan Imas sudah menikah lebih dari empat puluh tahun.
Empat puluh tahun menunggu tangisan bayi.
Empat puluh tahun berharap.
Empat puluh tahun menerima kenyataan.
Anak yang mereka tunggu tak pernah datang.
Pada tahun-tahun awal pernikahan, mereka masih sering mendatangi dukun, tabib, hingga dokter. Semua usaha dilakukan.
Namun Tuhan rupanya mempunyai jalan yang lain.
Lambat laun mereka belajar berdamai.
Luka yang semula menganga perlahan menjadi kenangan yang tak lagi berdarah.
Hingga suatu sore, seekor anak kucing kurus datang ke warung. Tubuhnya penuh kutu.
Bulu-bulunya kusut.
Ia makan sisa nasi di bawah meja.
Imas iba melihatnya.
Sejak itulah semuanya bermula.
Anak kucing itu diberi nama Bengkok karena ekornya patah.
Lalu datang Keren.
Kemudian Beken.
Menyusul Buyung, Dipo, Ucil, dan Cici.
Tanpa mereka sadari, rumah yang dahulu terasa sepi mulai dipenuhi suara-suara kecil.
Mereka tak lagi makan berdua.
Mereka makan bersama tujuh kucing yang selalu menunggu di sekitar kaki mereka.
Warung kopi Uwo Kardi menjadi bagian dari kehidupan Taman Budaya.
Penyair datang membaca puisi.
Pelukis berdiskusi tentang pameran.
Rizal Tanjung seorang tokoh teater yang tersisa berdebat soal naskah.
Semua mengenal Uwo Kardi.
Dan semua mengenal anak-anaknya.
“Mana Ucil?” tanya seorang penari yang selalu sebelum latihan mampir sekedar duduk atau memesan teh es segalas saja.
“Sedang mencuri ikan asin tetangga,” jawab Uwo Kardi.
Semua tertawa.
“Kalau Bengkok?”
“Sejak pagi tidur. Kerjanya pensiun.”
Bengkok yang mendengar namanya disebut hanya membuka satu mata lalu tidur kembali.
Warung itu hidup.
Penuh cerita.
Penuh tawa.
Penuh kenangan.
Namun hidup tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan.
Suatu pagi terdengar kabar bahwa kawasan Taman Budaya akan direnovasi.
Bangunan-bangunan lama akan dibongkar.
Termasuk warung-warung kecil di sekitarnya.
Kabar itu membuat wajah Uwo tidak muram seperti wajah wajah anak anaknya.
Ia duduk lama di depan cangkir kopi.
Tak seperti biasanya.
“Kalau warung dibongkar, kita bagaimana?” tanya Imas.
Uwo Kardi tak segera menjawab.
Matanya menatap halaman.
“Pulang kampung.”
Angin berembus pelan. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, masa depan tampak begitu samar.
Kesedihan itu belum selesai.
Suatu sore Bengkok tidak pulang.
Malam berlalu.
Bengkok tak muncul.
Hari berikutnya juga begitu.
Ayek mencarinya ke seluruh sudut taman.
Tak ada.
Ia bertanya kepada petugas kebersihan Satpam dan seniman yang masih berada di taman itu.
Tak ada yang tahu.
Imas mulai melihat perubahan pada suaminya.
Lelaki tua itu lebih banyak diam.
Ia sering memandang jalan masuk taman seolah menunggu seseorang.
Atau sesuatu.
“Barangkali Bengkok sedang berjalan-jalan,” hibur Imas.
Uwo Kardi tersenyum tipis.
Namun matanya tak mampu menyembunyikan kesedihan.
Bagi orang lain, Bengkok mungkin hanya seekor kucing.
Bagi Uwo Kardi, Bengkok adalah bagian dari hidupnya.
Hari pembongkaran akhirnya tiba.
Pekerja datang membawa alat.
Sebagian bangunan mulai diratakan.
Warung-warung kosong satu demi satu.
Uwo Kardi duduk di kursi kayu tuanya.
Di hadapannya, gelas-gelas yang selama puluhan tahun menemaninya telah dikemas dalam kardus.
Imas duduk di sampingnya.
Tak ada yang mereka katakan.
Kadang-kadang kesedihan memang terlalu besar untuk diterjemahkan menjadi kata-kata.
Lalu tiba-tiba terdengar suara pelan.
“Miauw…”
Uwo Kardi menoleh.
Jantungnya berdegup.
Di bawah pohon tua dekat pagar berdiri seekor kucing kuning kurus.
Bengkok.
“Bengkok!”
Uwo Kardi berdiri.
Air matanya langsung jatuh.
Bengkok berjalan mendekat.
Di belakangnya muncul tiga anak kucing kecil yang masih goyah berjalan.
Mereka mengikuti induk semang mereka dengan langkah pendek-pendek.
Imas menutup mulutnya.
Ya Tuhan…
Bengkok pulang.
Dan ia membawa kehidupan baru.
Sore itu para seniman berkumpul.
Mereka mendengar warung Uwo Kardi akan dibongkar.
Mereka juga melihat kebahagiaan yang baru saja datang.
Seorang pelukis meletakkan sebuah kotak.
Seorang penyair memasukkan sejumlah uang.
Seorang aktor menambahkan lagi.
Lalu yang lain ikut menyumbang.
Jumlahnya tidak besar.
Namun cukup.
Beberapa minggu kemudian sebuah gerobak kopi berdiri di sudut lain taman.
Lebih kecil dari warung lama.
Tetapi cukup untuk memulai kembali.
Di bawah gerobak itu Bengkok tidur bersama tiga anak kucing yang kini menjadi penghuni baru.
Ucil berlari-lari mengejar ekornya sendiri.
Beken sibuk meminta makanan.
Keren tetap berjalan dengan gaya angkuhnya.
Dipo muncul entah dari mana.
Buyung duduk di dekat Imas.
Dan Cici tidur dalam pangkuan perempuan tua itu.
Uwo Kardi menuang kopi ke dalam gelas.
Ia memandang keluarganya.
Lalu memandang langit sore yang perlahan memerah.
“Tuhan memang tidak memberi kita anak dari darah sendiri, Mas.”
Imas menoleh.
“Tapi Dia tak pernah membiarkan rumah kita sepi.”
Imas tersenyum.
Tangannya mengusap kepala Cici.
Di bawah cahaya senja, suara kucing-kucing kecil bercampur dengan aroma kopi yang mengepul hangat.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Uwo Kardi merasa hidupnya lengkap.*)
Bawah Janjang 6 Juni 2026























