
Oleh: Irawan Winata
(Penulis dan Praktisi Seni)
SELALU ada kejutan yang menghentak nurani ketika materi sisa disentuh oleh kedalaman rasa. Di sudut Galeri Taman Budaya Sumatra Barat (Padang, 8–14 Oktober 2026), dalam keriuhan ajang The Arby Samah International Sculpture Residency and Exhibition, patung karya Don Wright bertajuk “The Sound of Silent” (2019) berdiri anggun mencuri perhatian. Dari kejauhan, ia memancar sebagai figurasi yang estetis, elegan, dan penuh wibawa, menampilkan dua sosok yang duduk berdampingan. Namun, kejutan sebenarnya baru terasa ketika langkah didekatkan, keindahan visual yang begitu rapi dan bertekstur rumit itu ternyata lahir dari lilitan kawat sisa dan limbah yang diolah secara jenius, hingga jejak kusam material aslinya melebur tak berbekas.
Sihir transformasi ini menghapus asal-usulnya yang murahan melalui kerapian teknik yang luar biasa. Kawat-kawat bekas yang kaku, acak, dan mulanya terbuang begitu saja, dirajut dan dililit dengan ketelitian tinggi hingga menyerupai jalinan serat otot, kerapatan rambut ikal, hingga dinamisnya lipatan pakaian. Tanpa pengamatan mendalam, siapapun tak akan menyadari bahwa tubuh indah itu bersumber dari rongsokan industri. Di titik ini, Don Wright seolah berbisik bahwa batas antara barang tak terpakai dan karya seni bernilai tinggi betapa tipisnya, hanya berjarak sejauh sentuhan kreativitas dan kejernihan visi estetik.
Namun, daya pikat “The Sound of Silent” tak berhenti pada kepiawaian mendaur ulang material. Jiwa dari karya ini justru bergetar pada pesan kemanusiaan yang menancap tajam. Kedua figur tersebut digambarkan duduk bersisian namun saling memunggungi, dengan kepala tertunduk dalam. Di jemari kaku mereka, tergenggam sebuah benda kecil yang menjadi simbol puncak kemajuan zaman yakni handphone. Kehangatan dan komunikasi langsung yang seharusnya terajut alami saat tubuh berdekatan, justru mendadak musnah. Benda canggih itu menjelma tembok rapat tak kasat mata membuat mereka hadir di ruang fisik yang sama, tetapi jiwa masing-masing telah terlempar jauh ke belantara digital.
Ironi yang lahir begitu getir sekaligus menyentil. Patung kawat sisa ini pada akhirnya menjadi cermin retak bagi manusia modern itu sendiri. Kesibukan tanpa jeda menatap layar gawai perlahan-lahan mengikis esensi kebersamaan dan kehadiran jiwa di dunia nyata. Ketika waktu, perhatian, dan ketulusan tatap muka diabaikan demi interaksi semu di alam maya, tanpa sadar manusia sedang mereduksi harkat dirinya. Mereka terasing di tengah keramaian, pelan-pelan “menjadi sampah” yang terbuang dari relasi sosial yang bermakna, serta kehilangan fungsi hakikinya sebagai makhluk yang bernapas dan merasa.
Melalui keheningan “The Sound of Silent”, terselip peringatan sekaligus ruang perenungan bagi peradaban kita hari ini. Kemajuan teknologi sejatinya hadir untuk mendekatkan yang jauh, bukan malah merenggangkan apalagi merusak ikatan silaturahmi yang berada tepat di depan mata. Pameran internasional ini menjadi panggilan nurani agar kita kembali memegang kendali atas teknologi, meletakkan gawai sejenak, menyapa dengan tulus, dan menatap mata orang-orang di sekitar sebelum diri ini benar-benar membatu menjadi figur kaku yang kehilangan roh di tengah riuhnya dunia.
Sebab pada akhirnya, di sinilah letak tuah tertinggi dari sebuah karya. Seniman sejati bukan mereka yang sekadar merangkai keindahan bentuk untuk memanjakan mata, melainkan yang mampu menghadirkan isu kritis dan kebenaran yang jujur, hingga siapa saja yang menatapnya tersentak sadar akan realitas hidupnya sendiri. *)






















