JAKARTA, forumsumbar ––Persoalan virus corona (Covid-19) dan implikasinya terhadap kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, menjadi topik bahasan dalam webinar yang diadakan DPD IKA Unand Jabodetabek, Sabtu (9/5).
Dalam diskusi secara virtual yang dipandu Ketua IKA Unand Jabodetabek dr Mulyadi Muchtiar, MARS, tampil sebagai pembicara dr Andika Chandea Putra, SpP (K), Phd, Rudi Rusli, SE, Akt, MSi dan M. Rizqi Azmi, SH, MH, dimana ketiganya merupakan alumni Unand.
“Corona itu tidak seindah namanya, karena 80% penderita adalah orang tanpa gejala (OTG) dan mereka hampir tidak ada keluhan. Kemudian dibandingkan SARS dan MERS, virus ini masih dianggap level rendah dengan masa inkubasi yang sama selama 14 hari. Gejalanya hampir sama dengan flu dan sesak nafas,” ujar dokter Andika mengawali pemaparannya.
Selanjutnya, Andika menyampaikan bahwa kedisiplinan adalah kunci dari pemutusan mata rantai penyebaran Covid-19, yakni taat dalam menjalankan protokol kesehatan yang sudan di susun
“Semua orang tidak cukup dengan kesadaran saja tetapi harus disiplin dan konsisten menjalankan aturan seperti di rumah saja (stay at home), cuci tangan selalu, pakai masker, physical distancing dan tidak mudik untuk mengurangi resiko penularan kepada kelompok rentan,” pungkas Ketua IKA Fakultas Kedokteran Unand Jabodetabek itu.
Untuk menghindari transmisi / penularan, lanjut Andika, diperlukan karatina wilayah yang efektif sehingga mencegah penyebaran di wilayah tertentu. Tetap lakukan pola hidup sehat dan isolasi mandiri utk yang terkonfirmasi positif dengan gejala ringan / tanpa gejala.

Kemudian, Rudi Rusli sebagai Koordinator Bidang Ekonomi, Kewirausahaan dan UMKM IKA Unand Jabodetabek menyampaikan, bahwa dalam menghadapi pandemi Covid-19, yang menjadi “panglima” adalah protokol kesehatan. Sedangkan sendi-sendi kehidupan lainnya harus mengalah dan harus rela tidak menjadi prioritas karena efeknya ke seluruh perekonomian dunia.
“Bahkan IMF memprediksi dalam Outlook-nya yang berjudul ‘The Great Lockdown’ bahwa dampak pandemi Covid-19 ini akan menyebabkan turunnya perekonomian dunia menjadi minus 3 persen, yang lebih buruk dampaknya dibanding krisis keuangan global tahun 2009 lalu,” ulas Rudi.
Selama krisis pandemi ini masih belum bisa diatasi maka perekonomian dan bisnis tidak akan dapat berjalan normal. Dari sisi dunia usaha, yang perlu dilakukan adalah berusaha untuk mengambil kebijakan menyelamatkan likuiditas perusahaan.
“Perlu dilakukan strategi bisnis sebagai contigency plan menghadapi Covid-19 ini. Perlu juga dibentuk tim manajemen krisis untuk memonitor perkembangan dan tindak lanjut dalam penyelamatan perusahaan dalam kondisi Covid-19 ini,” lanjutnya.
Di luar itu secara umum, pemerintah diharapkan dengan segala kebijakannya dapat terus mendorong akselarasi ekonomi rakyat, sehingga dapat berjalannya mekanisme demand-supply secara optimal. “Peran masyarakat pun dalam menggalang solidaritas sosial diharapkan terus berperan menyelamatkan masyarakat sekitarnya yang terdampak Covid-19 ini,” tegasnya
Sementara itu, M Rizqi Azmi, yang merupakan Direktur Legal Culture Institute, berpendapat bahwa pemerintah harus mengambil kebijakan krisis yang terukur dan tegas karena sudah hampir 3 bulan pandemi ini melanda Indonesia namun tidak ada pemulihan yang berarti.
Selanjutnya Rizqi meminta Presiden harus mengeluarkan exit strategy dengan regulasi pamungkas dengan melihat keadaan masyarakat di masa Covid-19.
“Presiden harus melihat kenyataan bahwa PSBB tidak terlalu efektif karena pada kenyataannya korban selalu bertambah ratusan setiap harinya dan kemudian regulasinya yang longgar rentan dilanggar masyarakat karena tidak adanya ketegasan regulasi,” katanya.
Lebih lanjut Rizqi mengharapkan ada Perppu yang mengatasi tumpang tindih kebijakan (beleid) di lapangan.
Beragam tanggapan alumni berseliweran di wall sejumlah grup IKA Unand. “Iven menarik, apresiasi buat sahabat dokter Mulyadi dan teman-teman. Kita landaiķan kurva ‘daily cases’ dengan disiplin. Jangan sampai ada gelombang kedua penyebaran,” ujar Ketua Harian DPP IKA Unand Surya Tri Harto.
Kemudian dari alumni FISIP Unand Wirdanengsih, yang juga dosen di FIS UNP berharap ada kelanjutan diskusi ini, agar pengetahuan masyarakat kian dalam dan merata menghadapi wabah pendemi ini.
Langkah yang dilakukan IKA Unand Jabodetabek ini, menurut alumni, layak diberi apresiasi karena dari momen seperti ini masukan sekaligus upaya yang harus dilakukan masyarakat dapat tersosialisasi dengan baik.
Pada gilirannya semoga wabah virus corona ini cepat teratasi, dan kehidupan masyarakat kembali seperti sediakala, Insyaallah.
(Ilham)























