
Oleh: Muhammad Najmi
ALLAH SWT berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 37: “Dan janganlah kamu berjalan di bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.”
Ayat ini mengandung pesan mendalam tentang sikap rendah hati dan menjauhi kesombongan. Allah mengingatkan kita bahwa manusia, sehebat apapun pencapaiannya, tetaplah makhluk yang terbatas. Kita tidak mampu menembus bumi yang kita pijak atau menjulang setinggi gunung yang kokoh. Lalu, apa yang sebenarnya layak kita sombongkan?
Ketika Ramadhan datang mengetuk pintu hati, ia membawa pesan yang selaras dengan ayat ini: merundukkan ego dan melembutkan hati. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan spiritual untuk menekan kesombongan yang seringkali tak terasa menyelinap dalam diri.
Ramadhan: Bulan Meluruhkan Kesombongan
Sadar atau tidak, kita sering kali terjebak dalam sikap merasa lebih baik dari orang lain. Entah karena jabatan, kekayaan, ilmu, atau bahkan ibadah. Namun, Ramadhan mengajarkan kita untuk mematahkan rasa “lebih” itu. Saat perut kosong di siang hari, kita diingatkan bahwa tanpa karunia-Nya, kita tak berdaya.
Apa yang kita banggakan ketika segelas air saja terasa begitu berharga saat berbuka? Di hadapan Allah, kita semua hanyalah hamba yang lemah. Lapar dan haus menyadarkan kita bahwa di balik segala atribut duniawi, manusia hanyalah makhluk yang rapuh.
Belajar Tunduk dan Menghamba
Dalam hiruk-pikuk kehidupan, kadang kita lupa bahwa segala pencapaian yang kita miliki bukan murni hasil kerja keras sendiri. Kesehatan, kesempatan, dan rezeki semuanya adalah titipan Allah. Ramadhan mengajarkan kita untuk menundukkan hati dan mengakui bahwa kita ini hanyalah tamu di dunia.
Puasa mengikis kesombongan dengan cara yang halus namun mendalam. Kita yang biasanya bebas menikmati segala hal, kini diingatkan untuk menahan diri. Ini adalah bentuk latihan merendahkan hati di hadapan-Nya, menyadari betapa kecilnya kita di tengah luasnya ciptaan Allah.
Merendah untuk Meninggi di Sisi Allah
Ironisnya, di dunia ini sering kali yang paling membanggakan dirinya justru yang paling kosong. Sementara mereka yang benar-benar berilmu, berharta, dan beramal justru memilih merendah. Rasulullah SAW, manusia paling mulia, adalah contoh terbaik dalam hal ini. Di tengah kemuliaannya, beliau tetap hidup sederhana, tidur di atas tikar kasar, dan tak pernah merasa lebih tinggi dari umatnya.
Ramadhan memberikan kita kesempatan untuk kembali belajar menjadi hamba. Kita melatih diri untuk tidak berjalan di muka bumi dengan kesombongan, tetapi dengan rasa syukur dan rendah hati. Karena sejatinya, bukan kekayaan atau kedudukan yang memuliakan kita di hadapan Allah, melainkan ketakwaan.
Menutup Ramadhan dengan Hati yang Lembut
Ketika kita melangkah menuju penghujung Ramadhan, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri: Apakah hati ini sudah lebih lembut? Apakah ego sudah mulai luruh? Ataukah puasa ini hanya menjadi rutinitas fisik tanpa menyentuh jiwa?
Jangan biarkan Ramadhan berlalu tanpa meninggalkan bekas di hati kita. Mari jadikan bulan ini sebagai titik awal untuk berjalan di muka bumi dengan lebih rendah hati. Karena pada akhirnya, seperti firman Allah, kita tak akan mampu menembus bumi atau menjulang setinggi gunung—tapi dengan kerendahan hati, kita bisa menggapai kemuliaan di sisi-Nya.
Semoga Ramadhan ini menjadi momen untuk membakar kesombongan, menyuburkan keikhlasan, dan menguatkan langkah kita menuju ridha Allah SWT. Aamiin.
Muhammad Najmi
“Semesta mengalirkan kebaikan, keberkahan, keajaiban, dan kemakmuran bagi hati yang suci, ikhlas, dan yakin.” *)
























