
Oleh: Zahrul Umar
(Dosen FTSP Universitas Bung Hatta / Alumni S3 UTM Malaysia)
PARIAMAN merupakan salah satu kota pesisir di Provinsi Sumatera Barat yang dikenal dengan keindahan pantainya serta kekayaan budaya dan nilai religius masyarakatnya.
Dalam rangka mengembangkan potensi pariwisata sekaligus memperkuat identitas Islam sebagai agama mayoritas, Pemerintah Kota Pariaman berinisiatif membangun Masjid Terapung di Kota Pariaman.
Masjid ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi masyarakat lokal dan wisatawan yang berkunjung ke Kota Pariaman, tetapi juga menjadi ikon baru yang menunjang daya tarik pariwisata Kota Pariaman. Keunikan arsitektur dan lokasinya di atas laut menjadikannya berbeda dari masjid pada umumnya.
Masjid Terapung Sebagai Tempat Ibadah
Masjid Terapung dirancang dengan kapasitas yang mampu menampung ratusan jemaah. Keberadaannya memungkinkan umat Islam, baik warga setempat maupun wisatawan, untuk melaksanakan ibadah dengan suasana spiritual yang lebih kuat karena letaknya yang dekat dengan alam.
Selain salat wajib, masjid ini juga dapat digunakan untuk kajian keagamaan, buka puasa bersama, dan kegiatan keislaman lainnya.
Daya Tarik Arsitektur dan Lokasi
Masjid ini dibangun dengan desain modern yang memadukan elemen arsitektur lokal dan nuasa maritim. Letaknya yang mengapung di atas laut dengan akses menuju masjid melalui jembatan menjadi ciri khas yang menarik minat pengunjung.
Saat air pasang dan senja menjelang magrib, pemandangan di sekitar masjid menjadi sangat indah dan instagramable, menarik wisatawan domestik dan mancanegaraa.
Peran Masjid Terapung dalam Menunjang Pariwisata
Masjid Terapung bila telah selesai dibangun nantinya akan menjadi magnet baru bagi sektor pariwisata religi dan budaya di Kota Pariaman. Dengan adanya masjid ini nantinya, pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga berwisata spiritual.
Pemerintah kota nantinya dapat memanfaatkan momen ini dengan menyelenggarakan iven-iven islami seperti Festival Muharram dan Safari Ramadan yang terpusat di area masjid.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Keberadaan masjid ini nantinya akan membawa dampak positif secara ekonomi dan sosial. Pedagang kecil, jasa transportasi wisata, serta pelaku usaha kuliner lokal akan mengalami peningkatan penghasilan.
Selain itu masyarakat juga semakin sadar akan pentingnya menjaga lingkungan dan nilai-nilai keagamaan karena banyaknya wisaatawan yang berkunjung nantinya.
Pentingnya AMDAL
Pembangunan Masjid Terapung di Kota Pariaman berada pada kawasan pantai yang sensitif secara ekologis. Oleh karena itu, pelaksanaan Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) menjadi sangat penting sebelum pembangunan dimulai.
AMDAL bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi dampak yang mungkin timbul terhadap lingkungan, baik fisik, biotik, maupun sosial.
Masjid yang dibangun di atas air dapat mempengaruhi kualitas perairan, habitat laut seperti terumbu karang, serta aktivitas masyarakat nelayan di sekitar lokasi pembangunan masjid terapung. Dengan adanya AMDAL, potensi kerusakan lingkungan dapat diminimalisisr melalui perencanaan yang ramah lingkungan, seperti menggunakan konstruksi terapung tanpa merusak dasar laut dan menyediakan system pengelolaan limbah yang baik.
Selain itu, AMDAL juga membantu memastikan bahwa masjid tidak menimbulkan konflik sosial atau ketimpangan akses ruang publik. Pemerintah dan masyarakat dapat bersama-sama menyusun rencana pengelolaan lingkungan dan menjadikan masjid ini sebagai simbol harmoni antara pembangunan fisik dan kelestarian alam.
Dengan demikian, AMDAL bukan hanya kewajiban administratif, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial dan ekologis dalam mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.
Adapun potensi dampak yang ditimbulkan pembangunan Masjid Terapung: Pertama, lingkungan fisik: seperti perubahan garis pantai, sedimentasi, atau pencemaran air laut.
Kedua, ekosistem laut: seperti kerusakan habitat biota laut (karang, ikan, dan mangrove).
