PADANG, forumsumbar —Kecintaannya terhadap Kalam Ilahi, Alquran seakan meruntuhkan logika manusia biasa. Dengan tekad dan keyakinan yang begitu kuat, bahwa kuasa Sang Pencipta Allah SWT melebihi apapun.
Tanpa keraguan, salah seorang peserta Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) ke-XXVIII utusan Provinsi Kalimantan Utara yang berdomisili di Sulawesi Tengah rela menempuh ribuan kilometer mengendarai sepeda motor untuk mengikuti MTQN di Kota Padang.
Adalah sepasang suami istri, Hasan CL Bunyu (44 thn) dan istrinya Nining R Rusdin Wakiden (29 thn), dimana Hasan rela membonceng sang istri menempuh jarak yang teramat jauh.
Penelusuran pada aplikasi Google Map setidaknya menunjukkan jarak tempuh sejauh 3700 KM. Bahkan jarak sejauh ini ditempuh dengan sepeda motor biasa berkapasitas mesin 110 cc, bukan motor gede (moge).
Dari rilis MMC Diskominfo Sumbar, Senin (16/11), dimana pihaknya berkesempatan mewawancarai langsung Hasan ketika mendampingi sang istri mengikuti MTQN Cabang Seni Kaligrafi Alquran di GOR Universitas Negeri Padang (UNP).
Dikatakan Hasan, perjalanan yang ditempuh selama 16 hari itu sempat menemui kendala, seperti buruknya cuaca dan sebagainya.
“Bahkan gara-gara menembus lebatnya hujan di tengah malam, kami sempat nyasar sekitar 5 jam di daerah Muko-muko,” ungkapnya.
Tak hanya itu, perjalanan Hasan dan istri juga sempat berada di bawah bayang-bayang begal di jalan lintas Sumatera.
“Kami sempat dikejar begal, namun ditolong oleh 4 mobil CPO sampai ke tempat yang aman, Alhamdulillah,” ujar Hasan mengisahkan.
Meski demikian, dia mengakui begitu banyak kabaikan masyarakat yang ditemui di sepanjang perjalanan.
“Sepanjang jalan mulai dari Lampung sampai kemaren di Mandeh, itu berapa kali kami ditolong orang. Bahkan tempat tinggal kami sekarang dibantu oleh masyarakat di sini,” terang Hasan.
Pertanyaannya adalah kenapa mereka harus mengendarai sepeda motor sejauh itu? Barangkali jawabannya bisa bervariasi. Apakah karena wabah Covid-19, adanya nazar tertentu ataupun berbagai penyebab lainnya.
Namun satu hal yang pasti, bahwa panggilan Alquran telah menguatkan tekad mereka untuk menempuh suatu kebaikan.
Semua masih teringat, bagaimana ribuan santri Ciamis berjalan kaki menuju DKI Jakarta pada Aksi 212 empat tahun silam. Jika Allah berkehendak, tak ada yang mustahil.
Sungguh, begitu sulit membayangkan bagaimana perjuangan dua sejoli ini. Semoga suatu saat kelak, ketika Allah SWT berkehendak, mereka tetap bejalan beriringan, berboncengan hangat keharibaanNYA. Aamiin.
(Rel/KominfoSB)
























