• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Sabtu, Mei 30, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Eksistensi Tarekat Syattariyah di Aceh Berlanjut ke Minangkabau

10 April 2023
in Berita
Reading Time: 4min read
Views: 2,550
Fajri Frayoga, Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand). (Foto : Dok)

Oleh: Fajri Frayoga

TAREKAT Syattariyah adalah sebuah tarekat yang cukup populer dan banyak pengikutnya di Indonesia, terutama di Aceh dan Sumatera Barat. Tarekat Syattariah terkenal lebih menekankan ritual dzikirnya.

Tarekat ini awalnya muncul pada abad ke-15 di India yang dinisbahkan kepada seorang ulama yang bernama Syekh Abdullah Asy-Syattar. Beliau berdakwah dengan cara menyatu dengan tradisi masyarakat setempat. Kemudian paham Syattariah ini dikembangkan oleh muridnya yang bernama Muhammad Ghaus dari Gwalior (w. 1562).

Lihat Juga

Pemkab Tanah Datar Daerah Pertama yang Peroleh WTP 14 Kali Berturut-turut

Pemkab Tanah Datar Daerah Pertama yang Peroleh WTP 14 Kali Berturut-turut

29 Mei 2026
11
Pemko Pariaman Kembali Raih Opini WTP ke-13 Kalinya

Pemko Pariaman Kembali Raih Opini WTP ke-13 Kalinya

29 Mei 2026
9
Pemkab Agam Kembali Meraih Opini WTP Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah

Pemkab Agam Kembali Meraih Opini WTP Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah

29 Mei 2026
8

Cara mengembangkan tarekat oleh Muhammad Ghaus sangatlah unik. Beliau menggunakan gerakan atau praktik yoga. Selanjutnya diteruskan oleh seorang yang sangat dihormati di Tanah Gujarat yang bernama Syah Wajihuddin (w. 1609).

Kemudian murid Wajihuddin inilah yang membawa tarekat Syattariyah ke tanah Arab. Beliau bernama Sibghatullah bin Ruhullah (w. 1606). Akhirnya barulah dilanjutkan oleh Ahmad Syimnawi (w. 1619), Ahmad al-Qusyasyi (w. 1661), Ibrahim al Kurani (w. 1689).

Tarekat Syattariah ini masuk ke Indonesia yang dibawa oleh Syekh Abdurra’uf Singkili, ulama yang berasal dari Aceh. Beliau adalah murid dari Syekh Ahmed Al-Qusyasyi dan Syekh Ibrahim Al Kurani.

Syekh Abdurra’uf pada masa itu sudah dikenal oleh masyarakat setempat. Ratu kerajaan Aceh pada masa itu yang bernama Syafiyyatu Ad-Din, tertarik dengan ajaran yang dibawa oleh Syekh Abdurra’uf. Ratu meminta Syekh Abdurra’uf mengajarkan dan menuliskan tarekat syattariah ini dalam bentuk buku. Kemudian dituliskan sebuah buku oleh Syekh Abdurra’uf yang berjudul At-Tariqatu Asy-Syattariah.

Karena keterlibatan Ratu dalam tarekat Syattariah membuat ajaran ini semakin berkembang di lingkup istana. Kemudian juga mulai berkembang ke penduduk kerajaan.

Pada abad ke-17 M terjadilah pertentangan dari ulama Syattariah terhadap aliran Wujuddiyah yang muncul di Aceh kala itu.

Ajaran Wujuddiyah ini adalah Panteisme dari Ibnu Arabi yang dianut dan dikembangkan oleh Hamzah Fansuri dan Syamsuddin As-Sumatrani. Ajaran ini mengatakan wujud Tuhan dan wujud makhluk hidup itu adalah kesatuan dan membedakan antara hakikat dengan syariat.

Munculnya paham Wujuddiyah memicu pertentangan oleh para ulama tarekat Syattariah. Ajaran wujuddiyah ini dianggap sesat karena akibat ajaran ini tidak ada bedanya makhluk dengan Tuhan dan semua itu telah menyimpang sehingga pengikutnya meninggalkan syariat Allah SWT.

