
Oleh : Jimmy Erianto
BAHASA ARAB sangat berperan penting dalam perkembangan bahasa Melayu. Hal ini bertepatan ketika perkembangan bahasa Melayu yang terjadi di daerah tersebut bersamaan dengan munculnya atau masuknya ajaran Islam yang datang ke wilayah Melayu tersebut.
Agama Islam datang dan berkembang di wilayah tersebut pada sekitar abad ke-13. Islam dikenal berkembang pesatnya melalui perdagangan dan melalui hal inilah sangat bertepatan bahasa Arab juga seiringan berjalan dan berkembang dengan terhadap tata bahasa Melayu karena melalui datangnya Islam di daerah inilah yang membuat bahasa Arab menjadi sangat berpengaruh terhadap bahasa lokal yang ada di daerah tersebut.
Karena dapat dikatakan bahwa perkembangan Islam melalui perdangangan menjadi salah satu alasan kenapa bahasa Arab sangat berpengaruh dalam tata bahasa Melayu, selain itu dalam komunikasi di perdagangan yang menyebabkan adanya interaksi yang terjadi antara orang pribumi lokal dengan orang Arab yang datang membawa pengaruh Islam menggunakan bahasa Arab yang menjadi alasan besar bahwa bahasa Arab menjadi pengaruh penting dalam tata bahasa Melayu.
Bahasa Arab menjadi bahasa yang dianggap penting dalam kehidupan sosial, keagamaan, dan intelektual masyarakat Melayu. Salah satu bentuk pengaruh tata bahasa Arab dalam tata bahasa Melayu adalah adanya kata-kata serapan.
Seiring dengan masuknya Islam ke wilayah Melayu, kata-kata baru dari bahasa Arab mulai diperkenalkan ke dalam bahasa Melayu. Dengan kata-kata serapan dari bahasa Arab ini, tata bahasa Melayu menjadi semakin kaya dan kompleks.
Pengaruh tata bahasa Arab dalam tata bahasa Melayu juga terlihat pada struktur pengucapannya. Tata bahasa Arab memiliki struktur pengucapan sebuah kalimat serta memiliki banyak aturan yang harus diikuti. Aturan-aturan ini kemudian juga diterapkan dalam tata bahasa Melayu,
Secara keseluruhan, pengaruh tata bahasa Arab dalam tata bahasa Melayu dapat dilihat pada,
1. kata-kata serapan,
2. struktur kalimat,
3. penggunaan kata ganti,
4. pengucapan dasar,
5. serta berupa pengucapan-pengucapan familiar.
Pengaruh ini telah memberikan kontribusi besar dalam memperkaya tata bahasa Melayu dan membantu menjaga keaslian bahasa Melayu yang kaya akan sejarah dan budaya.
Bustan al-Khatibin Sebagai Naskah
Bustan al-Khatibin adalah salah satu naskah penting dalam sastra Arab klasik. Naskah ini ditulis oleh Raja Ali Haji yang disingkat sebagai RAH. Naskah ini terdiri dari sembilan bab, masing-masing berisi banyak cerita yang diambil dari berbagai sumber seperti Al-Qur’an, hadits, dan cerita-cerita rakyat.
Halaman yang terdapat dalam naskah inipun berjumlah berbeda-beda seperti yang tersimpan atau yang terdapat pada Yayasan Inderasakti berjumlah 56 halaman, di PNRI Naskah W 218 berjumlah 52 halaman, sedangkan Naskah W 219 berjumlah 88 halaman.
Bustan al-Khatibin ditulis dalam bahasa Arab yang elegan dan dihiasi dengan perumpamaan yang indah, sehingga mempermudah pembaca untuk memahami pesan moral dari setiap cerita. Selain itu naskah ini sudah banyak di transliterasikan oleh berbagai para ahli yang bekerja dalam bidang naskah-penaskahan.
Naskah Bustan al-Khatibin menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Arab dan Islam pada masa itu dan masih dianggap sebagai salah satu naskah penting dalam sastra Arab klasik hingga saat ini. Selain itu naskah ini banyak juga digunakan sebagai sumber referensi dalam studi agama dan etika Islam, hal ini menunjukkan pentingnya pengembangan moral dan etika dalam kehidupan sosial dan politik, serta relevansinya dalam konteks masyarakat modern.
