JAKARTA, forumsumbar ––Upaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) yang dimotori Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) membangun ekosistem reka cipta menjadi lompatan baru dalam pemulihan ekonomi nasional di masa pandemi Covid-19 perlu diapresiasi.
Apalagi gerakan ini melibatkan pentahelix termasuk diaspora, perguruan tinggi, dunia industri, serta media.
“Namun demikian, semua itu perlu ada pembahasan skala prioritas terkait teknologi atau inovasi apa yang paling dibutuhkan dan bernilai ekonomi sehingga bisa digarap secara fokus oleh inovator bersama investor atau industri serta benar-benar berdampak bagi perekonomian,” ujar Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat Yuliandre Darwis, Sabtu (12/9).
Yuliandre yang tengah nonaktif mengajar di Universitas Andalas karena terpilih kembali sebagai komisioner lembaga negara ini, mencontohkan ketika pandemi, banyak lahir berbagai reka cipta yang memang sangat dibutuhkan bagi dunia kesehatan, seperti ventilator, alat pemeriksa PCR, masker dan alat pelindung diri (APD) tenaga medis dalam penanganan pasien Covid-19.
Dengan adanya karya karya dari perguruan tinggi tersebut, maka impor alat-alat kesehatan jadi berkurang dan bisa menghemat devisa negara. Dari sisi harga juga menjadi lebih murah dan bisa pula diekspor.
“Maka, saya sangat mengapresiasi Pak Presiden yang cepat respons dengan meminta agar hasil reka cipta dalam negeri itu bisa diproduksi massal. Izinnya juga dipercepat. Semoga ini jadi penggerak kebangkitan inovator dalam negeri,” ujar Ketua KPI Pusat periode 2016-2019 ini.
Menurut Yuliandre, selama ini hasil penelitian para peneliti di Indonesia sebetulnya sangat banyak. Namun sering tidak ditindaklanjuti atau tidak dikembangkan di dalam negeri karena berbagai kendala. Di sisi lain, banyak pula yang justru digarap oleh industri di luar negeri.
Tentu hal ini, sebutnya, menjadi tantangan bagi kita semua, termasuk tantangan bagi semua media untuk mendukung berbagai pertumbuhan reka cipta sebaik mungkin.
Yuliandre mencermati bahwa kendala yang ada saat ini di antaranya adalah belum link and match atau belum terciptanya kolaborasi antara inovator dan industri, perizinan serta pengaruh dari sisi persaingan bisnis.
“Sekarang dengan adanya komitmen kuat dari pemerintah yang dalam hal ini ditindaklanjuti Ditjen Pendidikan Tinggi, maka kendala yang dihadapi para peneliti selama ini bisa teratasi. Apalagi jika nantinya sudah ada ekosistem reka cipta yang mengakomodir hasil-hasil karya anak negeri lewat program Kampus Merdeka,” tukas mantan Presiden Komisi Penyiaran Sedunia (IBRAF) ini.
Komitmen itu, kata Yuliandre, juga memberikan harapan sekaligus tantangan bagi perguruan tinggi agar bisa melahirkan lulusan yang inovatif dan semangat kompetitif. Dari sisi industri termasuk industri penyiaran juga mesti memberi ruang yang baik bagi perguruan tinggi dan industri untuk bersinergi, saling proaktif mengangkat karya reka cipta yang dihasilkan.
(Rel/Heri)