Ketiga, sosial masyarakat pesisir: misalnya terganggunya akses nelayan atau aktivitas tradisional
Keempat, lalu lintas wisata dan kebersihan pantai: meningkatnya jumlah pengunjung juga berdampak pada sampahdan kebisingan.
Adapun manfaat dilakukannya AMDAL; Pertama, mendeteksi potensi dampak negatif sejak awal, sehingga bisa dicegah atau diminimalkan.
Kedua, menjamin pembangunan yang berkelanjutan, karena memperhatikan aspek lingkungan, social dan budaya.
Ketiga, memberikan kepercayaan kepada masyarakat, bahwa proyek ini aman dan memperhatikan ekosistem lokal.
Keempat, meningkatkan kelayakan wisata religius, karena menunjukkan bahwa lokasi ibadah ini juga ramah lingkungan.
Contoh dampak dan Upaya Pengelolaannya, Pertama, Kerusakan habitat laut. Membangun pondasi apung tanpa menggali dasar laut.
Kedua, peningkatan sampah. Menyediakan tempat sampah, sistem kebersihan rutin.
Ketiga, gangguan nelayan akses. Menyediakan jalur khusus atau waktu operasional fleksibel
Keempat, kemacetan wisatawan. Pengaturan zona parkir dan transportasi laut/ penyeberangan
Potensi Gangguan Terhadap Dinamika Sedimen Pantai
Salah satu dampak yang perlu diperhatikan dalam pembangunan Masjid Terapung di kawasan pantai adalah gangguan terhadap angkutan sedimen sejajar pantai.
Angkutan ini terjadi akibat gelombang yang datang menyerong ke arah pantai dan menggerakkan partikel pasir sepanjang garis pantai.
Ketika bangunan seperti masjid terapung menggunakan tiang pancang, maka ada potensi perubahan aliran dan distribusi sedimen.
Jika tidak dirancang dengan baik, tiang pancang dapat menghalangi pergerakan sedimen, menyebabkan penumpukan di satu sisi (akresi) dan kekurangan sedimen di sisi lainnya (abrasi).
Hal ini bisa menimbulkan kerusakan pantai di bagian hilir bangunan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, perlu dilakukan kajian teknis seperti analisis hidrodinamika pantai dan model distribusi sedimen sebelum pembangunan dilakukan.
Selain itu desain struktur harus mempertimbangkan arah dominan arus, bentuk tiang yang memenimalkan hambatan aliran, serta kemungkinan penambahan struktur pelindung pantai jika diperlukan.
Dengan perencanaan yang matang, pembangunan Masjid Terapung dapat berjalan tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem pantai dan menjaga keberlanjutan lingkungan pantai.
Mitigasi Dampak Abrasi Akibat Gangguan Sedimen
Pantai Pariaman memiliki karakteristik angkutan sedimen sejajar pantai yang dominan dari arah selatan ke arah utara, dipengaruhi oleh arah datang gelombang dan arus dominan.
Kehadiran Masjid Terapung dengan struktur tiang pancang berbentuk persegi berpotensi menimbulkan gangguan terhadap pola alami aliran sedimen tersebut.
Tiang pancang tersebut dapat berfungsi sebagai krib permeabel, yang menyebabkan penumpukan sedimen di sisi selatan (updrift) dan kekurangan sedimen atau abrasi di sisi utara (downdrift).
Untuk mengatasi dampak negatif ini, diperlukan langkah-langkah mitigasi sebagai berikut; pertama, pemasangan struktur pelindung pantai di sisi utara, seperti: Groin: Struktur tegak lurus pantai yang berfungsi menahan pergerakan sedimen, sehingga mencegah abrasi. Kemudian, Seawall: dinding pelindung di garis pantai yang mampu menahan hempasan gelombang secara langsung, meskipun perlu diperhatikan efek pantul gelombang yang mungkin mempercepat erosi dasar.
Kedua, monitoring perubahan garis pantai secara berkala, untuk mengevaluasi efektivitas struktur pelindung dan mengantisipasi perubahaan pola sedimentasi yang mungkin terjadi.
Ketiga, studi lanjutan menggunakan pemodelan hidrodinamika atau simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD), agar desain struktur pelindung disesuaikan dengan kondisi lokal arus, gelombang, dan topografi dasar laut.
