• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Rabu, Juni 24, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Abad Ke-10, Dharmasraya itu Sudah Menjadi Kota

28 Agustus 2019
in Artikel
Reading Time: 3min read
Views: 19,461

DHARMASRAYA, forumsumbar —Nama kerajaan kuno itu kini bertahan sebagai nama kabupaten di Sumatera Barat. Di tepi Sungai Batanghari yang mengalirinya terdapat kompleks bangunan bata yang menjadi bukti keberadaannya. Bangunan yang tersisa bagian pondasinya itu dikenal sebagai situs percandian Padang Roco. Di sana pula ditemukan alas arca paduka Amoghapasa, salah satu perwujudan Lokeswara.

Arca itu hadiah dari Sri Maharajadhiraja Krtanagara Wikrama Dharmmottunggadewa di Kerajaan Singhasari kepada Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa hampir delapan abad yang lalu.

“Bahagia!” kata itu mengawali prasasti yang terpahat pada lapik arca.

Lihat Juga

Manjujai Digital: Menghidupkan Kearifan Lokal Minangkabau untuk Cegah Stunting Sejak Dini

Manjujai Digital: Menghidupkan Kearifan Lokal Minangkabau untuk Cegah Stunting Sejak Dini

22 Juni 2026
41
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Desa Binaan HIMA IKM KM FKM Unand dalam Pencegahan DBD di Kelurahan Alai Parak Kopi Padang.

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Desa Binaan HIMA IKM KM FKM Unand dalam Pencegahan DBD di Kelurahan Alai Parak Kopi Padang.

13 Juni 2026
37
Di Balik Latihan Randai Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand

Di Balik Latihan Randai Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand

8 Juni 2026
42

Tepat 733 tahun yang lalu, arca Amoghapasa dikirim sebagai hadiah supaya ditegakkan di Dharmasraya. Arca itu diantar oleh empat pejabat Kertanagara.

“Semoga hadiah itu membuat gembira segenap rakyat di Bhumi Malayu, termasuk brahmaṇa, ksatrya, waisa, sudra dan terutama pusat segenap para aryya, Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa,” kata Prasasti yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Dharmasraya (Padang Roco). 

Bambang Budi Utomo, arkeolog senior Puslit Arkenas, mengatakan prasasti itu menandai bahwa nama Dharmmasraya telah disebut sejak abad ke-13. Yang menyebutnya adalah raja terbesar Singhasari. Artinya, nama itu sudah dikenal sampai ke Singhasari di tanah Jawa.

Utusan dari Jawa datang ke Kerajaan Malayu-Dharmasraya untuk menjalin persatuan dalam rangka menjalankan cita-cita politis Kertanagara, yaitu menyatukan wilayah Dwipantara. Tujuan lain waktu itu Kertanagara mendapat ancaman dari Kaisar Mongol di Tiongkok, Khubilai Khan. Untuk membendung serangan yang akan segera datang, Kertanagara menggandeng negara tetangga dengan mendatangi kerajaannya. Kekuatan Kerajaan Malayu-Dharmasraya diperhitungkan karena letaknya menguasai Selat Malaka dan Selat Karimata.

“Ini antisipasi serangan Mongol di mana dia melihat bahwa Khubilai Khan mau memperluas cakrawala mandalanya keluar dari daratan Tiongkok,” kata Bambang.

Kertanagara menempuh penyatuan dengan wilayah di luar Jawa bukan dengan peperangan. Melainkan dengan Pamalayu atau ekspedisi persahabatan ke wilayah Sumatra.

“Tentunya di Sumatera waktu itu ada Malayu-Dharmasraya,” kata Bambang. “Sriwijaya sudah hancur akibat masalah internal dan serangan Kerajaan Chola dari India. Lalu muncul Dharmasraya.”

Menurut Bambang, Malayu-Dharmasraya berkembang dari sebuah kota yang terbentuk paling tidak sejak abad ke-10. Waktu itu, nama Malayu dicatat oleh pelaut-pelaut asing untuk menyebut seluruh Pulau Sumatera.

“Banyak yang belum tahu kalau Malayu itu dulu sebutan untuk Sumatera, selain sebutan Swarnadwipa atau Swarnabhumi,”ujar Bambang.

Di Pulau Malayu, ada beberapa pusat pemerintahan yang nantinya berkembang menjadi kerajaan. Misalnya, pada abad ke-7, pusat pemerintahan di bantaran Sungai Musi berkembang menjadi Kerajaan Sriwijaya. Pusat pemerintahan di Sungai Batanghari menjadi Kerajaan Malayu yang berpusat di Jambi.  Dari Jambi kemudian berkembang menjadi Malayu di Dharmasraya, Sumatera Barat.

Bambang menyebut penelitian terbaru bahwa pada abad ke-10 telah ada permukiman di Dharmasraya. Masyarakatnya sudah mengadakan hubungan dengan wilayah luar. Buktinya, penelitian arkeologis menemukan banyak pecahan keramik Tiongkok.

“Ada perdagangan jarak jauh. Maknanya, permukiman itu sudah dapat dikategorikan sebagai kota, bukan lagi desa,” kata Bambang.

