JAKARTA, forumsumbar —Semua merasakan dampak ekonomi akibat merebaknya pandemi virus corona (Covid-19), tak ketinggalan perantau Minang, khususnya yang di Jabodetabek, yang saat ini banyak usahanya dalam keadaan memprihatinkan.
Menurut salah seorang perantau Minang Okferiadi Rasyid Dt Rajo Nan Mudo, Sabtu (25/4), keadaan ini karena tidak bisa berjualan, dan kalau pun bisa berjualan tidak ada orang yang berbelanja. Jadi pendapatan (income) tidak ada.
Para perantau yang berdagang tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bertahan hidup. “Ibarat simalakama, di luar mati karena corona, sementara di rumah saja mati kelaparan,” ujar Okferiadi, menirukan ucapan salah seorang perantau.
Kemudian, lanjutnya, para perantau banyak yang tidak dapat kompensasi dari pemerintah, karena masalah administrasi. Dan lebih parahnya saat ini, perantau tidak bisa lagi pulang kampung karena sudah dilarang total.
Persoalan ini, lanjut Okferiadi yang berasal dari Kabupaten Pesisir Selatan, harus mendapatkan perhatian dari Pemprov Sumbar, serta pemerintah kabupaten / kota yang ada di Sumbar. “Para perantau ini harus dimasukkan ke yang diberi bantuan, sebagai bagian dari masyarakat Minang (Sumbar),” harapnya.
Selama ini, sebut Okferiadi, para perantau ikut membangun kampung (ranah) dengan mengirimkan uang ke keluarga di kampung. Sehingganya roda perekonomian menjadi meningkat, karena banyak uang beredar.
Untuk itu, organisasi-organisasi kampung mendata para perantau yang terdampak ekonominya, kemudian dicarikan jalannya untuk dibantu, termasuk ke Pemprov Sumbar, serta pemerintah kabupaten / kota.
Di samping itu, di tengah krisis pandemi Covid-19 ini, Okferiadi mengimbau orang Minang harus membangun solidaritas yang kuat. Bagi yang diberi kelebihan rezeki, diharapkan Okferiadi, secara bergotong royong dapat membantu perantau yang terdampak ekonominya gara-gara corona.
(Ika)






















