PADANG, forumsumbar —Media jangan mudah saja memberikan kartu pers kepada seseorang tanpa ada referensi yang kuat terhadap penguasaan orang tersebut dalam hal ilmu kewartawanan, atau jurnalistik.
Pesatnya perkembangan teknologi, dan masuknya era digitaliasi, mengharuskan wartawan untuk terus meningkatkan kapasitasnya. Makanya perlu diperbanyak pelatihan-pelatihan kewartawanan agar bisa meningkatkan pengetahuan dan kompetensi wartawan, yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal itu disampaikan Heranof Firdaus, mantan Ketua PWI Sumbar, yang saat ini menjadi Pemred minangsatu.com, saat menjadi narasumber di acara diskusi yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumbar dengan tema “Media di Era Digital“, Rabu (10/8), di Sekretariat IWO Sumbar di GOR H Agus Salim Padang.
“Ada kerjaannya yang dulunya mengasah batu cincin, tetapi karena sudah tidak laku lagi, dengan enaknya ia berkata sekarang telah beralih menjadi wartawan dengan mendapatkan kartu pers dari media. Jadi kesannya ia menjadi wartawan itu sebagai pelarian saja,” ujar Heranof.
Lanjut Heranof lagi, banyak juga wartawan saat ini yang belum membekali diri dengan ilmu jurnalistik. Untuk itu frekuensi pelatihan wartawan harus banyak. Kalau tidak dapat di pelatihan, wartawannya yang mencari sendiri bagaimana ilmu jurnalistik itu. “Dengan adanya peningkatan kapasitas, tentunya akan menumbuhkan kepercayaan publik,” tukasnya.
Kalau di PWI, kata Heranof, ada proses yang dilakukan untuk seseorang itu menjadi anggota. Didahului dengan pembekalan melalui KLW Dasar dengan Uji Kompetensi untuk menjadi Anggota Muda, dan setelah itu baru KLW Lanjutan agar bisa menjadi Anggota Biasa.
Makanya seorang wartawan harus berkompeten, jelas organisasi tempat bernaungnya, dan memahami kode etik yang ada. “Ilmu jurnalistiknya ada, organisasi jelas, dan menguasai kode etik jurnalistik. Ini baru namanya wartawan,” pungkas Heranof, yang merupakan pensiunan RRI Padang.
(Ika)






















