
PADANG, forumsumbar —Forum Perjuangan Seniman (FPS) Sumatera Barat kembali menggelar diskusi budaya dengan tema; Seniman dan Taman Budaya, dengan narasumber Prof Dr Harris Effendi Thahar, MPd dan Ery Mefri, SPd, serta moderator Dr Hermawan, MHum, bertempat di galeri Taman Budaya Sumatera Barat, Jl Diponegoro, Padang, Sabtu (27/1/2024).
Dalam pemaparannya, Prof Harris menawarkan kepada puluhan peserta diskusi yang hadir, yang terdiri dari para budayawan, seniman dan wartawan, untuk membentuk wadah permanen semisal Dewan Kesenian atau Dewan Kebudayaan baru yang independen, tanpa harus bergantung kepada pemerintah, kecuali menerima hibah, namun memiliki bargaining position (posisi tawar).
Disampaikan Prof Harris bahwa ia pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Sumatera Barat (DKSB) selama tiga tahun pada periode 2008-2011, dan setelah itu organisasi DKSB mati suri sampai sekarang, sudah 13 tahun lamanya.
“Keberadaan FPS sudah sangat tepat. Tanpa FPS, siapa lagi yang peduli dengan keberlangsungan seni dan budaya di Ranah Bundo ini? DKSB sudah lama tenggelam, atau ditenggelamkan. Hari ini kepada FPS saya tawarkan sebuah pepatah lama: tertumbuk biduk dikelokkan, tertumbuk kata dipikiri,” ujarnya.
Apapun model keorganisasian Dewan Kesenian atau Dewan Kebudayaan yang akan dibentuk, Prof Harris mempersilahkan FPS mendiskusikannya lebih lanjut.
Lanjut Prof Harris, karena menyebut Sumatera Barat tentulah bukan sekadar Kota Padang. “Saya berharap, FPS juga mengundang para seniman di lingkup Sumatera Barat, termasuk Kepulauan Mentawai tentunya,” tukasnya.
Mengenai Taman Budaya, Prof Harris yang sempat menikmati masa-masa jayanya, menyampaikan bahwa dulu Kepala Taman Budaya itu di penghujung tahun selalu mengundang seniman untuk berembuk, menyusun program Taman Budaya untuk setahun ke depan.
“Sekurang-kurangnya, ada sepuluh bulan dirancang kegiatan bulanan berupa pertunjukan seni, pameran, diskusi dan seminar yang dibiayai oleh anggaran Taman Budaya,” tuturnya.

“Taman Budaya tidak pernah sepi pada masa itu. Selain kegiatan terjadwal, sanggar-sanggar seni, semisal tari, teater, musik, baca puisi, lukis dan rupa, selalu hidup sepanjang hari,” tukuk Prof Harris.
Kemudian Prof Harris membandingkan dengan situasi sekarang dengan mangkraknya pembangunan gedung kebudayaan Zona B dan C di Taman Budaya Sumatera Barat.
“Tanpa disadari, sekarang terasa tidak terlihat regenerasi seniman di Sumatera Barat. Apakah disebabkan oleh dampak berubahnya suasana dan surutnya fungsi Taman Budaya, atau terbengkalainya pembangunan gedung kebudayaan itu?” tanya Prof Harris.
Saat ini, terasa adanya kehilangan ruh kreativitas berkesenian dan terputusnya regenerasi berkesinambungan di Taman Budaya.
Memang betul, kata Prof Harris lagi, Taman Budaya bukanlah tempat satu-satunya untuk berkarya. Namun, karya seni apapun wujudnya, adalah hasil dari suatu proses yang intens pada tempat yang memberi ruang bagi tumbuhnya kreativitas.

Tidak ada suatu karya seni yang instan, karena, sebut Prof Harris, karya seni bukan keluaran pabrik, melainkan hasil kreasi dari seorang kreator yang memerlukan kecerdasan, perjuangan, ketabahan, bahkan kesabaran, yang akhirnya membuahkan sesuatu yang disebut sebagai hasil akhir (outcome).
“Untuk lebih terang, saya harus menjadikan Ery Mefri (Maestro Tari Minang ; Red) sebagai role model. Dalam proses yang dialaminya hingga sekarang tidak lah semulus yang kita bayangkan,” kata Prof Harris, sambil melihat ke Ery Mefri yang duduk bersamanya di depan.
Dengan pesatnya perkembangan zaman, masuk ke era digital, juga merambah ke bidang kesenian, dan Prof Harris mengusulkan perlunya silaturahmi seniman antar generasi. “Barangkali pencerahan itu akan lahir dari silaturahmi antar sesama seniman, termasuk dengan seniman antar generasi,” ucapnya.
Pada kesempatan diskusi budaya tersebut, turut hadir Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Jefrinal Arifin yang baru 10 hari dilantik, didampingi Kepala UPT Taman Budaya dan Kepala UPT Museum, serta puluhan seniman, wartawan dan mahasiswa.
(ika)























