PADANG, forumsumbar ––Guna menekan laju penambahan kasus positif Covid-19 di Sumbar, Gubernur Irwan Prayitno memastikan pemprov bersama DPRD Sumbar segera akan mengesahkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Adaptasi Kebiasaan Baru.
“Kita sudah ada pergub, perwako maupun perbup, semuanya dalam konteks sanksi administratif. Ternyata tidak efektif untuk membiasakan dan memaksa masyarakat mengikuti protokol kesehatan. Untuk itu Insyaallah tanggal 11 September 2020 bersama DPRD, kita akan sahkan perda ini,” ujar Gubernur Irwan pada Konferensi Pers terkait perkembangan Covid-19 Provinsi Sumbar yang digelar di ruang rapat Kantor Gubernur, Selasa (1/9).
Dikatakan gubernur, dalam perda yang dibahas secara maraton ini, terdapat sanksi yang bersifat mengikat dimana nantinya tetap akan disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat luas.
“Akan ada sanksi berupa denda dan kurungan, berapa besaran denda dan lamanya itu nanti akan diatur, sekarang masih dibahas di DPRD, ini penting untuk membiasakan masyarakat dengan kebiasaan baru,” ungkapnya.
Sebelumnya Gubernur Irwan juga memastikan selama vaksin belum ditemukan, penambahan kasus positif akan tetap ada. Namun pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus memaksimalkan seluruh potensi yang ada.
“Semua sudah berjalan on the track. Testing, tracking, isolasi dan karantina tetap berjalan, termasuk penyediaan fasilitas rumah sakit,” jelasnya.
Disinggung tentang penambahan kasus positif dalam beberapa hari terakhir, gubernur mengatakan bahwa secara keseluruhan Provinsi Sumbar masuk dalam kategori sedang.
“Kalau zona, untuk hari ini tinggal Mentawai yang zona hijau. Zona merah itu sudah masuk Kota Padang dengan resiko tinggi,” ujarnya.
Meski demikian dari beberapa indikator pengendalian, tutur gubernur, seperti testing rate, incident rate maupun positive rate, Sumbar cenderung masih terkendali. Bahkan positive rate masih terendah se-Indonesia.
“Walaupun positif bertambah banyak, tapi positive rate 2,16%, dengan kata lain paling rendah secara nasional,” ucapnya.
Indikator lainnya adalah tingginya kapasitas pemeriksaaan spesimen laboratorium di Sumbar. Dimana dengan keterbatasan sumber daya, angka testing rate Sumbar berada di bawah DKI Jakarta yang notabene merupakan ibukota negara yang mempunyai peralatan super lengkap.
Meski selisih sedikit, data pemeriksaan dari Laboratorium Fakultas Kedokteran Unand menunjukkan, jumlah sampel dalam satu hari nomor dua terbanyak setelah DKI Jakarta.
“Laboratorium kita bisa menerima dan memeriksa spesimen di atas tiga ribuan dalam satu hari,” pungkasnya.
(Rel/Kominfo-SB)























