
Oleh: Isa Kurniawan
“AYO cepat, hujan sudah teduh,” sambil memompa lampu strongkeng (petromak) yang sudah mulai usang, Ayah mengejutkan saya agar segera bersiap-siap untuk pergi ke muara, untuk menjala.
Hari telah menunjukkan pukul sembilan malam. Dunia Dalam Berita TVRI baru saja dimulai.
Hujan lebat memang baru saja usai. Biasanya sehabis hujan, apalagi kalau di hulu lebat sekali, air sungai Batang Muar alirannya sangat deras dan keruh. Berbusa-busa.
Aliran sungai ini membelah Kuranji, Nanggalo dan bermuara di Ulak Karang. Kadang pula orang menyebut sungai ini dengan nama Batang Kuranji.
Saat kondisi sesudah hujan lebat, biasanya Ayah pergi menjala ke muara, dan banyak mendapatkan udang (galah) besar-besar sebesar ibu jari. Entah darimana datangnya, tapi yang saya tahu sering berbaskom-baskom udang didapat.
Di situlah berkahnya hujan yang diberikan Allah SWT.
Saya yang saat itu masih SMP sebenarnya merasa takut pergi. Tapi karena Ayah sudah menyiapkan segalanya untuk menjala malam itu, terpaksa saya pergi juga.
Sambil menenteng strongkeng, saya ikuti langkah Ayah dari belakang menuju ke muara yang jaraknya hanya seratus meter dari rumah. Agak berat memang strongkengnya, tapi apalah daya.
****
Saat Ayah menjala, saya hanya duduk di pinggiran sungai yang banyak sampah-sampahnya. Yang saya takutkan adalah kalau-kalau saja ada ular atau binatang berbisa lainnya.
Tapi rasa takut itu hilang, ketika Ayah kembali dengan hasil jalanya, saya pun ikut memungut udang-udang yang didapat di jala. Kadang pula tangan Ayah dan saya terkena lapu. Ikan yang punggungnya berduri dan berbisa. Sakit memang. Biasanya, obatnya cukup dengan dikencing-i. Mujarab. Hee …
Berulang-ulang Ayah menjala dan kembali. Dan setiap jala ditebar, jarang yang tidak dapat udangnya.
“Sudah lah, kita pulang lagi. Sudah cukup lah,” ujar Ayah sambil menenteng jala dengan wajah sumringah.
Memang sudah hampir dua jam kami menjala. Kami pun pulang dengan tangkapan dua plastik asoi besar.
****
Suasana Muara Batang Muar Ulak Karang di tahun 70-80 an memang sangat menjanjikan bagi mereka yang punya hobi memancing, atau menangkap ikan. Kondisinya boleh dikatakan masih perawan, dan banyak ikan.
Ayah salah satu yang punya hobi memancing dan punya koleksi jala. Mulai dari jala udang, belanak dan jompo. Setiap sore Ayah selalu memancing di Muara Batang Muar dengan konco-konconya. Dan di saat-saat tertentu Ayah menjala.
Entah kenapa, karena hujan lebat hari ini, kenangan bersama Ayah itu kembali berkelebat. Ayah sudah berpulang, tapi pelajaran menjala udang itu tidak bisa dilupakan.
Titip rindu buat Ayah ….
Tabiang, 28042017
Penulis adalah Warga Padang























