
Oleh: Fajri Frayoga
TRADISI marantau urang Minangkabau bapadoman ka papatah; “Dima bumi dipijak, disinan langik dijujunjuang”, karano “Lain ladang lain bilalang, lain lubuak lain ikannyo”, supayo “Hiduik bak cando pucuak ubi, dima tacampak sinan tumbuah”
Arti dari 3 pepatah tersebut yakni; “Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung”, karena “Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya”, supaya “hidup seperti pucuk singkong, dimanapun terbuang disana tumbuh”.
Ketiga pepatah ini mengajarkan orang Minangkabau tentang perbedaan dan bagaimana beradaptasi.
Minangkabau adalah suku yang terkenal dengan budaya merantaunya. Dahulu merantau sudah menjadi tradisi bagi lelaki Minangkabau karena mereka malu jika sudah dewasa masih berkecimpung di rumah dan kampung. Sesuai juga dengan pepatah “karakatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun”.
Pepatah ini menambah motivasi lelaki Minangkabau untuk merantau. Bukan berarti lelaki Minangkabau itu tidak berguna di rumah. Melainkan sebaiknya dia merantau dahulu dan mencari uang baru kemudian hari kembali ke rumah dan bisa merubah nasib keluarga.
Hasrat yang kuat pergi merantau untuk “mambangkik batang tarandam” yaitu untuk mengangkat derajat keluarga supaya tidak dipandang sebelah mata lagi.
Setelah sampai di rantau orang Minangkabau selalu ingat dengan pepatah pertama pada awal tulisan ini. Dimana pepatah tersebut berarti dimanapun kita berada kita harus mampu beradaptasi dengan masyarakat di lingkungan yang baru kita tempati.
Kita harus menghargai adat dan budaya setempat. Tetapi jangan sampai melupakan jati diri kita sebagai orang Minangkabau. Pepatah kedua, mengajarkan kita lain tempat lain juga adat dan aturannya. Kita tidak boleh menyamakan adat kita dengan tempat yang baru kita datangi. Karena Indonesia itu kaya akan berbagai macam budaya dan adat istiadatnya. Jangan sampai kita melanggar adat mereka, sehingga akan menimbulkan masalah di perantauan.
Setelah kita mengamalkan dua pepatah tadi maka kita akan bisa menjadi seperti pucuk ubi. Maksud dari pepatah yang ketiga adalah orang Minangkabau itu seperti pucuk ubi, dimanapun ia dicampakkan atau diletakkan, maka ia dapat tumbuh atau meyesuaikan diri. Karena akar pucuk ubi bisa beradaptasi dengan jenis tanah apapun. Begitu pula dengan orang Minangkabau, ia bisa beradaptasi dengan lingkungan di rantau sehingga tak jarang kita mendengar orang Minangkabau yang sukses dirantau.
Sekarang tradisi merantau ini masih berlanjut di Minangkabau. Bahkan sekarang bukan hanya lelaki saja yang merantau melainkan juga dengan perempuan. Banyak hal yang menyebabkan terjadinya pergeseran ini. Karena dahulu perempuan Minangkabau itu menetap di kampung untuk menghuni Rumah Gadang. Karena perempuan Minangkabau itu adalah Limpapeh Rumah Gadang. Namun sekarang mereka juga harus mencari uang sampai ke negeri orang.
Tidak dapat dipungkiri faktor utama yang mendasarinya adalah faktor ekonomi. Mereka juga ingin berpenghasilan sendiri dan tidak membebani orang tuanya lagi. Mereka mau memperbaiki juga perekonomian keluarganya dan membantu adik-adiknya.
Selain faktor ekonomi, faktor pendidikan juga menjadi salah satu penyebab perempuan merantau. Banyak yang diterima kuliah di luar Sumatera Barat sehingga mengharuskan mereka untuk pergi meninggalkan kampung halamannya demi menuntut ilmu pengetahuan.
Mereka mematahkan stigma masyarakat bahwa perempuan tidak perlu berpendidikan tinggi karena kelak ujung-ujungnya ke dapur juga mengurusi anak dan suaminya. Mereka tidak mau terlalu bergantung pada lelaki karena jika ia berpenghasilan sendiri maka ia bisa membeli apa yang dia inginkan dan kelak anaknya tidak hidup susah.
Kehidupan di rantau, baik itu bagi lelaki maupun perempuan, harus tetap berpedoman pada pepatah yang telah dijelaskan tadi. Karena orang akan menghargai kita jika kita bisa menjaga sikap dan hormat kepada orang lain.
Sebuah fakta yang dibanggakan oleh orang Minang adalah Rumah Makan Padang itu ada dimana–mana. Tersebar dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia. Tidak dipungkiri Nasi Padang disukai oleh berbagai kalangan. Semua ini terkenal karena perantau Minang lah yang mendirikan Rumah Makan Padang di perantauan.
Banyak orang Minang yang sukses di rantau karena Rumah Makan Padang-nya. Tetapi di Minang sendiri tidak disebut Nasi Padang melainkan Nasi Bungkus. *)
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas























