
Oleh: Boyke Sulaiman
KALAU ada yang bertanya apakah seni bisa menular, saya akan menjawab, “Bisa.” Taman Budaya adalah buktinya.
Di sana, di antara obrolan sore, secangkir kopi, diskusi tentang teater, sastra, musik, dan seni rupa, ada seorang koordinator sales sebuah perusahaan bernama Eki Caniago.
Awalnya ia hanya datang untuk nongkrong. Menjadi pendengar. Sesekali ikut bercanda. Tak pernah terbayang bahwa suatu hari ia akan memegang kuas dan berdiri di depan kanvas.
Kini Eki mulai melukis. Lukisan-lukisannya tidak lahir dari ruang kuliah seni rupa. Ia lahir dari keberanian untuk mencoba. Ada cipratan-cipratan warna yang spontan, garis-garis yang bebas, wajah-wajah yang terdistorsi, dan komposisi yang tidak tunduk pada aturan baku.

Semua itu menunjukkan ia sedang mencari bahasa visualnya sendiri.
Bagi sebagian orang, karya-karya itu mungkin masih sederhana. Namun bagi saya, yang lebih penting adalah keberanian Eki memasuki dunia yang sama sekali baru. Tidak semua orang berani meninggalkan zona nyaman. Apalagi seseorang yang kesehariannya bergelut dengan target penjualan, angka, dan strategi pemasaran.

Taman Budaya ternyata bukan hanya tempat berkumpul para seniman. Ia juga ruang belajar yang diam-diam mampu mengubah cara seseorang memandang dunia. Di sana, seni tidak diajarkan dengan ceramah, tetapi melalui pergaulan, pengamatan, dan kebiasaan saling menginspirasi.
Saya melihat Eki bukan sekadar “sales yang melukis”. Saya melihat seseorang yang sedang menemukan sisi lain dari dirinya. Dan setiap lukisan adalah catatan perjalanan itu.

Semoga Eki Caniago terus melukis. Terus bereksperimen. Tidak perlu terburu-buru menjadi pelukis besar. Cukup menjadi pelukis yang jujur pada dirinya sendiri.
Sebab seni bukan soal seberapa cepat kita diakui, melainkan seberapa lama kita bersedia terus belajar.
Jakarta, 23 Juni 2026















