• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Sabtu, Mei 30, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Ciri-ciri Masyarakat Minangkabau

10 April 2023
in Opini
Reading Time: 4min read
Views: 4,909
Fauziah Nur Hikmah, Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand). (Foto : Dok)

Oleh: Fauziah Nur Hikmah

MINANGKABAU merupakan salah satu suku yang ada di Indonesia. Masyarakat di Minangkabau menjadi salah satu masyarakat yang menganut sistem keturunan matrilineal, yang dimana sebagian besar Indonesia suku di Indonesia menganut sistem patrilineal.

Sebagai masyarakat yang menganut sistem matrilineal, sistem keturunan di Minangkabau di ambil dari keturunan ibu. Wanita di Minangkabau memiliki kedudukan yang tinggi. Seorang wanita keturunan Minang disebut dengan bundo kanduang.

Lihat Juga

Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras

Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras

29 Mei 2026
15
Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
64
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
38

Bundo kanduang merupakan sebutan untuk wanita dewasa di Minangkabau. Bundo kanduang sangat dihormati dan dihargai keberadaanya. Segala sesuatu yang terjadi di Rumah Gadang, bundo kanduang lah yang mengaturnya.

Dalam pakaian, bundo kanduang disebutkan sebagai limpapeh rumah nan gadang. Arti dari pepatah ini ialah sosok bundo kanduang ialah sosok yang melambangkan kebesaran dan kemuliaan serta menjaga marwah perempuan Minang.

Limpapeh memiliki arti tiang tengah dari bangunan rumah adat Minangkabau. Peran limpapeh dalam memperkokoh menegakkan bangunan adalah analogi dari peran ibu dalam sebuah keluarga.

Dalam sistem keturunan Matrilineal seorang anak akan mengikuti suku ibunya, dan orang yang sesuku dilarang untuk menikah. Lalu bagaimana peran laki-laki di Minangkabau?

Di samping kedudukan perempuan yang tinggi di Minangkabau, sosok laki-laki juga memiliki peran penting di tengah-tengah masyarakat atau di tengah-tengah kaumnya.

Jika perempuan atau bundo kanduang di Minangkabau memiliki peran dalam menjaga rumah gadang, maka laki-laki di Minangkabau disebut dengan niniak mamak. Yang dimana fungsi niniak mamak sendiri adalah sebagai pemegang sako atau datuak di Minangkabau.

Niniak mamak juga memiliki peran sebagai pemimpin dan pelindung bagi kaumnya. Seorang mamak memiliki tanggung jawab terhadap kemenakannya, baik itu di kaum maupun di keluarganya sendiri.

Itulah salah satu keunikan masyarakat Minangkabau, yang bertanggung jawab terhadap seorang anak ialah mamaknya, jika kemenakannya memiliki kesalahan, maka mamak lah yang berhak menasehatinya.

Lalu bagaimanakah peran ayah di Minangkabau? Sosok ayah di Minangkabau memiliki peran sebagai pemberi nafkah kepada anaknya, dan ayah tersebut juga memiliki tanggung jawab kepada kemenakan di kaumnya sendiri.

Selanjutnya yang dikatakan sebagai masyarakat Minangkabau yaitu masyarakat yang tinggal di Luhak Nan Tigo dan daerah rantau. Luhak Nan Tigo sendiri terdiri dari beberapa wilayah yaitu Luhak Tanah Datar, Luhak Agam, dan Luhak Limapuluh Kota.

Selanjutnya yaitu daerah rantau, dimana daerah rantau sendiri juga termasuk kawasan Minangkabau, yang merupakan kawasan atau nagari yang berada di luar kampung halaman.

Dalam konsep Minangkabau, rantau dikatakan juga sebagai kawasan yang berada di luar kawasan darek. Secara geografis daerah rantau dibagi menjadi Rantau Timur, Rantau Pesisir, Rantau Pasaman, dan Rantau Selatan.

Masyarakat Minang adalah masyarakat yang beragama Islam (muslim), sesuai dengan falsafah masyarakat Minang yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Yang merupakan filosofi hidup yang dipegang masyarakat Minangkabau yang menjadikan ajaran Islam sebagai satu- satunya landasan atau pedoman tata pola perilaku dalam kehidupan.

Masyarakat Minangkabau menjadikan Islam sebagai landasan dalam bertingkah laku dan menjadi pedoman dalam nilai-nilai kehidupan. Dengan kata lain yang dikatakan sebagai orang Minang adalah pastinya beragam Islam. Kasarnya jika ada orang yang tinggal di daerah Minangkabau, namun tidak beragama Islam, maka dia bukan dikatakan sebagai orang Minang.