Keempat, revegetasi atau penanaman vegetasi pantai, seperti cemara laut atau pohon pantai lainnya, sebagai pelindung alami dan bentuk penguatan ekosistem.
Perencanaan Breakwater
Untuk mendukung keberlanjutan dan perlindungan struktur Masjid Terapung di Kota Pariaman, salah satu solusi teknis yang dapat diterapkan adalah pembangunan breakwater sejajar pantai di laut di bagian depan masjid.
Tujuan utama dari breakwater ini adalah untuk meredam energi gelombang, menciptakan perairan yang lebih tenang di sekitar masjid, serta mengurangi potensi abrasi yang terjadi akibat hempasan gelombang secara langsung.
Namun demikian, perencanaan breakwater harus mempertimbangkan dampak morfologi pantai, khususnya terhadap pola sedimentasi. Breakwater yang dibangun terlalu panjang dan dekat dengan garis pantai dapat menyebabkan terbentuknya tombolo, yaitu endapan sedimen yang menyambung antara struktur breakwater dan daratan.
Kondisi ini tidak diharapkan karena akan menghilangkan identitas masjid sebagai bangunan terapung. Sebagai solusi, disarankan untuk menggunakan breakwater pendek atau segmented breakwater yang dirancang dengan panjang terbatas dan berjarak cukup dari garis pantai.
Breakwater dengan karakteristik ini cenderung membentuk salient yaitu tonjolan sedimen di belakang struktur, tanpa menyatu sepenuhnya dengan daratan. Dengan demikian, perlindungan terhadap bangunan tetap terjaga, namun estetika dan fungsi terapung dari masjid dapat tetap dipertahankan.
Perencanaan breakwater sebaiknya dilakukan berdasarkan studi hidrodinamika kawasan serta pengamatan terhadap arah dominan gelombang dan angkutan sedimen.
Pendekatan ini akan memastikan bahwa struktur pelindung yang dibangun sesuai dengan karakteristik lokal, dan tidak menimbulkan dampak negatif lanjutan di sisi hilir garis pantai.
Kondisi Pembangunan Masjid Terapung Saat ini
Pembangunan Masjid Terapung ini dimulai tahun 2018 semasa Walikota Muklis Rahman dan Wakil Walikota Genius, rencananya Masjid Terapung ini sudah selesai tahun 2023.
Pembangunan Masjid Terapung ini sudah tercatat di Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Pariaman Tahun 2018-2023. Dana yang telah dikeluarkan untuk pembangunan Masjid Terapung ini sebesar 36 miliar rupiah dengan rincian Rp21 miliar pada tahun anggaran 2018 dan Rp15 miliar pada tahun anggaran 2019.
Pekerjaan yang baru diselesaikan adalah pemancangan pondasi tiang pancang, dan pembangunan terhenti sejak tahun 2019. Sebaiknya pembangunan Masjid Terapung ini tetap dilanjutkan oleh Waliota yang baru dengan mengangarkan dalam APBD Kota Pariaman, di samping itu bisa juga minta bantuan dari Negara-negara Islam melalui Kedutaan Besarnya di Jakarta untuk jadi donatur dalam pembangunan Masjid Terapung ini.
Inovasi Arsitektur dan Religi
Masjid terapung di Kota Pariaman merupakan sebuah inovasi arsitektur dan religi yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah umat islam, tetapi juga berperan dalam meningkatkan daya tarik wisata religi di Sumatera Barat.
Namun, pembangunan masjid ini di lingkungan pantai menuntu perhatian khusus terhadap aspek teknis dan lingkungan. Analisis menunjukkan bahwa keberadaan tiang pancang pesegi sebagai pondasi masjid dapat mempengaruhi pola angkutan sedimen sejajar pantai, yang berpotensi menimbulkan endapan di sisi selatan dan abrasi di sisi utara.
Oleh karena itu, diperlukan mitigasi melalui pembangunan struktur pelindung seperti groin atau seawall. Selain itu, alternatif pembangunan breakwater pendek yang sejajar pantai juga dianjurkan upaya meredam gelombang tanpa meneyebabkan terbentuknya tombolo. Sehingga citra masjid sebagai bangunan terapung tetap terjaga.
Melalui pendekatan teknis yang tepat, didukung oleh studi hidrodinamika dan lingkungan, pembangunan masjid terapung dapat berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan sektor pariwisata.
Padang, 26 April 2025























