
Ketika Merdeka Masih Ada Luka
Oleh: Era Nurza
Ada yang tak sempat dimakamkan dari sejarah
yaitu air mata yang menetes tanpa nama
Di balik gegap gempita kemerdekaan
masih ada dada yang bergetar
mengingat harga dari kata “bebas”
Merdeka katamu
tapi langit masih menyimpan jelaga
dan tanah masih merekam bau darah
yang tak seluruhnya kering di halaman negeri ini
Kita merdeka
namun di wajah para pahlawan yang terpahat batu
masih tersisa lelah yang tak bisa disembunyikan
Seolah mereka tahu
bahwa perjuangan belum benar-benar usai
hanya berganti rupa
dari peluru menjadi kelalaian
dari penjajahan menjadi keserakahan
Anak-anak negeri masih berjalan tanpa arah
membawa cita-cita yang koyak oleh ketimpangan
sementara bendera terus dikibarkan
tanpa benar-benar dihayati maknanya
Mungkin merdeka masih berarti luka
ketika kita lupa siapa yang harus disembuhkan
Ketika kita memuja hasil tapi lupa perjuangan
Ketika tanah air menjadi panggung
bukan lagi rumah
Namun aku masih percaya
dalam setiap luka selalu ada doa yang tumbuh
Dalam setiap tangis masih ada merah putih
yang berusaha berdiri
meski angin politik ekonomi dan ego
terus berhembus dari segala arah
Karena kemerdekaan bukan akhir
ia adalah jalan panjang
yang ditempuh dengan kesadaran
bahwa mencintai negeri
kadang berarti menahan perihnya harapan
Padang, November 2025
Sekilas Penulis
Edrawati, MPd, yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah sosok guru inspiratif yang percaya bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tetapi membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar.
Ia membimbing murid-muridnya untuk berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya. Hingga kini, ia telah melahirkan beberapa buku tunggal dan lebih dari 50 antologi, karyanya fiksi maupun nonfiksi.
Aktif di komunitas literasi seperti PERRUAS, WPM, WPI, PLS, Satu Pena, SAN, Media Guru, PPP, KISI, Era Nurza terus menebarkan cahaya literasi dan motivasi agar generasi muda mencintai ilmu dan menulis dengan hati. *)























