
AGAM, forumsumbar –— “Manyilau Rimbo“ adalah kegiatan masyarakat adat memeriksa wilayah hutan ulayat (hutan milik kaum atau nagari), yang bertujuan untuk memastikan batas-batas wilayah, melihat potensi sumber daya alam, dan menjaga kelestarian hutan dari gangguan pihak luar.
Kegiatan yang merupakan kearifan lokal ini, berkaitan erat dengan pepatah “Alam takambang jadi guru”. Masyarakat adat di Minangkabau melihat hutan bukan hanya sebagai sumber ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan keseimbangan alam yang harus dijaga.
Berkaitan dengan itu, Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lasi bersama masyarakat, Minggu (25/1/2026), “Manyilau Rimbo” di lahan milik kaum dan nagari Lasi Kecamatan Canduang Kabupaten Agam. Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Masyarakat Adat Dalam Pelestarian Hutan Cegah Bencana (Gema Lencana) Salingka Marapi yang telah dicanangkan beberapa waktu lalu.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Dr AKBP Jamalul Ihsan Dt Sati, Yusril Dt Rangkayo Basa, Dr Ulya Ilhami Putra Arsyah Bagindo Rajo Arih, Amyus Angku Lasuang Tujuah, Edwar Angku Bijo Sianso dan Ajuad Gindo Basa serta beberapa Parik Paga Kaum di Nagari Lasi.
Ketua KAN Lasi, Jamalul Ihsan Dt Sati menjelaskan bahwa kegiatan “Manyilau Rimbo” sebagai upaya mencegah terjadinya bencana galodo di Nagari Lasi, yang berbatasan langsung dengan gunung Marapi.
“Sebagai upaya untuk mencegah terjadinya bencana, kami mengawalinya dengan melihat labuah pancang. Dimana labuah pancang merupakan batas antara kampung dengan rimbo (hutan), serta batas antara ulayat kaum dengan ulayat Nagari”, jelas Ketua KAN Lasi tersebut.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa labuah pancang yang merupakan jalan setapak itu, sudah mulai ada yang tertutup semak belukar dan terhalang oleh kayu yang roboh.
“Sesampai di lokasi, kami langsung membersihkan semak belukar dan dahan pohon yang menutupi labuah panjang. Sehingga, tidak ada lagi yang menghalangi dan sudah bisa terlihat jelas nantinya bagi anak kemenakan kita” tambah Datuak Sati yang juga sebagai anggota Polri aktif di Polda Sumbar itu.
Kemudian, rombongan malakukan pengecekan di lahan yang kayunya sudah tumbang atau sudah kosong, serta lahan yang terkena longsor, sehingga harus ditanami lagi.

“Setelah melakukan pengecekan terhadap lahan yang kosong tadi, kami menanam bibit pohon tanaman hutan di lahan tersebut. Bibit yang merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat yang disalurkan melalui Ikatan Keluarga Ampek Angkek Tjanduang (IKAT) Kota Padang itu, sebagai upaya pencegahan bencana longsor, serta penahan air jika datang hujan dengan kapasitas tinggi”, tuturnya.
Datuak Sati menambahkan, bahwa daerahnya sangat rawan terhadap bencana galodo (banjir lahar) dari gunung Marapi, bencana galodo terbesar terjadi tahun 1986 lalu.
“Dengan melakukan penanaman, air tidak langsung mengalir deras, sehingga bencana dapat dicegah”, tutupnya.
(AS)