Pun sudah ada tulisan. Buktinya ada banyak prasasti singkat dari abad ke-10-11, jauh sebelum Prasasti Dharmasraya dituliskan di lapik Arca Amogapasha.

“Tepatnya di Hulu Sungai Batanghari, ada permukiman yang disebut Dharmasraya berdasarkan Prasasti Padang Roco,” kata Bambang.

Ada pula petunjuk Dharmasraya didiami bermacam suku bangsa. Salah satu buktinya, Prasasti Bandar Bapahat yang berbahasa Tamil ditemukan di Jorong Bukik Gombak, Nagari Baringin, Lima Kaum, Tanah Datar, Sumatra Barat. Isinya soal saluran air kuno. Diperkirakan ia dibuat pada masa pemerintahan Raja Adityawarman di Tanah Datar.

“Ada prasasti berbahasa Tamil artinya ada sekelompok masyarakat dari suku bangsa Tamil yang perlu diinfokan soal saluran air. Jadi rakyat sudah multietnis, bukan cuma multikultur,” kata Bambang.

Diperkirakan, perantau yang mendiami Dharmasraya masuk melalui Sungai Batanghari. Sungai ini secara umum merupakan pintu masuk budaya luar ke Sumatera Barat.

“Sudah memenuhi kriteria kota, sudah ada hubungan jarak jauh, sudah ada bentuk pemerintahan, sudah kenal tulis-menulis dan administrasi. Dari situ dapat diambil kesimpulan bahwa dari abad ke-10 Dharmasraya sudah berupa kota,” kata Bambang.

Jika lapik arca Amoghapasa ditemukan di Dharmasraya, maka arcanya ditemukan terpisah di Tanah Datar. Di punggungnya ada pahatan prasasti lainnya yang ditulis pada masa pemerintahan Raja Adityawarman pada 1347. Di sana, Adityawarman menyatakan dirinya sebagai raja bergelar Srimat Sri Udayadityawarma Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa.

“Ini pun mengindikasikan perpindahan pemerintahan dari Dharmasraya ke Tanah Datar. Mungkin oleh Raja Adityawarman,” kata Bambang.

Sayangnya, alasan perpindahannya belum begitu jelas. Pun keberadaan bukti peninggalan permukimannya. Padahal telah ada sekira 20 prasasti Adityawarman yang ditemukan di Tanah Datar. Satu di antaranya bahkan berkisah tentang pembangunan sebuah vihara. Namun, vihara itu belum diketahui keberadaannya.

“Beda dengan di Dharmasraya ada lima kelompok bangunan suci yang sudah diketahui keberadaannya,” kata Bambang.

Di Tanah Datar, bahkan sisa permukiman, pecahan tembikar misalnya, tak ditemukan, sedangkan di
Dharmasraya banyak.

Sumber : Risa Herdahita Putri (historia.id)

ShareTweetSendShare
Previous Post

Leonardy Harmainy: Bonus Demografi Jangan Sampai Jadi Mimpi Buruk

Next Post

Masalah HGU PT. SWP, Kepala Desa dan Camat di Belitung Timur Mengadu ke DPD RI

BeritaTerkait

Manjujai Digital: Menghidupkan Kearifan Lokal Minangkabau untuk Cegah Stunting Sejak Dini
Artikel

Manjujai Digital: Menghidupkan Kearifan Lokal Minangkabau untuk Cegah Stunting Sejak Dini

22 Juni 2026
41
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Desa Binaan HIMA IKM KM FKM Unand dalam Pencegahan DBD di Kelurahan Alai Parak Kopi Padang.
Artikel

Pemberdayaan Masyarakat Melalui Program Desa Binaan HIMA IKM KM FKM Unand dalam Pencegahan DBD di Kelurahan Alai Parak Kopi Padang.

13 Juni 2026
37
Di Balik Latihan Randai Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand
Artikel

Di Balik Latihan Randai Mahasiswa Sastra Minangkabau Unand

8 Juni 2026
42
Inovasi Pengelolaan Sampah Organik di Laboratorium Unand, dari Limbah Pratikum Bisa Menjadi Pupuk
Artikel

Inovasi Pengelolaan Sampah Organik di Laboratorium Unand, dari Limbah Pratikum Bisa Menjadi Pupuk

23 Mei 2026
20
Membangun Kepercayaan Diri Melalui Public Speaking
Artikel

Membangun Kepercayaan Diri Melalui Public Speaking

18 Mei 2026
37
Wisata Kuliner vs Wisata Budaya: Mengapa Rendang Lebih Dikenal daripada Sejarahnya Sendiri?
Artikel

Wisata Kuliner vs Wisata Budaya: Mengapa Rendang Lebih Dikenal daripada Sejarahnya Sendiri?

14 Mei 2026
27
Next Post
Masalah HGU PT. SWP, Kepala Desa dan Camat di Belitung Timur Mengadu ke DPD RI

Masalah HGU PT. SWP, Kepala Desa dan Camat di Belitung Timur Mengadu ke DPD RI

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,617)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,535)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,823)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,512)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,951)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,426)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,921)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,888)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,194)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,292)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
177
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
363
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
504
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
242
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
121
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
159
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
137
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
199
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
133

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In