Oleh : Yosmeri
//forumsumbar//
“SAYA akan menuntaskan jabatan sampai akhir periode,” itulah kira-kira ungkapan menggelegar Mahyeldi Ansharullah pada debat kandidat Calon Walikota Padang dua tahun lalu di sebuah ballroom hotel di Kota Padang.
Video ungkapan itu, rekaman digitalnya termuat di berbagai media sosial. Kini Mahyeldi dikabarkan maju Cagub Sumbar berpasangan dengan Audy Joinaldy ke Pilkada Sumbar 2020 ini. Kabarnya lagi, Mahyeldi-Audy diusung PKS-PPP.
Majunya Buya, panggilan akrab Mahyeldi, ke Pilkada Sumbar dengan jabatan Walikota Padang masih tiga tahun lagi menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat, terutama soal rekaman gambar dan suara Buya saat debat kandidat dulu itu.
Rekam jejak digital itu menjadi perdebatan netizen di jagad dunia maya.
Penulis melihat ini sebuah kealpaan belaka dari seorang Buya. Saat berkampanye bisa saja Mahyeldi lupa dengan Buya-nya. Atau waktu itu Buya Mahyeldi mungkin menjadi aktor politik negeri untuk meyakinkan konstituennya.
Hasilnya kita semua tahu Mahyeldi-Hendri Septa menang dan menjadi Walikota dan Wakil Walikota Padang periode 2018-2023.
Bagi penulis sah saja saat itu Mahyeldi lupa, tapi ketika ini diuber lagi dan menjadi gunjingan netizen memang perlu kelegowoan seorang Buya Mahyeldi menyikapinya. Cuitan metizen pun sah saja terjadi, dalam konteks kebebasan berpendapat. Oke aja tuh.
Selama gunjingan netizen berseliweran di jagad dunia maya, tidak sekalipun Buya Mahyeldi ikut meluruskan atau mengklarifikasi. Tapi di beberapa media online bisa dibaca kalau maju ke pentas Cagub Sumbar karena Mahyeldi diperintah partainya PKS.
Artinya, kealpaan seorang politisi berbrevet Buya pada ucapan penutup saat debat kandidat itu sebuah keteledoran. Kalau boleh jujur mungkin sudah banyak yang ingin menghapus rekam jejak digital itu, tapi ini era digital tidak manual. Ketika dia viral, dihapus satu, di konten lain dipastikan muncul lagi.
Jadi sangat tepat kalau ungkapan saat debat di Pilkada Padang lalu itu Mahyeldi alpa atau khilaf. Atau bisa saja Mahyeldi tidak punya cita-cita maju menjadi pemimpin lebih atas lagi seperti gubernur, waktu itu.
Tapi sudahlah, rekam digital tetap menjadi hal yang menarik diumbar netizen apalagi agenda pilkada saat ini, seperti detik-detik cinta menyentuh. Buya adalah Buya dan politisi tetaplah politisi.
Sekedar sebutan untuk awal
nama boleh saja, tapi dalam prakteknya antara Buya dan politisi sangat bertolak belakang.
Akhirnya benar juga kata Nikita Khrushchev, Uni Soviet. “Para politisi sama saja di dunia ini. Mereka berjanji membangun jembatan, padahal di tempat itu tidak ada sungainya”.
Hhmm ya sudah, kopi kental makin enak dinikmati jelang ke peraduan malam ini.
Penulis adalah Pengamat Politik / Mantan Anggota DPRD Sumbar
























