Pengabdian Kepada Masyarakat: Skema Perbenihan Tanaman Kentang

Oleh : Fitri Ekawati

HARI MINGGU tanggal 29 November 2021 Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Andalas (Unand), Program Berkelanjutan Membantu Mitra Kelompok Tani Harapan Baru untuk Tumbuh Kembang dengan Usaha Penangkaran Benih Kentang Sistem Aeroponik di Alahan Panjang, Kabupaten Solok, yang terdiri dari Prof. Irfan Suliansyah, Prof. Helmi, Fitri Ekawati, dan Doni Hariandi, beserta dua orang mahasiswa Pascasarjana Fakultas Pertanian Unand yaitu Dedet Deperiky dan Hadi Rafindo, mengadakan sosialisasi lanjutan di Kelompok Tani Harapan Baru Alahan Panjang dengan Tema “Skema Perbenihan Tanaman Kentang”.

Kelompok Tani Harapan Baru yang berlokasi di Jorong Galagah, Kenagarian Alahan Panjang, Kabupaten Solok merupakan salah satu kelompok tani binaan Fakultas Pertanian Unand sejak beberapa tahun lalu. Dalam dua tahun terakhir ini kegiatan di kelompok tani difokuskan pada persiapan penangkaran benih kentang dengan menggunakan sistem aeroponik.

Aeroponik merupakan salah satu sistem budidaya tanaman yang media tanamnya tidak menggunakan tanah. Nutrisi yang digunakan tanaman untuk pertumbuhan dan perkembangannya diberikan dengan cara menyemprotkan (pengkabutan) air bernutrisi ke akar tanaman secara langsung.

Keuntungan menanam dengan sistem aeroponik jika dibandingkan dengan sistem hidoponik adalah oksigenisasi dari setiap butir kabut akan terserap kedalam akar tanaman sehingga proses respirasi berjalan lancar (lebih efisien dalam penyerapan hara).

Kentang yang menjadi salah satu komoditas hortikultura, berperan sebagai bahan pangan karena mengandung karbohidrat serta berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan Nasional. Hingga saat ini ketersediaan benih kentang berkualitas (bersertifikat) di Indonesia masih terbatas.

PENGABDIAN –Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Unand berfoto bersama dengan Kelompok Tani Harapan Baru Jorong Galagah, Kenagarian Alahan Panjang. (Foto : Ist)

Petani kentang di Alahan Panjang biasanya membudidayakan tanaman kentang dengan menggunakan benih yang didatangkan dari Jawa Barat atau Sumatera Utara. Umbi dari hasil panen sebelumnya secara berulang-ulang digunakan untuk musim tanam berikutnya sehingga menurunkan kualitas maupun kuantitas dari hasil panen kentang dari musim ke musim.

Melalui pendampingan yang sudah dilakukan sejak tahun 2016 yang targetnya adalah menjadikan Kelompok Tani Harapan Baru menjadi penangkar benih (kentang), kami dari Tim selalu memberikan penyegaran dan sharing inovasi kepada Kelompok Tani Harapan Baru.

Dalam kegiatan kali ini, diawali pemaparan dari penulis terkait dengan bagaimana skema perbenihan tanaman kentang. Secara ringkas skema perbenihan tanaman kentang adalah mulai dari Planlet, G0, G1, G2, G3, dan G4.

Dalam kelas benih, planlet termasuk ke dalam benih penjenis (Breeder seed/BS) atau kelas benih pertama, merupakan benih generasi awal yang diproduksi dari benih inti yang terjamin kebenaran varietasnya berdasarkan rekomendasi dari pemilik varietas dan bebas dari pathogen.

G0 termasuk ke dalam kelas benih dasar/BD merupakan hasil perbanyakan dari kelas BS. G1 termasuk kedalam kelas Benih Pokok/BP merupakan hasil perbanyakan dari G0. G2 termasuk ke dalam kelas benih Sebar/BR merupakan hasil perbanyakan dari G1. G3 merupakan hasil perbanyakan G2, dan G4 merupakan hasil perbanyakan G3 (menghasilkan umbi konsumsi). Semakin tinggi kelas benih semakin mahal harganya.

