
Pada Lumpur Itu, Kami Menanam Kekuatan Baru (Puisi Esai)
Oleh: Edrawati, MPd
(Era Nurza)
Lumpur itu menelan halaman, ruang tamu, dan sebagian mimpi kami
Di banyak tempat, rumah-rumah berubah seperti bangkai yang ditinggal air
Namun ketika aku melihat orang-orang sibuk mengangkat kayu
mengumpulkan sisa-sisa hidup
aku menyadari: trauma tidak selalu membuat manusia berhenti
Di lumpur itu kami tidak hanya kehilangan
kami menemukan sesuatu yang lain keberanian untuk mulai dari nol
Seorang bapak yang rumahnya hanyut berkata dengan suara serak
“Kalau alam marah, kita hanya bisa sabar. Tapi sabar bukan berarti pasrah.”
Kalimat itu sederhana tapi tajam
menjadi mantra yang terdengar di setiap sudut kampung
Kami menanam kekuatan baru bukan di ladang
melainkan di hati yang diguyur lumpur
Setiap cangkul yang menyingkirkan tanah basah
adalah upaya menyingkirkan sisa-sisa ketakutan
Setiap langkah kecil di jalan yang melekat tanah
adalah bukti bahwa kami tidak berhenti
Anak-anak menggambar di papan tulis darurat yang dibuat dari triplek bekas
menggambar matahari besar di atas gunung yang runtuh
“Agar cepat indah lagi,” kata mereka
Kadang anak-anak lebih pandai berharap daripada orang dewasa
Ketika matahari akhirnya muncul
mengeringkan tanah yang berhari-hari merasa gelap
kami tahu
kehidupan akan dimulai lagi sedikit demi sedikit
Dan pada lumpur itu
yang dulu membawa ketakutan
kami menanam sesuatu yang lebih kuat dari bencana
ketabahan yang tumbuh tanpa suara
tapi perlahan menguat
seperti akar yang tak terlihat
Padang, awal Desember 2025
Sekilas Penulis
Edrawati, MPd, yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah sosok guru inspiratif yang percaya bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tetapi membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar.
Ia membimbing murid-muridnya untuk berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya. Aktif di komunitas literasi seperti PERRUAS, WPM, WPI, PLS, Satu Pena, SAN, Media Guru, PPP, KISI, Era Nurza terus menebarkan cahaya literasi dan motivasi agar generasi muda mencintai ilmu dan menulis dengan hati.
























