Buah kelapa merupakan komoditi unggulan Sumbar, dan di antara daerah penghasil paling banyak adalah Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Agam, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Limapuluh Kota dan Kabupaten Pesisir Selatan, dimana buah kelapa tersebut banyak yang dijual ke provinsi tetangga, bahkan sampai ke pulau Jawa.
Berdasarkan data dari Dinas Tanaman Pangan, Holtikutura dan Perkebunan Sumbar, ditahun 2017 produksi buah kelapa Sumbar mencapai 70.902 ton per tahun dengan areal tanam 87.208 hektar, dan separuh dari produksi kelapa itu berasal dari Kabupaten Padang Pariaman sebanyak 35.436 ton dengan arel tanam 40.755 hektar.
Nagari Sikucua Barat Kecamatan V Koto Kampuang Dalam adalah salah satu nagari dari 103 nagari yang terdapat di Kabupaten Padang Pariaman. Karena buah kelapa yang melimpah di sana, kami dari Tim Program Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) menjadikan nagari tersebut sebagai daerah binaan untuk pembuatan minyak kepala murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) kepada ibu-ibu PKK setempat.
Nagari Sikucua Barat yang berbatasan dengan Malalak Kabupaten Agam itu merupakan nagari pemekaran dari Nagari Sikucua pada tahun 2017, berpenduduk 4008 jiwa dengan 825 KK (data tahun 2018). Terdiri dari 7 jorong, Patamuan, Aie Sonsang Durian Angik (ASDA), Alahan Tabek, Koto Padang, Koto Panjang, Toboh dan Toboh Marunggai, dan kepada ibu-ibu PKK dari 7 jorong itulah PPM UMSB memberikan pelatihan pembuatan VCO.
Program pelatihan pembuatan VCO ini akan dilaksanakan selama 9 bulan dari Maret sampai November 2019, dan dibiayai dari Dana Riset Pengabdian Masyarakat (DRPM) Kemenristek Dikti tahun anggaran 2019, dimana UMSB berkolaborasi dengan Universitas Taman Siswa (Unitas) Padang.
Penulis pernah meneliti VCO untuk meraih gelar doktor, dan sebagai dosen UMSB ikut dalam tim, dengan anggota lainnya Afrijon, seorang doktor ahli peternakan dari Unitas, yang memberikan pelatihan tentang pemanfaatan ampas kelapa dari pembuatan VCO –dimana setelah diolah berguna untuk pakan itik. Jadi tidak ada yang terbuang dari proses pembuatan VCO. Semua bisa dimanfaatkan, termasuk tempurung kelapanya.
Pembuatan VCO tidak memerlukan teknologi yang tinggi, sangatlah mudah untuk dipelajari, sehingganya bisa diproduksi secara rumahan, dikerjakan oleh ibu-ibu rumah tangga, dan dari penjualannya bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga. Karena di Nagari Sikucua Barat banyak terdapat buah kelapa, makanya perlu ditingkatkan nilai ke-ekonomiannya.
Biasanya buah kelapa yang ada dijual dalam bentuk bulat-bulat, untuk dimasak dan kelapa muda. Ada juga ibu-ibu di Sikucua Barat mengolahnya menjadi minyak tanak, tapi untuk konsumsi sendiri. Ke depan, diharapkan dengan telah dilatihnya ibu-ibu tersebut membuat VCO, maka akan banyak buah kelapa yang terserap, dan memiliki nilai tambah.
Pelatihan yang diberikan PPM UMSB kepada ibu-ibu di Nagari Sikucua Barat mulai dari proses produksi, pengemasan (packaging), pengurusan izin (Depkes) dan membantu pemasarannya. Sehingga setelah program selesai nantinya, ibu-ibu tersebut dengan dibantu Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) sudah bisa mandiri, dan bisa pula mengembangkan ke nagari lain.
VCO kaya akan asam lemak, vitamin E dan mengandung banyak mineral. Dewasa ini banyak digunakan orang sebagai obat-obatan seperti penurun kolesterol, menyehatkan pencernaan, bahkan bisa untuk obat HIV/AIDS. Kemudian untuk kosmetik, karena mengandung anti oksidan dan vitamin E, bisa untuk penghalus kulit dan penyehat rambut. Dan harga jual VCO cukup menjanjikan dibanding menjual buah kelapa dalam bentuk bulat, atau minyak tanak, berkisar Rp450 ribu per kilogram.
Sebenarnya produksi VCO di Kabupaten Padang Pariaman sudah banyak, tapi ke depan hendaknya produksi VCO bisa berbasis nagari. BUMNag harus bisa mengelola usaha ini sebagai sokoguru peningkatan perekonomian keluarga. VCO diproduksi oleh ibu-ibu rumah tangga, kemudian BUMNag yang menampung dan memasarkannya. Hal ini bukan sebatas Kabupaten Padang Pariaman saja, kabupaten lain pun yang banyak nenghasilkan buah kelapa harusnya begitu juga.*)
Penulis : Dr. Suryani, MSi (Dosen UMSB)























