
Oleh Boyke Sulaiman
ADA anak-anak yang mewarisi nama besar orang tuanya. Ada pula yang mewarisi semangatnya. Bagi saya, Ikhsan Rosha adalah yang kedua.
Putra almarhum sahabat saya itu tidak hidup di bawah bayang-bayang ayahnya, tetapi tumbuh menjadi seniman dengan jejaknya sendiri.
Jika sang ayah dikenal sebagai pemusik lagu-lagu berirama Latin dan Melayu, Ikhsan melanjutkan kecintaan itu dengan cara yang berbeda.
Ia membuat puisi bernyanyi.
Saya mengenal Ikhsan bukan hanya sebagai seorang musisi, melainkan sebagai kawan dalam proses kreatif.
Ketika berada di Padang, saya berkesempatan bekerja bersamanya menggarap beberapa puisi karya saya dan karya penyair Syarifuddin Arifin.
Puisi-puisi itu dimusikalisasikan untuk ditampilkan dalam kegiatan “Unand Berpuisi”, yang diselenggarakan dalam rangka memperingati 70 tahun Universitas Andalas sekaligus 70 tahun usia penyair Syarifuddin Arifin.
Kegiatan itu diprakarsai oleh HAMAS (Himpunan Media Sumbar) di bawah kepemimpinan Bung Isa Kurniawan.
Dalam pertunjukan tersebut kami tampil bersama sebagai Kelompok 3 Tambud: yakni; Boyke Sulaiman, Ikhsan Rosha dan Nurul Widya Ningsih.
Dari sanalah saya melihat bagaimana Ikhsan bekerja. Ia bukan tipe pemusik yang tergesa-gesa mencari melodi. Ia membaca puisi berulang-ulang, menangkap irama yang tersembunyi di balik kata-kata, lalu perlahan menyusun komposisi yang tidak menutupi puisi, tetapi justru menghidupkannya.
Saya percaya, tidak semua pemusik mampu melakukan itu. Musikalisasi puisi bukan sekadar memberi nada pada larik-larik sajak. Ia membutuhkan kepekaan membaca makna, kesabaran mendengar bunyi bahasa, dan kerendahan hati untuk tidak menjadikan musik lebih dominan daripada puisinya.
Ikhsan memiliki kepekaan itu.
Kecintaannya terhadap musikalisasi puisi kemudian pada tahun 2024 melahirkan kelompok IKOBANA. Bersama kelompok ini, ia terus mengolah puisi menjadi pertunjukan yang komunikatif tanpa kehilangan kedalaman maknanya.

Kerja keras itu membuahkan hasil ketika IKOBANA berhasil meraih prestasi pada lomba musikalisasi IMLF#4 kemarin.
Festival tersebut merupakan bagian dari peringatan 100 Tahun Jam Gadang dan mempertemukan peserta serta delegasi dari puluhan negara.
Bagi saya, kemenangan itu bukanlah keberuntungan, melainkan buah dari proses panjang yang dijalani dengan tekun.
Di luar IKOBANA, Ikhsan juga aktif bersama grup musik Barabah di bawah pimpinan B. Andoeska, seorang pencipta lagu minang yang legendaris di Padang.
Keterlibatannya di berbagai ruang kesenian menunjukkan bahwa ia tidak pernah berhenti belajar. Ia membuka diri terhadap kolaborasi, memperkaya pengalaman, dan terus mengasah kemampuan bermusiknya.
Di tengah zaman ketika banyak anak muda lebih tertarik pada karya-karya yang serba cepat dan sesaat, Ikhsan memilih jalan yang sunyi. Ia tetap setia merawat puisi, membawanya ke panggung, mempertemukannya dengan musik, lalu memperkenalkannya kepada generasi baru.
Pilihan itu mungkin tidak selalu menghadirkan sorotan, tetapi justru di sanalah nilai seorang seniman diuji.
Sebagai orang yang pernah bekerja bersamanya, saya berharap Ikhsan Rosha terus menjaga semangat berkesenian yang dimilikinya.
Dunia sastra membutuhkan musisi seperti dirinya, yang memahami bahwa setiap puisi memiliki nadanya sendiri. Dan ketika nada itu berhasil ditemukan, puisi tidak lagi hanya dibaca. Ia akan hidup, bernapas, dan tinggal lebih lama di dalam ingatan para pendengarnya.
Teruslah berkarya Ikhsan.
Salam om dari Rantau.
Jakarta, 25 Juni 2026.
