Dalam cakupan pembahasan Bustan al-Khatibin terdiri dari sebuah mukadimah dan 31 pasal, 31 pasal tersebut dapat dibagi menjadi 3 kelompok pembahasan yaitu :
1. tata ejaan,
2. pembahasan kelas kata, dan
3. analisis kalimat.
Pengaruh tata bahasa Arab dalam tata bahasa Melayu pada naskah Bustan al-Khatibin sangat kuat. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan banyak kata Arab dalam naskah tersebut, seperti kata benda, kata kerja, dan kata sifat.
Selain itu, tata bahasa Arab juga mempengaruhi tata bahasa Melayu dalam hal struktur kalimat. Naskah Bustan al-Khatibin sering menggunakan kalimat majemuk dan kalimat kompleks dengan menggunakan frasa-frasa yang rumit. Struktur kalimat yang rumit ini kemudian dipengaruhi oleh tata bahasa Arab yang juga menggunakan kalimat majemuk dan kalimat kompleks.
Pengaruh tata bahasa Arab dalam tata bahasa Melayu pada naskah Bustan al-Khatibin juga terlihat pada penggunaan huruf-huruf Arab dalam menulis bahasa Melayu. Huruf-huruf Arab digunakan untuk menulis bunyi-bunyi bahasa Melayu yang tidak ada dalam alfabet Latin.
Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh bahasa Arab dalam bahasa Melayu pada masa itu. Secara keseluruhan, pengaruh tata bahasa Arab dalam tata bahasa Melayu pada naskah Bustan al-Khatibin sangat signifikan. Pengaruh inilah yang menjadi bukti sejarah bahwa bahasa Arab bisa dibilang sangat berpengaruh penting terhadap bahasa Melayu.
Hal ini karena perkembangan dan perjalanan sejarahnya yang cukup panjang dan hadirnya macam-macam naskah yang berperan penting atau dapat dikatakan isi dalam naskah yang telah hadir berupa informasi atau ilmu yang sangat banyak mengenai perkembangan bahasa melayu saat itu.
Sebagai naskah, Bustan al-Khatibin memiliki nilai historis dan budaya yang sangat penting. Karya ini menjadi saksi sejarah tentang kehidupan sosial dan budaya masyarakat Arab pada masa lampau dan memberikan wawasan tentang nilai-nilai moral dan etika yang penting bagi kehidupan manusia.
Bustan al-Khatibin adalah salah satu naskah yang penting dalam warisan intelektual dunia Islam dan merupakan salah satu karya sastra Arab klasik yang paling dihargai dan diakui.
Raja Ali Haji dalam Bustan al-Khatibin
Pengetahuan Raja Ali Haji (RAH) terhadap tata bahasa Arab mendorongnya menuliskan tata bahasa Melayu dalam model tata bahasa Arab. Ini merupakan upaya yang sadar dari RAH untuk menunjukkan jati diri RAH sebagai orang Melayu.
Sebagai ahli bahasa pertama yang meneorikan tata bahasa Melayu, sumbangan RAH terhadap perkembangan bahasa Melayu tidak bisa dianggap sebelah mata. Dia menjadi tokoh penting dalam sejarah bahasa Melayu yang berani melawan arus yang dibuat oleh Belanda yang telah menetapkan tata bahasa Melayu sesuai standar kaidah bahasa Eropa.
Tradisi berpikir yang didominasi oleh buku-buku berbahasa Arab, yang menjadi buah dari perkembangan agama Islam, tentu memengaruhi RAH dan masyarakat pada zaman itu dalam menulis, membaca, dan mengekspresikan gagasannya.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pengaruh tata bahasa Arab dalam bahasa Melayu tak bisa dipungkiri merupakan efek dari islamisasi ilmu pengetahuan, yang sering kali tidak bisa dipisahkan dari proses arabisasi. Selain itu, BK juga telah membuktikan bahwa pengaruh tata bahasa Arab tidak hanya pada naskah keagamaan. *)
Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Andalas (Unand)























