Meski hanya tiga tahun berkuasa (dari 717 hingga 720 M) namun Khalifah Umar bin Abdul Aziz hingga kini masih dikenang dengan kemuliaan akhlak serta tauhidnya. Semua rakyatnya yang berada dalam lindungan Dinasti Umayyah hidup sejahtera. Bagi Umar, jabatan adalah ujian. Ia sempat minta dibatalkan amanah khalifah yang diberikan kepadanya. Namun umat serentak mendukungnya: uruslah kami dengan kebaikan dan keberkatan!
Begitulah pemimpin sejati. Ia tak haus kekuasaan, apalagi mengejar jabatan dan kedudukan dengan menghalalkan segala cara. Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah salah seorang teladan kepemimpinan yang ideal bagi umat Islam setelah junjungan ummat, Muhammad Saw.
Menurut Dr Syauqi, Khalifah Umar adalah seorang tokoh yang peduli lingkungan dengan menghijaukan kawasan-kawasan gersang. Maka lengkaplah pada diri Khalifah Umar, akhlak terhadap Allah Swt, akhlak terhadap sesama manusia dan akhlak terhadap alam.
Jejak rekam kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz di Dinasti Umayyah yang juga sering dikenang dan ditulis para ahli Sejarah Peradaban Islam (SPI) adalah soal pemberantasan nepotisme: sebuah paham yang menurunkan kekuasaan kepada sanak saudara meskipun tidak cakap dalam memimpin. Khalifah Umar tidak memberikan kekuasaan kepada sanak saudara. Ia melandasi pemberian kekuasaan kepada yang mampu dan loyal terhadap ummat, yang memahami kekuasaan adalah amanah untuk dijalankan bukan untuk menumpuk harta.
Di awal kepemimpinannya, dengan berani mengeluarkan surat pemberhentian terhadap saudara-saudaranya yang menjadi pejabat penting kekhalifahan diberbagai level. Ia juga mengeluarkan larangan berbisnis bagi keluarga khalifah. Menyaksikan hal itu, penasehat Khalifah bertanya:”Apakah Anda tidak takut dimusuhi mereka, wahai Amirul Mu’ minin? Mereka telah terbiasa mendapat fasilitas sejak zaman awal Dinasti Umayyah. Kini mereka kehilangan segala sumber kekayaan duniawi akibat tindakan Anda. Mereka pasti menantang Anda.”
“Saya lebih takut dimurkai Allah Swt. dan melanggar Sunnah Rasulullah Saw. Azab Allah terhadap hamba yang membangkang kepadaNya dan menentang Sunnah Rasulullah Saw lebih berat dari pada ancaman manusia yang kehilangan fasilitas tidak sah.”
Tidak, wahai penasehatku, tegas Umar lagi, “Aku tidak takut oleh kebencian manusia-manusia yang zalim terhadap rakyat. Justru aku lebih takut oleh doa rakyat yang dizhalimi dan merasa diabaikan haknya olehku sebagai pemimpin mereka,” tegas Khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Bercermin kepada Sejarah
Sosiolog Islam, Ibnu Khaldun dalam magnum opus-nya, Muqaddimah memaparkan secara panjang lebar kehancuran seseorang, kelompok (al-‘Ashabiya), bangsa-negara karena kekuasaan yang zhalim. Zhalim (sangat jahat) terhadap ummat yang dipimpin, terhadap diri dan keluarga, juga terhadap lingkungan.
Perlakuan zhalim tersebut baik sengaja maupun tidak disengaja oleh seseorang maupun sekelompok orang yang sedang berkuasa demi mengumpulkan harta, melanggengkan tahta bahkan untuk mendapatkan wanita.
Hidup memang penuh godaan, apalagi bagi seorang pemimpin yang mudah dipengaruhi oleh sanak saudara untuk
mendapatkan sesuatu yang menguntungkan.
Hal inilah yang sering membuat seseorang tergelincir dari kursi kekuasaannya. Lupa diri dan nafsu kuasa berlebihan akan membuatnya lepas dari tampuk kekuasaan.
Pelajaran penting dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah kemampuan untuk zuhud (tidak terlalu mementingkan harta kekayaan untuk diri), tawadu’ (rendah hati, tidak pongah dan sombong), istiqomah (berpendirian kuat, teguh pendirian, wara’ (meninggalkan setiap perkara syubhat dan masih samar) dalam memimpin. Ia punya kuasa menjauhi segala godaan sehingga ia dicintai ummatnya sepanjang waktu serta dikenang belasan abad sesudahnya.
Pelajaran tentang kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz ini, sudah sering kita dengar, sudah tak asing bagi pemimpin-pemimpin kita. Namun menjalani kepemimpinan seperti Umar sudah kian sulit ditemukan.
Sikap korup, kolusi dan nepotisme (KKN) tetap berlangsung di sebagian kalangan para pemimpin di negeri ini. Mulai dari level paling tinggi hingga paling rendah. Mulai dari pusat hingga daerah. Kenapa? jawaban paling mungkin adalah, godaan berkuasa ternyata bisa sangat besar dari iman yang ada di dada.
Jika saja iman di dada lebih besar dan kuat dari godaan maka seorang pemimpin yang mau dikenang sepanjang kehidupan akan menolak seluruh bentuk godaan yang akan menjerumus nama baik kepemimpinannya. Nepotisme adalah laku buruk yang akan memuluskan tindakan korup dan kolusi. Ketiganya, setali tiga uang. Jika didekati, dilakukan, maka akibatnya akan buruk bagi yang diberi maupun yang memberi. Juga buruk pada ummat yang dipimpinnya. Kehancuran biasa berangkat dari sini.
Semoga kita bukan bagian dari orang-orang diberi godaan oleh nafsu kuasa yang berlebihan membawa kehancuran, namun kita juga tak ingin hancur karena ulah mereka untuk itulah kita mesti memperingatkan. Sadarlah wahai pemimpin, jangan dekati nepotisme!
Penulis : Wiztian Yoetri / Wartawan Utama























