
PADANG, forumsumbar —- Bencana galodo yang terjadi pada November 2025 lalu turut berdampak pada masyarakat di Kelurahan Lambung Bukit Kecamatan Pauh Kota Padang, khususnya warga di sekitar RT 02/RW 02.
Selain berdampak pada kondisi lingkungan, bencana tersebut juga diikuti oleh perubahan kualitas air yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Salah satu persoalan pascagalodo pada warga di sekitar Musala Al Mukmin Kelurahan Lambung Bukit RT 02/RW 02, yakni perubahan kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Air mengalami penurunan kualitas dan memiliki bau yang kurang sedap. Kondisi tersebut menjadi persoalan bagi warga karena air merupakan bagian penting dalam berbagai aktivitas sehari-hari.
Roby, salah satu warga yang terdampak dan tinggal di sekitar Musala Al Mukmin, menyampaikan bahwa air yang tersedia setelah kejadian tersebut tidak lagi nyaman digunakan seperti sebelumnya.
“Airnya berbau. Kalau dipakai untuk membasuh muka siang-siang terasa sakit dan perih. Untuk mencuci pakaian juga kurang bagus, pakaian malah menjadi kotor,” ujar Roby.

Pemasangan Filter, Solusi Penyediaan Air Bersih
Keluhan tersebut kemudian menjadi salah satu titik awal tercetusnya kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas (Unand).
Solusi penyediaan air bersih bagi masyarakat tersebut, tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Kimia FMIPA Unand menghadirkan dan memasang alat filter air di Musala Al Mukmin, RT 02/RW 02, Kelurahan Lambung Bukit, sebagai upaya membantu memperbaiki kualitas air yang dimanfaatkan masyarakat.
Pemasangan alat filter air tersebut didukung melalui dana Hibah Ormawa FMIPA Unand Tahun 2026. Dimana kegiatan ini menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam merespons persoalan yang dihadapi masyarakat dengan memanfaatkan pengetahuan dan sumber daya yang tersedia untuk menghadirkan solusi yang dapat digunakan secara langsung.

Adapun alat filter air dipasang di Musala Al Mukmin dengan tujuan agar pemanfaatannya tidak hanya terbatas untuk kebutuhan musala, tetapi juga dapat digunakan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Setelah dipasang, air yang telah melalui proses penyaringan mulai dimanfaatkan kembali oleh warga untuk berbagai kebutuhan sehari-hari. Selain dirasakan langsung oleh masyarakat, perubahan kualitas air juga didukung oleh hasil pengujian laboratorium terhadap sampel air sebelum dan sesudah filtrasi.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa proses filtrasi mampu mengurangi tingkat kekeruhan sehingga air menjadi lebih jernih, sementara kondisi pH air tetap relatif stabil. Pengujian ini menjadi salah satu bentuk evaluasi tim terhadap kinerja alat filter yang telah diterapkan di tengah masyarakat.

Air Kualitasnya Lebih Baik dan Tidak Lagi Berbau
Perubahan kondisi air turut dirasakan oleh Nasrul, salah seorang pengurus Musala Al Mukmin. Ia menyampaikan bahwa setelah pemasangan filter, kondisi air menjadi lebih baik dan bau yang sebelumnya dirasakan tidak lagi muncul.
“Sekarang airnya tidak lagi berbau dan lebih jernih. Banyak warga yang datang mengambil air ke musala. Air di musala ini digunakan oleh sekitar dua puluh kepala keluarga yang tinggal di sekitar musala,” ujar Nasrul.

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa manfaat pemasangan filter tidak hanya dirasakan oleh pengurus dan jamaah musala, namun juga dimanfaatkan oleh sekitar dua puluh kepala keluarga yang tinggal di lingkungan sekitar. Warga mulai mengambil air dari musala untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari.
Sebelum pemasangan filter, kondisi air menjadi kendala ketika digunakan untuk mencuci pakaian. Setelah alat filter dipasang, warga memiliki alternatif sumber air yang dapat dimanfaatkan bersama. Kehadiran filter juga menjadikan Musala Al Mukmin tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi turut menjadi salah satu titik pemanfaatan air bagi masyarakat di sekitarnya.

Terapkan Pengetahuan, Jawab Persoalan Masyarakat
Bagi masyarakat, perubahan ini memiliki arti penting dalam kehidupan sehari-hari. Air yang sebelumnya dikeluhkan karena bau dan kurang nyaman digunakan kini dapat kembali dimanfaatkan setelah proses penyaringan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa solusi terhadap persoalan lingkungan dan kebutuhan dasar masyarakat tidak selalu harus dimulai dari teknologi yang kompleks.
Melalui pemanfaatan pengetahuan, perancangan alat yang sesuai kebutuhan, serta keterlibatan langsung masyarakat, persoalan yang muncul setelah bencana dapat diupayakan untuk ditangani secara bersama
Kegiatan di Lambung Bukit juga menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di lingkungan akademik dalam menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat secara langsung pada masyarakat.

Ketua Tim Hibah Ormawa, Muhammad Jordan Rifandani menyampaikan bahwa ia sangat bersyukur dan senang dapat memanfaatkan ilmu pengetahuan yang diterima di kampus untuk diterapkan di masyarakat.
“Tentunya, kami tidak ingin alat ini hanya selesai pada tahap pemasangan. Karena itu, warga juga diberikan penjelasan mengenai penggunaan dan perawatan filter agar dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang,” ujarnya Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya tentang menghadirkan sebuah alat, tetapi juga tentang bagaimana pengetahuan, kepedulian, dan kolaborasi dapat diterjemahkan menjadi solusi yang manfaatnya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
(Tim)
(M. Jordan Rifandani Fanis Bocane, Muhammad Faruqi Aidi, Ulfia Fauzanna / Mahasiswa Kimia, FMIPA Unand)























