KOTA Padang pada tanggal 7 Agustus 2019 ini genap berusia 350 tahun. Untuk itu sebagai orang yang lahir, besar dan berkehidupan di Padang, saya ucapkan selamat milad kotaku. Ternyata sudah tua juga umur Kota Padang, 3,5 abad. Sama dengan jumlah bilangan tahun Belanda menjajah Indonesia.
Sebagaimana biasa awal sejarah sebuah kota di bagian pesisir pantai, selalu bermula dari sebuah muara sungai. Kemudian berkembang seiring pertumbuhan penduduk yang semakin banyak. Begitu juga Kota Padang, kota tuanya adalah kawasan Muara Padang sekarang, dengan Batang Arau yang membelahnya.
Sejarahnya di zaman Belanda, Kota Padang pernah berjaya sebagai pusat perdagangan dan jasa terbesar di bagian pantai barat Sumatera. Kehadiran pelabuhan laut Emma Haven –sekarang bernama Teluk Bayur, merupakan pelabuhan besar yang menjadi titik tumpu keluar masuk barang di wilayah Sumatera bagian tengah. Apalagi dengan adanya tambang batubara di Sawahlunto dan pabrik semen di Indarung Padang.
Saat ini, ketika tambang batubara di Sawahlunto sudah habis, dan industri semen mulai tertatih-tatih, Kota Padang yang semakin ringkih mencoba berbenah dengan segala kemampuannya. Titik tumpu sebagai pusat perdagangan dan jasa perlahan mulai tergerus, seiring dengan pesatnya pertumbuhan Provinsi Riau dan Jambi. Dulu Sumbar, Riau dan Jambi, selalu berpusat di Padang (Sumbar), sekarang tidak lagi. Kota Pekanbaru dan Jambi, sebagai ibukota provinsi, telah tumbuh pesat dengan infrastruktur yang mentereng, termasuk pelabuhan lautnya.
Sekarang Kota Padang dengan jumlah penduduk berkisar 1 juta jiwa menuju Kota Metropolitan. Pergeseran orientasi di bidang ekonomi pun terjadi secara alami. Kalau dulu pusat perdagangan dan jasa, sekarang mengandalkan pariwisata. Terakhir sebagai pusat perdagangan dan jasa itu melemah ketika Terminal Lintas Andalas menjadi mall, pindah lah pusat itu ke Bukittinggi.
Dalam pembangunan pariwisata pun, Kota Padang hanya mengandalkan wisata pantai, khususnya Pantai Padang dan Air Manis, sementara wisata alam lainnya belum tergarap secara maksimal, misalnya ke arah Lubuk Minturun – Paninggahan (Solok), dan kawasan Hutan Raya Bung Hatta di batas kota arah ke Kabupaten Solok. Cuaca yang sejuk dan pemandangan alam yang seronok di kawasan Bukit Barisan itu diyakini nilai wisatanya sangat kuat.
Sebenarnya masih banyak pe-er yang harus dikerjakan agar warga Kota Padang merasa nyaman tinggal dikotanya. Persoalan terminal angkot dan bus antar kota yang sampai sekarang tidak berketentuan, jelas mengganggu karena angkot dan bus itu menjadikan jalan di sepanjang Air Tawar – Tabing menjadi terminalnya. Begitu juga ke arah lainnya, di Teluk Bayur ke Pesisir Selatan, dan di simpang by pass Lubeg arah ke Solok, dan Dharmasraya.
Dengan semakin padatnya kendaraan di Kota Padang, maka pembukaan jalan baru menyusur pantai arah ke Bandara Internasional Minangkabau (BIM) yang sekarang sudah dirintis perlu dipercepat. Begitu juga dengan adanya perencanaan pembuatan terowongan Pengambiran – Bungus semasa Walikota Padang Fauzi Bahar, sepertinya perlu dikongretkan. Hal ini untuk menghindari beban berat jalan yang selama ini ada. Kemacetan akan semakin membuat Kota Padang menjadi tidak nyaman lagi.
Begitu juga dengan persoalan mitigasi bencana yang harus terus diperkuat, khususnya infrastruktur. Pembangunan shelter-shelter, baru beberapa. Harus terus ditambah seperti di daerah Bungus, dan Pasie Sabalah (Koto Tangah). Kemudian jalur evakuasi yang harus diperlebar karena jalan yang ada sekarang kalau terjadi gempa, tidak akan mampu mengatasinya, sebab jalannya kecil dan sempit.
Terakhir, mengingat semakin sesaknya pertumbuhan Kota Padang ke arah Kabupaten Padang Pariaman, maka sudah saatnya tiga pemerintah daerah, yakni Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Pariaman duduk satu meja untuk mengkongretkan kawasan Palapa (Padang, Lubuk Alung, Pariaman) menjadi sebuah pusat pertumbuhan baru –seperti Jabodetabek– yang tertata sedemikian rupa secara komprehensif, baik itu dari sisi infrastruktur maupun transportasi. Suka atau tidak suka, beberapa tahun ke depan, persoalan-persoalan di kawasan tersebut tidak bisa dihindari.
Penulis : Isa Kurniawan (Koordinator Komunitas Pemerhati Sumbar / Kapas)






















