
Oleh : Irawan Winata
(Penulis dan Praktisi Seni)
SAYA tertegun ketika berkunjung ke acara “The Arby Samah Internasional Sculpture Redidency And Exhibition”, Padang 8-14 Oktober 2026 di Gallery Taman Budaya Sumatera Barat. Saya seolah di bawa ke zaman purba dengan melihat karya yang di berikan sentuhan keindahan oleh Tsai Yu Han.
Karya yang terlihat seperti keramik/tanah liat ini berjudul “Fading” (2020), karya ini seperti ingin memperlihatkan bentuk organik yang menyerupai bagian kepala hewan purba atau mahkluk endemik, khususnya bentuk paruh kuat menyerupai burung Rangkong (hornbill) atau bagian tengkorak mamalia/reptil yang memanjang dengan fokus mata melingkar atau bahkan bisa jadi tapir.
Kepala hewan yang tergeletak pasif tanpa tubuh memberi kesan sebuah relik, fosil, atau spesimen arkeologis. Ini melambangkan sisa-sisa eksistensi dari spesies yang rapuh dan terancam terhapus dari peradaban.
Sedangkan goresan warna putih yang tampak mengelupas, meluncur, atau menutupi permukaan tanah liat cokelat di bawahnya secara tidak merata menciptakan efek visual “pemudaran” (fading).
Goresan-goresan warna putih dan cokelat tanah yang saling mengikis memvisualisasikan proses erosi, bagaimana jejak kehidupan, identitas dan pigmen alami fauna perlahan pudar terkikis waktu maupun destruksi habitat.
Ada kontras dramatis antara warna mata yang bernuansa jadite/celadon hijau kebiruan dengan dominasi warna tanah kusam di sekitarnya. Mata hijau yang jernih ini seolah menjadi seperti sisa kesadaran atau tatapan terakhir yang membeku sebelum kepunahan total menjemput.
Dan pada permukaan patung ini memperlihatkan artikulasi tekstur yang kaya dan berlapis. Seniman nampak seperti memanfaatkan karakter alami tanah liat dengan teknik goresan, guratan kasar, dan lelehan.
Kasar dan berpori pada agian belakang/punggung kepala berstruktur berbenjol-benjol dan retak-retak yang menyerupai tekstur kulit reptil, sisik keras, atau batuan karang.
Serta dapat goresan garis-garis seperti organik pada bagian samping paruh/moncong, terdapat torehan garis-garis sejajar dan goresan pahatan melintang yang memberi dinamika serat, mirip seperti tekstur tulang, kayu lapuk, atau bulu yang telah terfosilisasi.
Lelehan warna putih yang mengkilap menyelimuti bagian tertentu, menciptakan kontras tekstur antara bagian basah/licin dan permukaan tanah bertekstur kasar di sela-sela lekukan.
Berbeda dengan pengelompokan dan skema warna, penggunaan warna pada karya ini sangat terkontrol dan terfokus pada nada-nada bumi.
Kelompok warna utama cokelat terakota, cokelat oker, dan krem tanah liat alami. Warna-warna ini memberikan identitas material bumi yang mentah, hangat, dan purba.
Kelompok Warna Putih kapur, warna putih ini bertindak sebagai lapisan luar yang menutup, memberi efek kepudaran, pembekuan, atau pembentukan lapisan garam/fosil.
Kelompok warna fokus hijau pirus pada ornamen mata. Pengelompokan warna ini sangat cerdas dengan menempatkan warna dingin yang kontras di tengah dominasi warna hangat, perhatian pengamat secara instan akan tertuju pada titik fokus mata patung.
Tsai Yu Han seperti mengeksplorasi medium keramik untuk menyampaikan kritik ekologis yang puitis. Melalui manipulasi tekstur tanah yang digores kasar dan kombinasi glazur putih yang luntur melintasi warna terakota, karya ini tidak hanya menjadi objek estetis, melainkan sebuah monumen peringatan sunyi atas kepunahan makhluk hidup yang perlahan memudar dari bumi.
