
Oleh: Elfindri
(Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas)
PANDANGAN amuk masa anak muda di beberapa kota Perancis dan Italia, merupakan fenomena akhir dari frustasi anak muda.
Frustasi dimana pada masa sulit setidaknya selama lima tahun terakhir, ditambah dengan ketidakpuasan dari pemerintah dalam mengelola negara. Politik pemerintah justru berpihak pada kaum tua, mengingat mereka hampir 70 persen sebagai pemilih.
Karena sinyal keberadaan dari anak muda, keperluan mereka belum terlihat secara nyata, apa yang telah diperbuat oleh pemerintah dalam menyediakan pendidikan, serta perluasan lapangan kerja?
Angka pengangguran pada kalangan anak muda di Eropa, khususnya Perancis dan Italia semenjak 5 tahun terakhir menunjukkan kecendrungan yang meningkat. Pada tahun 2026 misalnya tercatat angka pengangguran usia 15-24 tahun telah mencapai sekitar 20.6% persen, sementara pada tahun 2022 baru berkisar 17.0%.
Negara dimana ditandai dengan tingkat urbanisasi yang tinggi, membuat daya tekan kehidupan perkotaan semakin berat. Membuka lapangan kerja sebagai self employed di kota-kota tidak semudah di negara berkembang, apalagi regulasi ketat, telah membuat ruang gerak anak muda semakin terbatas.
Pengenalan teknologi robot dan hadirnya AI telah menyingkirkan lapangan kerja yang selama ini dikerjakan oleh anak muda.
Politik untuk Kaum Tua
Jika di Indonesia berupaya merayu anak muda, di Perancis sebaliknya. Kalau dilihat dari riset-riset 2023-2026, amukan masa di Perancis itu bukan satu penyebab, tapi tumpukan yang meledak bareng. Ini 5 faktor utamanya:
1. Reformasi Pensiun (Pemicu terbesar 2023-2024).
Macron naikkan umur pensiun dari 62 ke 64 tahun pakai pasal 49.3 (tanpa voting parlemen). Bagi orang Perancis, pensiun itu hak suci. Hasilnya: 800rb – 1jt orang turun di 200 kota, 12 hari mogok nasional. Ini yang bikin kepercayaan ke pemerintah menjadi jebol.
2. Biaya Hidup & Perumahan Anak Muda–
Sewa di Paris 74% dari gaji pemula, di Lyon/Marseille 55-65%
– 80% lebih anak 18-29 tahun masih tinggal sama orang tua atau tergantung keuangan orang tua,
– Kontrak kerja anak muda 75% kontrak pendek (CDD, magang). Jadi merasa “kerja terus tapi tidak bisa mandiri”
3. Ketimpangan Antar Generasi (Gerontokrasi)
Riset menyebut Perancis “gerontocracy”. Median pemilih umur 50+, tingkat partisipasi pemilih tua 75-80%. Anggaran pensiun makan 14-16% PDB, sementara anggaran perumahan & pendidikan anak muda dipotong. Anak muda merasa politik hanya melayani orang tua.
4. Polisi dan Isu Diskriminasi
Kasus kematian Nahel Merzouk (17 tahun, ditembak polisi saat razia Juni 2023) memicu kerusuhan terbesar dalam 20 tahun: 3.000 mobil dibakar, 1.000 gedung rusak dalam 6 hari. Ini memicu isu lama di banlieue (pinggiran kota imigran) soal kekerasan polisi & diskriminasi.
5. Sistem Pendidikan & Parcoursup
Sistem seleksi masuk kuliah lewat algoritma Parcoursup dianggap tidak transparan & bikin stres. Banyak anak dari banlieue merasa disaring keluar dari jurusan favorit. Pengangguran lulusan S1 masih 19-20%.
Pola amukannya khas Perancis: dimulai demo serikat buruh yang damai, lalu malamnya di kota-kota besar diambil alih kelompok anak muda banlieue yang bakar & jarah. Siang protes politik, malam protes sosial.
Antisipasi Untuk Kita
Di Indonesia frustasi yang sama bisa jadi berpotensi terjadi, walau memang akan berbeda dengan Pedancis.
Menuntut hemat pemborosan yang terjadi dalam APBN untuk program MBG dan Koperasi Merah Putih seharusnya ditanggapi pemerintah.
Kemudian, korupsi yang berkepanjangan akan membuat pemicu penting juga, selain dari tindakan pemerintah memotong anggaran daerah, termasuk respon yang lambat akan penanganan bencana alam. Faktor-faktor tersebut tentunya tidak sama dengan yang terjadi di Perancis. Tapi segala obat mesti diarahkan untuk membuat anak muda kota tidak sebringas anak muda di kota Perancis yang banyak frustasi. “)






















