PADANG, forumsumbar —Dengan akan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Kabupaten Solok Selatan, akan terjadi surplus listrik sebesar 70 MW. Untuk itu dingatkan agar Pemprov Sumbar sudah harus menyiapkan rencana mau diapakan kelebihan tersebut.
Demikian disampaikan General Manager (GM) PT PLN (Persero) Unit Wilayah Sumbar Bambang Dwiyanto dalam pemaparannya sebagai narasumber di acara diskusi publik dengan tema “Sumbar dan Energi Baru Terbarukan” yang diadakan oleh Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumbar bekerja sama dengan Komunitas Pemerhati Sumbar (Kapas).
Dikatakan Bambang, PLTP di Solok Selatan yang dibangun PT Supreme Energy Muara Laboh tersebut akan menghasilkan listrik sebanyak 86 MW. Rencana 6 MW untuk operasional di lingkungan pembangkit dan 10 MW dipakai oleh Kabupaten Solok Selatan. Jadi surplus sebanyak 70 MW. Listrik yang ini akan masuk ke jaringan nasional di Sungai Rumbai.
Energi listrik yang berlebih tersebut hendaknya dapat dimanfaatkan oleh Kabupaten Solok Selatan khususnya dan Provinsi Sumbar umumnya. “Jangan sampai listrik tadi lari ke provinsi tetangga, karena di Sumbar tidak digunakan. Inilah yang perlu disikapi,” tegas mantan Manager Komunikasi PT PLN itu.
Begitu juga dengan EBT, disampaikan Bambang bahwa PT PLN sangat konsen sekali dengan pengembangannya. Misalnya di Mentawai, PT PLN membangun kerja sama dengan perusda yang mengelola PLTBm tersebut dengan membeli listrik yang diproduksi. Kemudian membangun jaringan ke rumah-rumah warga.
Untuk biaya pasang baru di 3 desa di Pulau Siberut Mentawai itu, PT PLN melalui Corporate Social Responsibility (CSR) menggratiskan biayanya. “Pokoknya PLN siap bekerja sama dengan pemerintah daerah agar masyarakat bisa menikmati listrik yang murah dan berwawasan lingkungan,” ujar Bambang.
Di samping GM PT PLN Unit Wilayah Sumbar Bambang Dwiyanto, ikut menjadi narasumber M. Jonedi, Wakil Ketua Bidang Energi Kelistrikan Kadin Sumbar, kemudian Dekan Fakultas Teknik Unand Insannul Kamil serta Kepala Bappeda Kabupaten Kepulauan Mentawai Naslindo Sirait.
Diskusi ala cafe yang laksanakan IWO Sumbar itu, di samping dihadiri puluhan wartawan media cetak, elektronik dan online, juga dihadiri mahasiswa dari jurusan elekro universitas yang ada di Padang. (Rel)























