JAKARTA, forumsumbar —Baik atau buruknya kepemimpinan pemerintahan tidak bisa diketahui tanpa ujian. Ujian yang bagus adalah dadakan, bukan ujian buatan dalam kampanye pemilihan yang sudah disiapkan jawabannya.
Di situ kita akan tahu emas atau loyang mutu sang pemimpin pemerintahan. Di situ kita akan melihat “delivered” atau sekedar “send” saja seorang pemimpin pemerintahan. Dan di situ pula kita akan menyaksikan kecanggihan pemimpin pemerintahan dalam memimpin operasi penanggulangan.
Demikian disampaikan Guru Besar Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Prof Djohermansyah Djohan, melalui pesan Whatsapp-nya kepada forumsumbar.com, Sabtu (16/5).
Tanpa repot-repot, sebut Dirjen Otda Kemendagri 2010-2014 ini, ujian dadakan diberikan Tuhan. Wabah virus corona (Covid-19) yang tak kelihatan diturunkan.
“Ternyata kegagapan melanda banyak pemimpin pemerintahan di seantero dunia. Hitung jari yang mendapatkan nilai tinggi. Rata-rata buruk dan buruk sekali,” ucapnya.
Misalnya, lanjut Prof Djohermansyah, virus corona dilepaskan saja masuk teritori tanpa ditahan. Pencegahan penularan di internal negara gagal pula dilakukan, karena inkonsistensi kebijakan.
Penanganan pasien yang membludak di rumah sakit kedodoran, karena minimnya persiapan, sehingga ribuan korban berjatuhan tidak terkecuali tenaga kedokteran dan keperawatan.
Pemberian bantuan sosial untuk korban terdampak wabah acak-acakan, karena data telat dimutakhirkan. Di samping itu, katanya, kolaborasi, koordinasi dan sinergitas antar instansi dan lembaga, antara pemerintah pusat dan daerah tidak pula berjalan, yang mencuat justru perseteruan.
“Ke depan, pasca wabah agaknya Indonesia perlu menata kembali sistem pemilihan pimpinan pemerintahan,” tegas Prof Djo, demikian pendiri sekaligus Presiden Institut Otonomi Daerah (i-Otda) ini akrab dipanggil.
Seyogianya mereka yang memiliki rekam jejak bagus dan kompetensi tinggi, sebut Prof Djo lagi, yang bisa naik ke kursi pimpinan pemerintahan. Bukan yang sekedar “lepas makan”.
(Ika)






















