
Oleh: Era Nurza
Remuk hati Bundo di puncak bukit Cindua Mato
merah muka menahan malu di bawah cahaya matohari
Raso takanai baragiah, lah dapek mangko ka seso
gumamnya lirih menatap layar kaca
yang menyiarkan wajah gadis berpakaian tapi telanjang
Katanya: “Gadih Minang juara dunia.”
Katanya lagi: “Kemajuan zaman.”
Tapi adakah kemajuan
jika aurat dilelang di atas panggung
dan tepuk tangan jadi harga kehormatan?
Oh, Upiak Gadih Minang kesayangan
gelar itu tidak semurah buih ombak di laut
Ia bukan tanda kemenangan tubuh
melainkan cahaya akal, adab, dan malu
yang ditanam dalam dada sejak di pangkuan Bundo
Baju Kuruang Basiba: Simbol Marwah, Simbol Jiwa
Jika kau ingin disebut Gadih Minang
maka kenakanlah Baju Kuruang Basiba
pakaian yang menutup bukan hanya tubuh
tapi juga pandangan dan niat buruk manusia
Pakaian longgar dan panjang
dengan Kikiak yang berkilau seperti daun budi
bukan sekadar kain
melainkan perisai yang menjaga kehormatan
Ia tidak dijual di butik-butik mode
karena nilainya tidak bisa dibeli
Ia ditenun dari malu
dijahit dengan benang marwah
dan disulam oleh tangan ibu-ibu di surau nagari
Gadih Minang: Bukan Sekadar Cantik, Tapi Beradat
Gadih Minang bukan boneka catwalk
Ia bukan tubuh yang ditakar oleh kamera
Ia suntiang akal bagi nagari
yang pandai sirek jo tatiang manatiang
teguh bagai ikan di lauik
walau asin airnya
dagingnyo manih juo
Dia beradat, beradab,
berbudi dalam tutur dan langkah
Dia tidak latah meniru gaya dunia
yang kehilangan rasa malu dan pareso
Sebab baginya, malu bukan beban
melainkan mahkota yang tak ternilai
Tingkuluak Tanduak dan Tanggung Jawab
Tingkuluak di kepalanya
bukan sekadar kain penutup
Ia simbol akal tanda kebijaksanaan
Desainnya menyerupai tanduk kerbau
seperti gonjong Rumah Gadang
yang menjulang gagah ke langit
Itulah lambang ketegasan dan tanggung jawab
Bahwa wanita Minang
meski lembut kata dan langkahnya
namun baja di dalam jiwanya
Ia menopang keluarga
menjaga marwah kampung halaman
menjadi limpapeh rumah nan gadang
Kain, Selendang, dan Bahasa Tubuh yang Bermaruah
Kain panjang dan selendang lembut itu
tak sekadar pelengkap busana
Ia adalah penanda bahwa tubuh adalah amanah
bukan pajangan
Gerak langkahnya pelan, penuh arti
karena setiap lipatan kain
mengandung pesan sopan santun
dan setiap simpulnya menandai batas harga diri
Gadih Minang Sejati: Warisan Bundo, Pewaris Marwah
Gadih Minang sejati bukan sekadar cantik
tapi pandai menjaga harga diri di hadapan dunia
Dia modern tanpa kehilangan akar
anggun tanpa kehilangan iman
Ia bisa bicara tentang dunia
tanpa harus membuka aurat
bisa menembus panggung internasional
tanpa menanggalkan adat dan agama
Sebab ia tahu
modern bukan berarti melacurkan moral
dan kemajuan bukan berarti kehilangan arah
Pesan untuk Zaman dan Cermin
Wahai dunia yang memuja telanjang
ingatlah: tidak semua kulit yang terbuka adalah keberanian
kadang itu tanda hilangnya arah dan malu
Wahai generasi yang haus pengakuan
ketika tepuk tangan reda
yang tersisa hanyalah pandangan kosong
dan marwah yang tercecer di kaki peradaban
Gadih Minang sejati tidak perlu panggung
karena ia sudah bersinar dari dalam jiwanya
Ia tidak perlu mahkota plastik
karena akalnya sudah menjadi bintang yang sebenarnya
Penutup: Suara dari Ranah Bundo
Dari balik kabut Gunung Marapi
suara Bundo terdengar lagi
“Nak, jangan gadaikan adat hanya untuk popularitas.
Jangan jual malu demi disebut modern.
Sebab kalau aurat sudah jadi tontonan,
marwah pun ikut terbakar di mata dunia.”
Dan langit Minangkabau seakan turut bergetar
memeluk warisan yang hampir hilang
sambil berbisik pada angin dan anak negeri
Kalau ingin disebut Gadih Minang
maka peliharalah marwah
sebagaimana Bundo memelihara nagari
Padang, November 2025
Referensi; https://www.facebook.com/share/p/16SsFdrHR3/
Aura Quanaisha (Indonesia): Memenangkan gelar Miss Teen of the Universe 2025 berasal dari Ranah Minang, Padang
Sebagai informasi;
Aura Quanaisha (Indonesia): Memenangkan gelar Miss Teen of the Universe 2025. Dan katanya berasal dari Ranah Minang. Sementata bajunya seperti Telanj*ng
Sekilas Penulis
Edrawati, M.Pd., yang dikenal dengan nama pena Era Nurza, adalah sosok guru inspiratif yang percaya bahwa mendidik bukan sekadar mengajar, tetapi membentuk karakter dan menyalakan semangat belajar.
Ia membimbing murid-muridnya untuk berani menulis dan mengekspresikan gagasan melalui karya. Hingga kini, ia telah melahirkan beberapa buku tunggal dan lebih dari 50 antologi, karyanya fiksi maupun nonfiksi.
Aktif di komunitas literasi seperti PERRUAS, WPM, WPI, PLS, Satu Pena, SAN, Media Guru, PPP, KISI, Era Nurza terus menebarkan cahaya literasi dan motivasi agar generasi muda mencintai ilmu dan menulis dengan hati.

























