
Oleh: Oktavia Ramadhani
(Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas / NIM 2410742026)
SUASANA sore di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand) mulai terasa berbeda. Di bawah langit yang kadang mendung, sekelompok mahasiswa tampak bergerak serempak membentuk lingkaran. Tepuk tangan, hentakan kaki, alunan suara, serta tawa bercampur menjadi satu. Itulah suasana latihan mahasiswa Sastra Minangkabau Universitas Andalas saat menjalani mata kuliah randai.
Randai merupakan salah satu kesenian tradisional Minangkabau yang memadukan cerita, dialog, gerak, musik, dan unsur silek dalam satu pertunjukan. Bagi mahasiswa Sastra Minangkabau, mempelajari randai tidak hanya dilakukan melalui teori di dalam kelas, tetapi juga melalui praktik langsung. Dari proses latihan hingga pementasan, mahasiswa diajak memahami bagaimana randai tumbuh dan tetap hidup sebagai bagian dari budaya Minangkabau.
Mahasiswa semester empat angkatan 2024 saat ini tengah menjalani latihan intensif untuk pertunjukan randai sebagai bagian dari penilaian akhir mata kuliah. Pertunjukan tersebut direncanakan akan digelar di Kota Tua Padang dalam acara pentas seni dan budaya yang diselenggarakan oleh dinas pariwisata. Tempat itu merupakan salah satu ruang terbuka yang sering digunakan untuk berbagai pertunjukan seni dan budaya di Kota Padang. Kesempatan tampil di ruang publik menjadi pengalaman berharga karena pertunjukan nantinya tidak hanya disaksikan oleh dosen dan mahasiswa saja, tetapi juga masyarakat umum.
Sebelumnya, mahasiswa Sastra Minangkabau juga pernah menampilkan randai saat kegiatan pengkaderan jurusan. Pengalaman tersebut menjadi bekal awal untuk memahami suasana pertunjukan di depan penonton. Namun, pementasan kali ini terasa lebih menantang karena persiapannya lebih matang dan melibatkan banyak proses. Dalam randai, mahasiswa tidak hanya berakting dan berdialog, tetapi juga harus bergerak mengikuti irama khas Minang serta mempelajari gerakan silek yang menjadi ciri utama pertunjukan.
Latihan biasanya dilakukan di MNB Medan Nan Balinduang yang berada di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Tempat ini menjadi lokasi yang paling sering digunakan mahasiswa untuk berlatih karena cukup luas. Hampir setiap sore setelah perkuliahan selesai, tempat tersebut dipenuhi suara tepuk tangan, langkah kaki, dan diskusi kecil antaranggota kelompok. Tidak jarang latihan berlangsung hingga menjelang malam, terutama ketika jadwal pementasan mulai dekat.
Proses latihan dimulai sejak pertengahan semester. Tahap awal diawali dengan pembacaan dan pemahaman naskah yang dipilih oleh mahasiswa sendiri. Mereka diberi kebebasan untuk menentukan cerita, mengembangkan konflik, memilih latar, hingga menyesuaikan dialog agar lebih mudah dipahami penonton. Diskusi sering berlangsung cukup panjang karena setiap anggota memiliki ide dan pandangan yang berbeda.
Setelah naskah disepakati, mahasiswa mulai dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil sesuai dengan peran masing-masing. Ada yang menjadi pemain utama, pemain lingkaran, dan bagian musik. Dalam randai, kekompakan menjadi hal yang sangat penting. Setiap gerakan harus dilakukan secara serempak, baik itu tepukan tangan, langkah kaki, maupun perpindahan posisi dalam lingkaran. Jika satu orang terlambat bergerak atau salah posisi, keseluruhan penampilan dapat terlihat tidak selaras.
Bagian latihan gerak menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian mahasiswa. Tidak semua memiliki pengalaman dalam seni pertunjukan ataupun silek. Gerakan yang awalnya terasa kaku perlahan mulai terbentuk setelah latihan dilakukan berulang-ulang. Selain menghafal dialog, pemain juga harus menyesuaikan ekspresi, intonasi suara, dan gerakan tubuh agar cerita dapat tersampaikan dengan baik kepada penonton.
Latihan tidak selalu berjalan mulus. Ada saja momen ketika pemain lupa dialog, salah masuk adegan, atau tertukar posisi dalam lingkaran. Namun, suasana latihan tetap terasa menyenangkan karena sering diselingi tawa dan candaan. Kebersamaan selama proses latihan membuat hubungan antarmahasiswa menjadi semakin dekat. Tidak jarang latihan yang awalnya terasa melelahkan justru berubah menjadi momen yang paling dinanti setelah perkuliahan selesai.
Selain pemain, bagian musik juga memiliki peran penting dalam pertunjukan randai. Iringan musik tradisional menjadi penghidup suasana dalam setiap adegan. Tempo gerakan, suasana cerita, hingga perpindahan adegan sangat dipengaruhi oleh irama musik yang dimainkan. Karena itu, koordinasi antara pemain dan pemusik harus benar-benar diperhatikan agar pertunjukan dapat berjalan dengan baik dan selaras.
Pertunjukan randai yang akan dilaksanakan di Kota Tua Padang nantinya diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari penilaian mata kuliah saja. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali randai kepada masyarakat luas, terutama generasi muda. Di tengah perkembangan hiburan modern, randai tetap memiliki daya tarik tersendiri karena memuat nilai budaya, kebersamaan, dan identitas masyarakat Minangkabau.
Bagi mahasiswa Sastra Minangkabau, proses latihan ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Tidak hanya belajar tentang seni pertunjukan, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan cara menjaga budaya sendiri agar tetap hidup. Melalui latihan yang panjang dan berbagai tantangan selama proses persiapan, mahasiswa semakin memahami bahwa randai bukan sekadar tontonan, melainkan warisan budaya yang patut dijaga dan diperkenalkan kembali kepada masyarakat.
Selain menjadi bagian dari perkuliahan, latihan randai juga memberikan pengalaman yang sulit dilupakan bagi mahasiswa. Setiap proses yang dijalani bersama membuat mahasiswa semakin memahami pentingnya menjaga kekompakan dan saling menghargai. Dari latihan inilah tumbuh rasa bangga terhadap budaya Minangkabau yang tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Selain itu, latihan randai juga melatih rasa percaya diri mahasiswa saat tampil di depan banyak orang. Bagi sebagian mahasiswa, berdiri di tengah lingkaran sambil berdialog dan bergerak sesuai irama bukanlah hal yang mudah. Namun, melalui latihan yang terus dilakukan, rasa gugup perlahan mulai berkurang. Suasana latihan yang penuh kebersamaan membuat proses persiapan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Dari sini, mahasiswa tidak hanya belajar memahami seni tradisional, tetapi juga belajar menghadapi tantangan, membangun keberanian, dan bekerja sama demi menampilkan pertunjukan terbaik untuk masyarakat yang nantinya hadir menyaksikan pementasan randai. *)