Pertentangan pertama dalam kerajaan Aceh digerakkan oleh Syekh Muhammad Jailani ibn Hasanji ibn Muhammad Hamid atau lebih dikenal dengan Nur Al-Din ar-Raniri. Tindakan yang dilakukan oleh ar-Raniri ini terbilang anarkis karena beliau membakar karya Hamzah Fanzuri dan Syam al-Din Sumatrani di depan Masjid Raya Banda Aceh. Karena karya – karya tersebut pemicu perluasan konsep – konsep aliran Wujuddiyah.

Selanjutnya ar-Raniri menetapkan hukum bunuh kepada para penganut aliran Wujuddiyah yang tidak mau bertobat dan mereka di cap kafir oleh ar-Raniri.

Penolakkan yang kedua dilakukan oleh pembawa tarekat Syattariah, yaitu Syekh Abddura’uf Singkili. Penolakan ini dilakukan lebih moderat atau tujuannya adalah sebagai penengah dari konflik yang sedang hangat pada masa itu.
Syekh Abdura’uf menjelaskan kesalahan yang terdapat di dalam aliran Wujuddiyah dan memberikan pemahaman yang benar kepada para pengikut aliran Wujuddiyah.

Syekh Abdurra’uf menjelaskan bahwa manusia itu tidak sama zatnya dengan Tuhan. Tuhan tetaplah Tuhan. Apapun yang dikendaki oleh Tuhan maka akan terjadi di saat itu juga sedangkan tidak dengan manusia. Yang diinginkan manusia tidak dapat terjadi saat itu karena semua itu atas izin Tuhan.

Ternyata sifat gurunya yang lebih memilih jalan sebagai penengah ini diwarisi oleh muridnya. Salah satu muridnya yaitu Syekh Abdurrahman Bawan yang berasal dari Agam, Minangkabau.

Syekh Abdurrahman menjawab segala pertanyaan tentang paham Wujuddiyah yang berkembang di Aceh kala itu. Beliau menjawabnya dan membuat sebuah naskah yang bernama naskah Jawab al-Musykilat.

Dalam naskah ini beliau menengahi perdebatan antara pengikut paham Wujuddiyah dengan pengikut tarekat syattariah. Beliau memperbaiki pemahaman darii segala kesalahan yang terdapat dalam ajaran Wujuddiyah.

Selanjutnya tarekat Syattariyah ini juga berkembang di daerah tempat penulis lahir. Tarekat ini dibawa oleh Pono atau lebih dikenal dengan Syekh Burhanuddin, yang juga merupakan murid dari Syekh Abdurra’uf Singkili. Tetapi sebelum berguru ke Syekh Abdurra’uf, Syekh Burhanuddin terlebih dahulu juga belajar kepada Syekh Ahmad al-Qusyasyi di Madinah. Namun setelah Syekh Qusyasyi wafat beliau kembali ke Nusantara dan berguru ke Syekh Abdurra’uf di Aceh.

Kisah kedatangan Syekh Burnauddin ke Aceh ini sudah diwasiatkan oleh Syekh Qusyasyi kepada Syekh Abdurra’uf sebelum beliau wafat. Wasiat tersebut berbunyi “Ketika kamu sampai di Aceh, ada lima orang yang akan datang berguru. Salah satunya berasal dari Ulakan, yaitu Burhanuddin. Kakinya akan lebih tinggi dari tanah”.

Kemudian pada tahun 1662 datanglah Pono dan empat kawannya ke Aceh. Dan Syekh Abdurra’uf lah yang memberikan nama Burhanuddin kepada Pono.

Menurut Oman Faturahman, Burhanuddin belajar di Aceh selama 18 tahun. Karena ilmu yang dimilikinya sudah dirasa cukup maka Burhanuddin disuruhlah oleh Syekh Abdurra’uf kembali ke Ulakan.

Setelah kembali dari Aceh, Syekh Burhanuddin mendirikan sebuah surau yang dikenal dengan Surau Gadang. Syekh Burhanuddin menjadikan surau waktu itu bukannya hanya tempat untuk mengaji, tetapi juga tempat untuk belajar silat.