Melalui “Fading”, Tsai Yu Han berhasil menerjemahkan kegelisahan zaman ke dalam medium tanah liat. Karya ini menegaskan bahwa jika manusia modern terus mengabaikan tanggung jawab ekologisnya, maka apa yang tersisa dari keanekaragaman satwa di bumi kelak hanya akan menjadi bentuk-bentuk “kepudaran” artifisial sebuah artefak sunyi di galeri seni yang mengingatkan kita pada makhluk-makhluk luar biasa yang pernah ada, namun gagal kita selamatkan.
Berikut adalah penyuntingan tulisan Anda dengan alur human interest yang lebih mengalir, hangat, sekaligus tetap tajam secara kritis. Pengulangan struktur dikurangi, transisi antarparagraf disatukan secara natural, dan poin-poin teknis warna/tekstur dilebur langsung ke dalam narasi puitis:
Langkah kaki saya terhenti, tertegun di tengah keriuhan perhelatan The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat. Di sana, sebuah karya membawa saya melompati waktu, seolah terlempar jauh ke zaman purba. Adalah Tsai Yu Han, seniman yang berhasil memberikan sentuhan keindahan sekaligus bisikan puitis yang mengerutkan dahi lewat karya keramiknya yang berjudul Fading (2020).
Karya tanah liat ini mewujud dalam bentuk organik yang ganjil namun familier. Ia tampak seperti potongan kepala hewan purba atau makhluk endemik mengingatkan pada paruh kokoh burung Rangkong, tengkorak mamalia memanjang, hingga siluet tapir. Tergeletak pasif tanpa tubuh, kepala itu menjelma menjadi sebuah relik, fosil, atau spesimen arkeologis. Ada kesan getir yang menyeruak, ia adalah sisa-sisa eksistensi dari spesies rapuh yang perlahan terhapus dari peradaban manusia.
Kegetiran itu semakin kuat saat kita mengamati sapuan visualnya. Goresan warna putih kapur tampak mengelupas, meluncur, dan mengikis permukaan tanah liat cokelat terakota di bawahnya. Efek erosi yang begitu organik ini memvisualisasikan bagaimana jejak kehidupan, identitas, dan pigmen alami fauna dipaksa memudar oleh sang waktu dan kepungan destruksi habitat.
Namun, titik yang paling menahan napas adalah bagian matanya. Di tengah dominasi warna tanah yang mentah dan kusam, Tsai Yu Han secara cerdas menanamkan warna hijau pirus (jadite/celadon) yang dingin dan jernih. Kontras dramatis ini seolah menjadi sisa kesadaran terakhir, sebuah tatapan jernih yang membeku pasrah sebelum kepunahan total menjemput.
Menyentuh tatapan itu terasa kian emosional berkat artikulasi teksturnya yang kaya dan berlapis. Lewat teknik goresan (incising), guratan kasar, dan lelehan glaze, permukaan patung ini menghidupkan karakter tanah liat yang liar. Punggung kepalanya terasa kasar berbenjol menyerupai sisik reptil atau batuan karang, sementara torehan garis-garis sejajar di sisi moncongnya memberi dinamika serat mirip tulang lapuk atau bulu yang telah memfosil. Di sela-sela lekukan kasar itu, lelehan putih mengkilap hadir memberi lapisan basah yang memikat.
Lewat Fading, Tsai Yu Han tidak sekadar memamerkan keterampilan mengolah medium keramik, melainkan sedang menyampaikan kritik ekologis yang amat puitis. Manipulasi tekstur dan paduan nada bumi ini berdiri sebagai monumen peringatan sunyi atas kepunahan makhluk hidup yang terus mengintai.
Karya ini berhasil menerjemahkan kegelisahan zaman ke dalam bongkahan tanah liat. Ia menegaskan pesan tajam bagi kita semua: jika manusia modern terus mengabaikan tanggung jawab ekologisnya, maka keanekaragaman satwa di bumi kelak hanya akan menjadi artefak sunyi di galeri seni. Sebuah “kepudaran” artifisial yang meratapi makhluk-makhluk luar biasa yang pernah ada, namun gagal kita selamatkan. *)






















