PADANG PARIAMAN, forumsumbar —Pondok Pesantren Bustanul Yaqin yang berlokasi di Nagari Punggung Kasiak, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, saat ini memperlihatkan perkembangan yang signifikan.
Hal itu diungkapkan oleh Anggota DPD RI H Leonardy Harmainy Dt Bandaro Basa, S.IP, MH saat menghadiri pemberian ijazah, pengalungan selempang serta medali kepada 12 lulusan tingkat wustha (setingkat tsanawiyah) dan pemberian piagam 25 orang hafiz quran di pesantren Bustanul Yaqin, Rabu (23/12).
“Tidak salah para santri dan orang tua memilih tempat pendidikan. Pimpinannya seorang doktor dan ada tiga pengajarnya yang bergelar doktor, dan 7 bergelar magister. Ini satu-satunya pondok pesantren di Padang Pariaman yang dipimpin dan diajar doktor, bahkan di Sumbar,” ujar Leonardy.
Pengajarnya Dr Rahmat Tuanku Sulaiman juga Ketua Baznas Kabupaten Padang Pariaman. Menurut Leonardy, tidak mungkin menjadi Ketua Baznas jika bukan orang yang amanah, jujur dan visioner. Visioner adalah orang-orang yang memiliki jiwa kepemimpinan dengan pandangan jauh ke depan melebihi yang lainnya.
“Untuk itu, kita harapkan para santri Bustanul Yaqin bercita-cita menjadi ulama besar, tuanku yang mampu kuliah di kampus ternama dan menjadi jaksa, hakim dan bekerja di lembaga negara atau menjadi pimpinan lembaga di negara ini. Dan yakinlah mereka yang memiliki kekuatan iman dan ilmu yang kuat bakal terjauh dari perilaku korupsi,” tegasnya.
Kepada santri, orang tua, ulama, tuanku, tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan yang hadir di acara itu, Leonardy mengungkapkan bahwa dirinya adalah Pembina Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-ringan yang didirikan Syekh H Ali Imran Hasan dan Pondok Pesantren Bustanul Yaqin. Karena sudah ada 22 cabang dari pondok yang memakai kata yakin ini, maka bertambah pula tugasnya untuk melakukan pembinaan.
Leonardy juga memberikan penegasan saat ini santri sudah mendapatkan pengakuan dengan lahirnya UU No 18 Tahun 2019 tentang Pondok Pesantren. Dalam peringatan Hari Santri pada 22 Oktober 2020 mengambil tema “Santri Sehat Indonesia Kuat“.
Artinya, lanjutnya, agar negara kita kuat, maka santrinya harus sehat. Dan pada hari ini, 23 Desember 2020 kita menyaksikan 12 santri tingkat wustha dan 25 santri yang hafal Alquran.
Dengan undang-undang itu, pondok sama kedudukannya dengan lembaga pendidikan umum. Bisa mendapat bantuan biaya operasional dan lainnya dari APBD dan APBN. Jadi bukan hanya dari Kementerian Agama seperti selama ini.
“Pejabat pemerintah dan Anggota DPRD Kabupaten Padang Pariaman diharapkan dapat mengalokasikan anggaran buat pesantren di daerah ini,” pesannya pada staf ahli bupati dan anggota DPRD Padang Pariaman.

Sebelumnya, Pimpinan Pondok Bustanul Yaqin, Dr Zainal Tuanku Mudo memaparkan kemajuan yang dicapai oleh pondoknya. “Alhamdulillah di pondok pesantren kita memiliki 3 pengajar setingkat S3, dan 7 orang magister. Dengan potensi ini, kita berharap lecutan ilmu para santri kita lebih baik,” harapnya.
Dia menyatakan doktor dan magister ada yang tamatan pesantren dan umum. Kolaborasi ini diharapkan memberikan warna kepada keilmuan santri.
Zainal menginformasikan pondok telah menggalang kerjasama dengan UNP, dimana Rektor UNP, Prof Ganefri dalam kunjungannya ke Bustanul Yaqin memberikan kesempatan kepada 10 santri yang hapal Alquran diterima di UNP pada tahun 2021 nanti.
“Pondok telah lama memotivasi yang sudah melewati kelas empat, bisa mendapat peluang lompat ke kelas tujuh dalam hal pelajaran pondok jika sudah hafal Alquran 4 juz. Memenuhi standar kemampuan kitab kuning, memiliki akhlak dan budi pekerti, punya jiwa kepemimpinan dan lulus pengabdian. Makanya santri yang sudah hapal 5 juz dan 8 juz, berkesempatan melompat ke kelas tujuh,” ujarnya menyemangati santrinya untuk giat menghapal Alquran.
Namun Zainal juga tak menampik kekurangan fasilitas penunjang seperti ruang lokal dan asrama. Diungkapkannya, pada tahun pelajaran 2021 ini pondok tidak bisa menerima semua calon santri. Dari 56 orang yang mendaftar, hanya 30 orang yang diterima. Itu pun termasuk santri yang harus diterima lantaran melihat kesungguhannya untuk menjadi santri.
Kakan Kemenag Sumbar yang diwakili Drs H Refrison, MAg juga menyebutkan lulusan pesantren sudah memiliki kesempatan yang sama. Dikatakannya dengan adanya UU No 18 Tahun 2019 tentang Pondok Pesantren, berarti pondok sudah duduk sama rendah tegak sama tinggi dengan lembaga pendidikan umum.
“Santri hendaknya bisa menjadi agen perubahan sosial di masyarakatnya. Untuk itu, kepada orang tua hendaknya selalu memotivasi, selalu doakan anak kita setelah salat untuk kesuksesannya,” ujarnya.
Refrison juga menyebutkan, Kantor Kemenag Sumbar tengah mendata potensi pondok pesantren di Sumbar. Kini Sumbar memiliki 226 pondok pesantren dan sekitar 8000 orang santriwan/santriwati.
Bupati Padang Pariaman yang diwakili staf ahli, Drs Anwar, MSi mengapresiasi Pondok Bustanul Yaqin yang satu-satunya pondok yang dipimpin oleh tuanku yang sudah bergelar doktor. Pengajarnya pun juga menjabat Ketua Baznas Padang Pariaman yakni Dr Rahmat Tuanku Sulaiman. Sejarah juga bahwa Baznas Padang Pariaman dipimpin oleh seorang tuanku yang juga bergelar doktor.
Dalam kesempatan tersebut, Anwar menyebutkan pesan-pesan Bupati dan Wakil Bupati Padang Pariaman kepada hadirin. Termasuk mengingatkan akan bahayanya virus corona dan bagaimana mencegah penularannya lewat gerakan memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak.
Acara itu dihadiri Anggota DPRD Padang Pariaman Hasan Basri, S.PdI, Ketua Baznas Padang Pariaman Dr Rahmat Tk Sulaiman, MM, Kasi Pontren Padang Pariaman Drs H Petrison Efendi, Pimpinan Pesantren se-Kabupaten Padang Pariaman Drs Syarbaini.
Di hadapan mereka, santri Jefriyanto menampilkan kebolehannya berpidato berbahasa Arab. Sementara Asadatil Abadiyah Rahmah menampilkan pidato berbahasa Inggris. Juga ada penampilan tari indang yang dimainkan santriwati Bustanul Yaqin.
(Rel/Zul)























