
Selamat Jalan Maestro Tari
oleh: rizal tanjung
Ia pergi seperti gerak terakhir seorang penari di ujung panggung senja—perlahan, khidmat, dan menyisakan sunyi yang panjang.
Ery Mefri, maestro tari kontemporer yang berakar pada napas tua kebudayaan Minangkabau, telah wafat.
Namun kepergiannya bukan sekadar kematian seorang seniman—ia adalah padamnya sebuah mercusuar gerak yang selama puluhan tahun menerangi lintasan seni Nusantara hingga dunia.
Ia bukan hanya penari.
Ia adalah arsitek tubuh.
Ia membangun peradaban kecil lewat telapak kaki, lewat lengkung tangan, lewat hentakan yang berbicara lebih jujur dari ribuan kata.
—
Tubuh yang Menjadi Tanah, Gerak yang Menjadi Doa
Ery Mefri tumbuh dari tanah Minangkabau yang penuh legenda, dari sawah yang berkilau seperti cermin langit, dari surau-surau sunyi yang menyimpan hikmah leluhur.
Di sanalah tubuhnya belajar bahasa pertama: bahasa gerak.
Gerak yang lahir bukan dari teknik semata,
melainkan dari napas adat, dari irama randai, dari ketegangan silek, dari kesyahduan dendang kampung yang menyusup ke tulang.
Ketika banyak seniman memisahkan tradisi dan modernitas seperti dua kutub yang bertengkar,
Ery Mefri merajut keduanya seperti ibu merajut kain songket:
emas masa depan disulam pada benang masa silam.
Di tubuh para penarinya, Minangkabau tidak menjadi museum—
ia menjadi denyut hidup.
—
Sang Penggubah Sunyi Menjadi Bahasa Dunia
Nama Ery Mefri melintas batas negeri.
Pentas demi pentas dunia menyaksikan bagaimana tradisi yang dianggap lokal justru berbicara universal.
Ia mengajarkan dunia bahwa: budaya bukan barang antik,
melainkan sungai yang terus mengalir, berubah, dan memberi kehidupan.
Di Eropa, di Asia, di panggung internasional,
orang-orang terpukau melihat bagaimana tubuh-tubuh menari seperti angin di Bukit Barisan,
seperti ombak di pantai Pariaman,
seperti doa yang bergerak.
Ia membuat Minangkabau dikenal bukan sebagai cerita masa lalu,
tetapi sebagai energi kreatif masa kini.
Popularitasnya tidak lahir dari sensasi,
melainkan dari kesetiaan pada akar.
Ia membuktikan:
semakin dalam engkau menancap pada tanah leluhur,
semakin tinggi engkau tumbuh ke langit dunia.
—
Maestro yang Menyatukan Lintas Profesi dan Jiwa
Di kalangan seniman lintas profesi—teater, musik, sastra, rupa—nama Ery Mefri bukan sekadar koreografer.
Ia adalah simpul pertemuan.
Tempat para gagasan beristirahat.
Tempat tradisi dan eksperimentasi berdialog tanpa saling membunuh.
Ia bukan diktator gerak.
Ia pendengar sunyi yang membiarkan tubuh menemukan maknanya sendiri.
Bagi murid-muridnya, ia bukan hanya guru teknik,
tetapi guru keberanian:
berani menggali akar, berani berinovasi, berani jujur pada tubuh dan sejarah.
—
Wafatnya Seorang Maestro, Retaknya Langit Kebudayaan
Kini ia pergi.
Seperti pohon tua yang tumbang di tengah hutan peradaban,
meninggalkan rongga besar di lanskap seni Indonesia.
Dunia kehilangan arsitek gerak Minangkabau kontemporer.
Indonesia kehilangan salah satu penjaga jiwanya.
Minangkabau kehilangan salah satu denyut nadinya.
Sunyi terasa lebih panjang.
Panggung terasa lebih luas namun lebih kosong.
Namun sesungguhnya Ery Mefri tidak benar-benar pergi.
Ia hidup dalam setiap langkah penari yang pernah disentuh ilmunya.
Ia hidup dalam setiap karya yang berani menyatukan tradisi dan zaman.
Ia hidup dalam keberanian generasi baru menari tanpa memutus akar.
—
Gerak yang Tak Pernah Mati
Seorang penyair pernah berkata:
manusia mati, karya menjadi keabadian.
Ery Mefri telah menulis keabadiannya dengan tubuh.
Selama ada penari yang menghentakkan kaki dengan kesadaran sejarah,
selama ada koreografi yang menafsir adat menjadi bahasa masa kini,
selama ada panggung yang menjadikan budaya sebagai napas—
di sanalah Ery Mefri masih menari.
Ia tidak berbaring di tanah semata.
Ia berdiri di setiap tubuh yang bergerak jujur.
—
Elegi untuk Sang Penjaga Gerak
Wahai maestro,
engkau telah menjadikan tubuh sebagai kitab kebudayaan,
menjadikan panggung sebagai ladang doa,
menjadikan gerak sebagai jembatan antara masa lalu dan masa depan.
Kini engkau menari di ruang yang tak lagi kita lihat,
di pentas cahaya yang tak lagi dibatasi waktu.
Namun di sini—
di tanah Minangkabau,
di panggung Indonesia,
di ingatan dunia—
gerakmu tak pernah usai.
Selamat jalan, Ery Mefri.
Arsitek sunyi peradaban tubuh.
Engkau telah pulang,
namun tarianmu akan terus hidup—
sepanjang manusia masih menghormati akar,
dan seni masih mencari jiwa.
_____
Sumatera Barat, Indonesia, 2026
























