
Oleh: Patria Subuh
(Pengamat Sosial)
“DI SURGA ada delapan pintu. Salah satu pintu itu bernama Rayyan yang hanya boleh dilewati oleh orang-orang yang berpuasa”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Selama ribuan tahun, kebiasaan berpuasa yang bersifat universal telah dilakukan oleh para penganut agama-agama kuno (Budha, Hindu, Jainisme, Yahudi, dan Nasrani serta Islam) dan sampai saat sekarang ini para praktisi puasa masih tetap menganggapnya sebagai suatu cara, “tools” untuk bertahan hidup seimbang, pemeliharaan kesehatan, cara awet muda, ketenangan tubuh dan pikiran serta untuk mendapatkan perasaan sejahtera lahir batin.
Praktek puasa dengan metode kuno sesungguhnya telah lama dipraktekkan di India, China, Timur Tengah dan Yunani untuk berbagai alasan dengan cara-cara tertentu, seperti misalnya untuk maksud pengobatan tubuh dan pikiran, penebusan sumpah kafarat, perayaan hari raya tertentu, atau pelunasan janji kepada Tuhan.
Catatan sejarah tentang puasa sebagai suatu cara yang alami, mudah dan dapat dilakukan oleh semua orang itu dapat di lacak sampai ke waktu 5.500 tahun sebelum masehi. Puasa pada waktu itu lebih banyak dilakukan karena adanya gagal panen, bencana alam atau serangan hama/penyakit pada tanaman.
Rich Lafountain, PhD, (History of Fasting, 2023), menyatakan bahwa “Ketika makanan yang dibutuhkan tidak lagi tersedia, bahkan berbahaya untuk dimakan, puasa menjadi satu-satunya cara untuk dapat bertahan hidup”.
Dengan berpuasa pada periode tertentu menggunakan metode ritual khusus, penyakit tertentu seperti diabetes dan epilepsi bahkan juga dapat disembuhkan.
Menurut Rich, banyak penyakit lain yang dapat dijinakkan melalui puasa, seperti : asma, arthritis, kelelahan kronis, darah tinggi, lupus, crohn disease, penyakit yang berhubungan dengan pencernaan, lumpuh, dan lain sebagainya.
Terapi diet dengan berpuasa pada waktu-waktu tertentu yang banyak dipraktekkan saat ini terbukti sangat membantu praktisi puasa dalam meningkatkan kesehatan mereka.
Cara-cara berpuasa berkembang dari bentuk awalnya sesuai keperluan dari waktu ke waktu. Dahulu puasa lebih banyak dilakukan untuk tujuan reliji dan spiritual. Namun di zaman modern seperti saat ini para praktisi puasa juga mengkombinasikan berpuasa untuk tujuan kesehatan, yaitu bertujuan untuk meningkatkan metabolisme tubuh dan memperoleh umur panjang serta meningkatkan vitalitas di samping untuk mendapatkan pahala.
Praktek puasa yang dilakukan setidaknya minimal selama 15 hari berturut-turut pada siang hari saja, ternyata mampu mengatasi resistensi tubuh terhadap insulin, memecah lemak dalam tubuh dan menghasilkan zat anti oksidan dalam jaringan pembuluh darah.
Secara spesifik, puasa telah terbukti bermanfaat untuk ; meningkatkan kemampuan metabolisme tubuh, mengurangi berat badan secara perlahan, meminimalisir risiko penyakit diabetes, menguatkan fungsi jantung dalam memompa darah, dan meningkatkan kemampuan otak dalam berpikir.
Dalam catatan sejarah Islam, Puasa Ramadhan diwajibkan sejak tahun kedua Hijriyah atau ketika Rasulullah Muhammad SAW baru sekitar 18 bulan hijrah ke Madinah al-Munawwarah.
Hal ini terjadi bersamaan dengan turunnya wahyu Allah yakni Surah al-Baqarah ayat ke-183 pada akhir Bulan Sya’ban. Isinya antara lain memerintahkan agar umat Islam melaksanakan Puasa Ramadhan selama sebulan penuh.
Sejak saat itu, ritual puasa di bulan Ramadhan senantiasa menjadi suatu hal yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Di samping itu, umat Islam juga melaksanakan puasa Senin-Kamis. Perlu diketahui bahwa Hari Senin adalah merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, dihari itu juga ia diangkat sebagai Rasulullah atau menerima wahyu pertama kali).
Puasa lain yang umum dilakukan adalah puasa hari putih. Puasa ini dikerjakan sebanyak tiga hari dalam sebulan, yaitu pada tanggal 13, 14 dan 15 setiap bulannya.Ada juga puasa yang dilakukan secara selang seling (sehari puasa, sehari tidak) seperti yang dilakukan oleh Nabi Daud. *)
(Catatan: Disusun dari berbagai sumber)
























