
PADANG, forumsumbar —– Tanggal 26 Februari 2026 ini, Rusli Marzuki Saria, atau yang akrab dipanggil “Papa”, seorang Penyair dan Wartawan Nasional asal Ranah Minang, genap berusia 90 tahun.
Rusli Marzuki Saria merupakan Penyair modern Indonesia yang bernafas panjang. Ia pejuang PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia), anggota Polisi Brimob (Brigade Mobil), dan pernah menjadi Anggota DPRD Padang serta menjadi wartawan Haluan sejak harian itu berdiri.
Rusli Marzuki Saria kelahiran 26 Februari tahun 1936 di Kamang Mudiak Kabupaten Agam, sudah menerima berbagai penghargaan sastra, di antaranya; Penghargaan Sastra dari Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI tahun 1997.
Kemudian, Penghargaan Tuah Sakato dari Pemprov Sumbar tahun 2008, pada tahun 2017 diusulkan untuk menerima Penghargaan Sastra ASEAN dari Kerajaan Thailand SEA Write Award melalui karya Sendiri-sendiri, Sebaris sebaris (Penerbit Kabarita, 2017). Dan tahun 2024 menerima penghargaan SEA Write Award untuk tahun 2022-2023 yang diterima oleh anak Papa Rusli di Bangkok Thailand. Dan pada tahun 2024 itu juga menerima PIN Emas dari Pemko Padang sebagai seniman.
Karya sastranya terhimpun dalam buku; Sembilu Darah (DKSB dan Pustaka Sastra, 1996), Pada Hari Ini, Pada Jantung Hati (Genta, Padang, 1966, Antologi Puisi “Monumen Safari” bersama Chairul Harun, Leon Agusta dan Zaidin Bakry (Genta, Padang, 1966, Parewa (Grasindo Jakarta, 1998), Tonggak (dengan Linus Suryadi AG, Gramedia Jakarta).
Kemudian, Ada Ratap Ada Nyanyi (1976) Mangkutak di Negeri Prosa Liris (Grasindo Jakarta, 2010), Sendiri-Sendiri, Sebaris-sebaris dan Sajak Bulan Februari (1976), Tema-tema Kecil, Kumpulan Sajak (1979), Antologi Bersama Linus Suryadi AG (1987), Sembilu Darah, Lima Kumpulan Sajak (1975-1992), Monolog Dalam Renungan, Kumpulan Sajak (2000), Tulisan-tulisan di Harian Haluan kemudian dijadikan buku; Monolog Dalam Renungan (2000), dan Parewa Sato Sakaki (2018). Seterusnya, Mangkutak di Negeri Prosa Liris (2010), dan karya dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, One by One, Line by Line (Kabarita, Padang 2014).
Pada 1971, Rusli Marzuki Saria dipercaya sebagai penanggung jawab sastra dan budaya dengan rubrik “Remaja Minggu Ini” (RMI) dan “Budaya Minggu (BM).” Rubrik ini cukup fenomenal dalam kancah kepenulisan, terutama di Provinsi Smatera Barat, Riau, Bengkulu, dan Jambi. Ia pensiun tahun 1999 dari harian Haluan,
Kendati disibukkan dengan rutinitas di ruang redaksi, tapi ia tidak pernah meninggalkan sosoknya sebagai panyair dan budayawan.
Papa Rusli yang menikah dengan Hanizar Musa ini memiliki 4 orang anak, dan saat ini menikmati masa tuanya di rumahnya di Wisma Warta Jl Bangka No 13 Ulak Karang Padang.
Di usianya yang sudah menginjak 90 tahun ini, Papa Rusli masih terlihat sehat.
Berikut salah satu puisi karya Rusli Marzuki Saria yang fenomenal;
Padang Kotaku
Karya: Rusli Marzuki Saria
Padang kotaku. Suatu waktu nanti takkan lagi terdengar terompa kuda /
Padang kotaku. Suatu hari nanti takkan lagi dengar ringkik kuda /
Padang kotaku. Takkan lagi bermimpi derak-derik /
Leguh legah pedati dan genta /
Padang kotaku. Nanti takkan lagi terisak /
Dari perjalanan jauh yang lama /
Gedebur ombak Purus menghiba, kuning air Muara /
Dan kapal-kapal kecil di senja /
Dan aku tak melupakanmu, Gunung Padangku, taman Siti Nurbaya /
Meriam Jepang serta kuburan Tionghoa /
Panasmu lusuhkan kemeja, deru badaimu /
Angin lengkisaumu dan masa lampaumu /
Aku tak bersedih karena semuanya ini /
Sebab; telah menggelitik bawah sadarku sampai aku jatuh cinta /
Bila aku tiada lagi nanti Padang kotaku, jangan bersedih /
Bagai mentari tenggelam di balik lautmu
1975
(ika)