Saat itulah Syekh Burhanuddin mengajarkan tarekat Syattariyah kepada masyarakat, bahwa cara kita dekat dengan Allah SWT melalui ilmu kebatinan. Karena itulah dalam ajaran tarekat Syattariyah menekankan dzikir.

Syekh Burhanuddin wafat pada tahun 1704 dan banyak meninggalkan berbagai karya tulis. Ajaran Syekh Burhanuddin juga masih bertahan sampai saat sekarang ini. Contohnya saja di tempat tinggal penulis masih menjalankan salah satu ajaran Syekh Burhanuddin yaitu Maniliak Bulan.

Maniliak Bulan atau mancaliak bulan (melihat bulan) adalah tradisi yang dilakukan oleh para pengikut ajaran Syattariah. Maniliak bulan ini dilakukan sehari sebelum memasuki bulan Ramadhan. Kalau di kampung penulis di Tandikek, Kabupaten Padang Pariaman, untuk penetapan hari puasa masyarakat akan pergi ke Pantai Ulakan untuk melihat bulan.

Setelah bulan terlihat maka pada malam harinya akan dibunyikan meriam sebanyak 2 kali di surau Gadang. Surau yang memiliki banyak sejarah karena sudah ada sejak zaman Belanda. Meriam yang ada di surau ini katanya juga peninggalan dari penjajah Belanda.

Jadi para pengikut ajaran Syattariah di Tandikek akan lambat berpuasa 1-2 hari dibandingkan orang yang berpuasa mengikuti kalendar. Tetapi Lebaran-nya juga lambat beberapa hari.

Penulis sendiri juga masih menjalankan ajaran ini, karena apa salahnya kita menjalankan apa yang telah diajarkan oleh ulama terkenal yang telah memajukan Islam di Minangkabau ini. Selain itu jangan berlagak sok pintar hanya dengan ilmu seujung kuku. Ingat lah adab lebih tinggi daripada ilmu. *)

Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Ciri-ciri Masyarakat Minangkabau

Next Post

Tingkat Konsumsi Daging Masyarakat Rendah, Sultan Dorong Pemerintah Daerah Kembangkan Industri Ternak Modern

BeritaTerkait

Pemkab Tanah Datar Daerah Pertama yang Peroleh WTP 14 Kali Berturut-turut
Berita

Pemkab Tanah Datar Daerah Pertama yang Peroleh WTP 14 Kali Berturut-turut

29 Mei 2026
11
Pemko Pariaman Kembali Raih Opini WTP ke-13 Kalinya
Berita

Pemko Pariaman Kembali Raih Opini WTP ke-13 Kalinya

29 Mei 2026
9
Pemkab Agam Kembali Meraih Opini WTP Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah
Berita

Pemkab Agam Kembali Meraih Opini WTP Terhadap Pengelolaan Keuangan Daerah

29 Mei 2026
8
Warga Huntara Lubuk Buaya Padang Dapat Bantuan Tiga Ekor Sapi
Berita

Warga Huntara Lubuk Buaya Padang Dapat Bantuan Tiga Ekor Sapi

28 Mei 2026
8
Minang Diaspora Network Global Beri “Anugerah Mahakarya Literasi Budaya Minangkabau” untuk Buya HMA
Berita

Minang Diaspora Network Global Beri “Anugerah Mahakarya Literasi Budaya Minangkabau” untuk Buya HMA

28 Mei 2026
21
Idul Adha 1447 H, Bupati Mentawai Serahkan Sapi Kurban ke Mesjid Al-Furqon Sikakap
Berita

Idul Adha 1447 H, Bupati Mentawai Serahkan Sapi Kurban ke Mesjid Al-Furqon Sikakap

28 Mei 2026
27
Next Post
Tingkat Konsumsi Daging Masyarakat Rendah, Sultan Dorong Pemerintah Daerah Kembangkan Industri Ternak Modern

Tingkat Konsumsi Daging Masyarakat Rendah, Sultan Dorong Pemerintah Daerah Kembangkan Industri Ternak Modern

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (39,877)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,418)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,673)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,806)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (34,782)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (33,698)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,755)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,311)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (30,452)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,155)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
172
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
354
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
497
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
237
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
119
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
152
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
133
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
193
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
128

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In