SOSIALISASI –Suasana sosialisasi Usaha Penangkaran Benih Kentang Sistem Aeroponik pada Kelompok Tani Harapan Baru Alahan Panjang. (Foto : Ist)

Penulis juga menyampaikan beberapa teknik memproduksi benih kentang yaitu:

(1). Pemilihan lokasi yang dijadikan penangkaran dengan kriteria ketinggian tempat >1400 m dpl;

(2). Melakukan isolasi dimana lokasi perbenihan kentang sebaiknya terisolasi dari pertanaman kentang lainnya, untuk mencegah penularan penyakit dan hama yang berbahaya dalam produksi benih. Sumber infeksi pada pertanaman kentang bukan hanya pada tanaman kentang saja, tetapi termasuk inang alternatif seperti jenis-jenis gulma atau tanaman sayuran lain. Untuk mencegah infeksi virus dari luar kebun dianjurkan menggunakan isolasi jarak sepanjang 10 m dari pertanaman kentang konsumsi atau pertanaman sefamili (cabai, tomat, terung dan tembakau);

(3). Melakukan seleksi dengan cara mempertahankan kemurnian benih, membuang tanaman yang terserang penyakit, dan pada tanaman yang pertumbuhannya abnormal;

(4). Panen dilakukan setelah tanaman memasuki masa senesens /tua atau disesuaikan dengan umur varietas yang ditanam. Varietas genjah dapat dipanen pada umur 100 hari setelah tanam sedangkan varietas berumur dalam 120 – 140 hari setelah tanam. Tanda- tanda bahwa umbi telah siap dipanen adalah kulit umbi telah melekat dengan daging umbi dan tidak terkelupas kulitnya apabila ditekan.

(5). Sortasi dilakukan dengan cara membuang umbi yang bergejala penyakit, rusak mekanis dan campuran varietas lain;

(6). Grading dilakukan dengan dasar ukuran large (L)/besar : > 90 g – 120 g, medium (M)/sedang : 40 g – 90 g, dan small (S)/kecil : < 40 g;

(7). Penyimpanan umbi calon benih dapat dilakukan dalam gudang gelap atau gudang terang, dalam keadaan suhu rendah ( 2°C s.d 4°C) atau dalam keadaan suhu ruang. Penyimpanan dalam gudang gelap akan menghasilkan tunas umbi panjang dan kurus. Sedangkan dalam gudang terang tunas akan kuat/vigor, berwarna gelap serta berukuran pendek. Penyimpaan calon umbi benih pada suhu rendah akan menghambat / memperlambat pertunasan, sedangkan di suhu ruang / suhu tinggi akan mempercepat pertunasan. Pada umumnya calon benih tidak bertunas dalam beberapa minggu/bulan setelah panen. Lamanya masa istirahat /dormansi tergantung pada varietas dan perlakuan calon umbi benih;

(8). Sertifikasi benih didasarkan pada hasil pemeriksaan di lapangan dan di gudang oleh BPSB (Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih) atau lembaga yang berwenang. Apabila hasil pemeriksaaan ternyata tidak memenuhi persyaratan yang telah ditentukan dalam standar sertifikasi, kelas benih yang dihasilkan dapat diturunkan ke kelas benih yang lebih rendah atau tidak lulus menjadi benih. Dengan adanya sertifikasi benih diharapkan ada peningkatan penggunaan benih dengan kualitas lebih tinggi sehingga produksi per satuan luas akan meningkat.

Dalam kegiatan tersebut, Prof Irfan Suliansyah berbagi pengalaman dari hasil survei di beberapa lokasi penangkaran benih kentang di Jawa beberapa minggu lalu yang bisa diadopsi dalam rangka menjadikan Kelompok Tani Harapan Baru menjadi salah satu Kelompok Tani Penangkar Benih Kentang.

Perlu diketahui bahwa petani di Kelompok Tani Harapan Baru sangat antusias dengan kegiatan ini, apalagi usaha penangkaran benih kentang ini di-support oleh Bupati Solok yang pada tanggal 24 Oktober 2021 juga berkunjung ke lokasi. *)

 

Penulis adalah Dosen Prodi Agroteknologi, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand).