• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Selasa, April 21, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

Memaknai Rendang di Masa Pandemi Covid-19

4 Agustus 2020
in Opini
Reading Time: 4min read
Views: 11,080

Oleh : Ilhamsyah Mirman

//forumsumbar//

RENDANG, randang atau marandang, kata yang akhir-akhir ini kian populer, adalah cara memasak tradisional masyarakat Minangkabau. Dilakukan dengan mencampur daging sapi dengan sejumlah bumbu rempah dalam waktu yang lama, berkisar antara 4 – 8 jam.

Lihat Juga

Literacy dan Literary

Literacy dan Literary

8 April 2026
34
Bak Cendawan di Musim Hujan: Menjamurnya Komunitas Kesenian dan Ilusi Kebudayaan di Sumatera Barat

Bak Cendawan di Musim Hujan: Menjamurnya Komunitas Kesenian dan Ilusi Kebudayaan di Sumatera Barat

31 Maret 2026
34
Masjid Ali Mukhni Warisan Monumental

Masjid Ali Mukhni Warisan Monumental

14 Maret 2026
70

Dalam proses memasak biasanya menggunakan api berbahan bakar kayu, yang dimaksudkan agar bau harum kayu, umumnya pohon kulit manis, dapat meresap ke bumbu masakan. Proses memasak lama sampai mengering kandungan santannya itulah yang dinamakan marandang, asal kata randang.

 

Masakan ini terus mengalami pengembangan dan penambahan jenis. Kalau zaman saisuak rendang identik dengan daging sapi atau kerbau sebagai bahan baku utamanya, maka sekarang berkembang menjadi aneka varian.

Menurut Murdijati Gardjito, pakar kuliner UGM, rendang terbagi menjadi 19 macam, sedangkan Wiliam Wongso mengkategorikan rendang mencapai 200 (dua ratus) varian. Tentu perlu penelitian mendalam tentang varian rendang ini, yang jelas keseluruhan rendang itu diakui kelezatannya, dan sepakat, ditahbiskan asli Minangkabau.

Dari cara memasak, rendang dibagi menjadi tiga tingkatan; pertama, tahap awal memasak, kurang lebih satu jam waktu memasaknya, disebut gulai. Makanan jenis ini hanya mampu bertahan selama satu hari.

Kedua, rendang dengan kuah yang kian berkurang karena pemanasan terus menerus, berkisar dua sampai empat jam, yang dinamakan kalio. Kuahnya masih ada, namun tidak terlalu banyak. Tahap ini belum terkaramelisasi, sehingga tidak bisa disebut rendang dalam arti kata sebenarnya

Ketiga, rendang tingkatan akhir dengan kuah yang mengering. Ada semacam kerak atau jedak, yakni kuah kering yang tampak seperti bumbu. Rasa dagingnya empuk bertekstur, yang disebut caramelized beef curry. Tingkatan inilah rendang dalam arti sesungguhnya. Membutuhkan waktu memasak 4-8 jam.

Sedang memasak rendang. (Foto : Dok)

Sebagai pengikat tali silaturrahim dan kekerabatan ranah dengan para perantau, rendang memiliki sejarah panjang. Cerita indah saat menuntut ilmu di kota-kota besar, seperti Padang, Pekanbaru, Medan atau Jakarta, menyisakan kenangan tak terperi indahnya.

Menanti petugas pos atau menjemput rendang titipan orang tua di pool ANS, NPM dan Gumarang menjadi momen betapa rendang menjadi andalan bagi para perantau dalam perjuangan hidupnya.

Fungsi sosial yang saat ini mengalami penurunan dengan makin banyaknya makanan siap saji, praktis dan mudah didapat, selain memang pola hidup nafsi-nafsi. Keadaan memaksa bukannya tidak mungkin ikatan sosial dan kekerabatan kian menjauh, yang satu saat nanti sanak saudara bisa tidak berketahuan.

Pandemi Covid 19 dengan segala efek dan upaya untuk menyiasatinya banyak dilakukan orang. Dari segi bisnis, banyak usaha yang turun omset, bahkan tidak sedikit yang tutup usaha. Meski tidak seluruhnya, namun pada kenyataannya masih ada sektor usaha yang tumbuh, bahkan berkembang dengan pesat di tengah situasi ini. Salah satunya bisnis kuliner dan pengolahan makanan.

Webinar membahas rendang bersama Sandiaga Uno dan Fadli Zon. (Foto : Dok)

Data Nielsen Company, 2020 menyebutkan peningkatan permintaan produk Aneka Masakan dan Bumbu dari 18% menjadi 44%, snack dan sarapan bertumbuh dari masa sebelum Covid 14% menjadi 23%, termasuk makanan kering bertumbuh menjadi 19%. Angka-angka ini memotivasi kita melibatkan sebanyak mungkin masyarakat untuk menjadikan bisnis kuliner, dalam hal ini rendang, beserta turunannya.

Pada berbagai kesempatan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat kerap mengirimkan bantuan rendang ke lokasi bencana di berbagai tempat, seperti Palu, Lombok, Selat Sunda sebagai hasil sumbangan spontan. Fakta yang mengingatkan kembali akan fungsi sosial rendang di era kekinian.

Indonesia memiliki potensi bencana yang tak terkira, bahkan Sumatera Barat sendiri dikenal dengan istilah laboratorium bencana, saking banyaknya potensi bencana. Pada keadaan demikian, sebagai makanan yang mampu bertahan lama dan praktis menghidangkannya, rendang menempati posisi penting dalam upaya membantu sanak keluarga yang mengalami musibah, baik berupa bencana alam maupun non alam.

Ada pula peluang tidak kalah menarik terkait rendang. Satu di antaranya kesempatan meningkatkan peran kuliner rendang pada tataran faktual dengan menjadikan program bantuan sosial kepada masyarakat terdampak Covid 19, berupa rendang bersamaan dengan beras, gula dan pangan lainnya. Pada saat orang mengalami musibah, tentu lebih manusiawi memberi yang terbaik mereka yang secara psikis dalam keadaan kurang nyaman.

Sebagai induk makanan yang kelezatannya tak tertandingi ini, bahkan dedak rendang bisa menjadi bahan campuran masakan lainnya, seperti telor ceplok, nasi goreng bahkan pizza. Memang kalau ditinjau dari segi harga ansich, rendang relatif mahal, namun bagi keberlangsungan sistem ekonomi lokal malah memiliki nilai tambah yang tidak bisa diremehkan.

100% kandungan rendang berbahan baku lokal dan mudah didapat dari sekitar. Daging sapi atau kerbau ada di setiap wilayah bahkan keluarga Minang memilikinya. Santan dari karambia Piyaman, lado dari Koto Baru, dan aneka rempah dari halaman atau pasar dekat rumah.

Semua kembali kepada warga sendiri, berputar di masyarakat. Beda misalnya dengan mie instan atau sarden, yang mayoritas kandungan biayanya akan keluar Sumatera Barat.

Tentu perlu dukungan konkrit dari pemerintah menunjukkan keberpihakan pada usaha anak negeri ini agar bertumbuh, sekaligus memberi yang terbaik kepada masyarakat terdampak virus. Memberi tempat kepada rendang sebagai salah satu ijtihad membesarkan usaha sekaligus memanusiakan rakyat yang sedang kesusahan.

Dari kacamata pewarisan budaya, kesempatan daring bagi siswa memberi hikmah berikutnya, betapa kesempatan yang sulit untuk didesain orang tua karena kesibukannya, malah menjadi peluang emas memberi pelajaran memasak dan mengenalkan pembuatan kuliner Minang kepada generasi muda.

Proses pewarisan cara memasak rendang terjadi melalui pengajaran dan contoh memasak yang dilakukan orang tua terdahulu kepada anak-anaknya. Rendang yang paling lezat adalah Renang Emak, menjadi mitos betapa lekat tangan orang tua yang menjadi duta pewarisan turun temurun.

Keadaan yang sulit dilakukan pada situasi normal, dimana anak dan orang tua, sama-sama sibuk.
Bertolak belakang 180 derajat dengan pola hidup new normal saat ini. Amak, etek atau nenek sekalipun mempunyai waktu yang cukup dan berkesempatan luas mentransfer keahliannya kepada anak kemenakan. Tradisi pewarisan yang pada gilirannya menjadi garda terdepan untuk melestarikan budaya memasak rendang.

Penulis adalah
Penikmat Rendang

ShareTweetSendShare
Previous Post

Pantau Restrukturisasi Kredit UMKM, Ketua DPD RI Sambangi OJK Jatim

Next Post

Gali Nilai Kawin Bajapuik, Antarkan Yenny Jadi Doktor Ilmu Hukum

BeritaTerkait

Literacy dan Literary
Opini

Literacy dan Literary

8 April 2026
34
Bak Cendawan di Musim Hujan: Menjamurnya Komunitas Kesenian dan Ilusi Kebudayaan di Sumatera Barat
Opini

Bak Cendawan di Musim Hujan: Menjamurnya Komunitas Kesenian dan Ilusi Kebudayaan di Sumatera Barat

31 Maret 2026
34
Masjid Ali Mukhni Warisan Monumental
Opini

Masjid Ali Mukhni Warisan Monumental

14 Maret 2026
70
Rajo Sampono: Satu Tahun JKA-Rahmat ‘Basuluah Matohari’
Opini

Rajo Sampono: Satu Tahun JKA-Rahmat ‘Basuluah Matohari’

4 Maret 2026
24
The New OPPI Berharap Direksi Baru Pelindo Bawa Angin Segar
Opini

The New OPPI Berharap Direksi Baru Pelindo Bawa Angin Segar

1 Maret 2026
45
Satu Tahun Bupati JKA: Kebudayaan Sebagai Jalan Pembangunan
Opini

Satu Tahun Bupati JKA: Kebudayaan Sebagai Jalan Pembangunan

20 Februari 2026
20
Next Post
Gali Nilai Kawin Bajapuik, Antarkan Yenny Jadi Doktor Ilmu Hukum

Gali Nilai Kawin Bajapuik, Antarkan Yenny Jadi Doktor Ilmu Hukum

Most Viewed Posts

  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,255)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,456)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,591)
  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (33,382)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,538)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (31,058)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (28,964)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (28,298)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (27,217)
  • Tabuik, ‘Perang Karbala’ di Jantung Kota Pariaman (24,047)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
154
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
335
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
489
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
228
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
114
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
147
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
127
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
189
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
125

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In