Di Minang adat dan agama Islam berjalan seiringan. Sebenarnya nenek moyang masyarakat Minangkabau pada zaman dahulu menganut kepercayaan animisme dan dinamisme, namun kepercayaan tersebut berganti setelah revolusi budaya pasca terjadinya Perang Padri tahun 1837. Perang Padri menandai kepercayaan di Minangkabau secara keseluruhan.

Yang menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau adalah kebudayaan merantaunya dan makanan daerahnya yaitu rendang. Pemuda Minang pada umumnya dianjurkan untuk merantau, agar mendapat pandangan yang luas ketika pergi ke negeri orang.

Pada zaman dahulu kebudayaan merantau ini sudah ditanamkan dari kecil yaitu pemuda di Minangkabau tinggal di surau. Jika sudah beranjak dewasa para pemuda di Minang tidak diperbolehkan untuk tinggal di rumah orang tuanya lagi. Mereka akan tinggal di surau dan di surau inilah mereka akan belajar untuk mandiri.

Selain itu mereka juga di ajarkan tentang agama, pendidikan dan juga adat istiadat. Di surau juga diajarkan untuk bela diri atau silat. Jika mereka sudah memasuki dunia kerja maka biasanya mereka akan pergi merantau untuk mambangkik batang tarandam. Pepatah tersebut memiliki arti bahwa seorang anak yang mengangkat derajat keluarganya.

Namun yang unik dari masyarakat Minang sendiri ialah meskipun mereka meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke tempat lain, mereka diajarkan bahwa dima bumi dipijak di sinan langik dijunjuang yaitu dimana pun mereka tinggal mereka akan mematuhi segaka peraturan yang ada di negeri orang tersebut. Mereka akan beradaptasi dengan lingkungan tempat tinggal mereka yang baru.

Para masyarakat yang pergi merantau mereka akan mencari pandangan hidup dan pengalam yang baru yang nantinya berguna untuk membangun negeri dan untuk mengajarkan kepada anak dan kemenakannya yang ada di kampung.

Dan yang tak kalah unik sselanjutnya yaitu makanan khasnya yaitu rendang. Rendang menjadi salah satu makanan terfavorit di dunia, makanan yang berbahan dasar daging, santan, dan berbagai jenis rempah ini menjadi makanan yang lezat untuk disantap.

Namun apapun itu kita sebagai masyarakat Indonesia harus mempunyai jiwa sosial dan toleransi yang tinggi di tengah keberagaman suku bangsa Indonesia. Yang dimana setiap suku bangsa di Indonesia ini memiliki keunikannya sendiri.

Apapun sukunya, adat istiadatnya, budayanya, sudah seharusnya kita untuk saling mengormati dan menghargai. Dan juga kita perlu untuk melestarikan dan tetap menjaga kebudayaan kita, jangan sampai budaya dan adat istiadat yang telah ada sejak leluhur kita luntur di tengah era globalisasi ini. *)

Penulis adalah Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Koleksi Naskah Kuno Nusantara di EFEO Paris

Next Post

Eksistensi Tarekat Syattariyah di Aceh Berlanjut ke Minangkabau

BeritaTerkait

Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras
Opini

Zulkarnain: Bangkitkan lagi Kampung Sulaman Naras

29 Mei 2026
15
Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan
Opini

Bung Erik Khaidir: Untuk Percepatan Tarokcity Perlu Dibentuk Sebuah Badan

12 Mei 2026
64
Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing
Opini

Walikota Fadly Amran Ubah Wajah Pasar Raya Padang Jadi Glowing

8 Mei 2026
38
Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan
Opini

Fadly Amran Kandidat Kuat Gubernur Sumbar ke Depan

27 April 2026
106
Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman
Opini

Hendra Aswara, Energi Baru Padang Pariaman

26 April 2026
117
Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan
Opini

Efisiensi APBN 2026: Pareto, Subsidi Energi dan Politik Pengorbanan

25 April 2026
54
Next Post
Eksistensi Tarekat Syattariyah di Aceh Berlanjut ke Minangkabau

Eksistensi Tarekat Syattariyah di Aceh Berlanjut ke Minangkabau

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (39,872)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,418)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,673)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,806)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (34,777)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (33,693)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,755)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,310)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (30,447)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,155)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
172
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
354
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
497
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
237
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
119
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
152
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
133
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
193
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
128

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In