• Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi
Kamis, Juni 25, 2026
  • Login
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
  • Home
  • Berita
  • Artikel
  • Opini
  • Advertorial
  • Kontak
No Result
View All Result
Forum Sumbar
No Result
View All Result

“Salam Tubuh pada Bumi”; Ery Mefri di Antara Tradisi, Seni dan Padusi

21 November 2023
in Artikel, Berita
Reading Time: 7min read
Views: 1,960
Ery Mefri, Maestro Tari Minang / Koreografer Tari Kontemporer. (Foto : Dok)

Oleh: Isa Kurniawan

(Wartawan/Penikmat Seni)

TAK ELOK rasanya ketika dikasih buku, kemudian kita diam saja tanpa pendapat. Dikira nanti tidak dibaca, atau dibiarkan saja. Jadi pajangan.

Lihat Juga

Hadiri Pengukuhan Tuanku dan Ustadzah Ponpes Nurul Yaqin Sadaniyyah, Wabup Rahmat: Lulusan Istiqomah dan Menyebar Kebaikan di Tengah Masyarakat

Hadiri Pengukuhan Tuanku dan Ustadzah Ponpes Nurul Yaqin Sadaniyyah, Wabup Rahmat: Lulusan Istiqomah dan Menyebar Kebaikan di Tengah Masyarakat

24 Juni 2026
28
Antisipasi Risiko Kecelakaan Saat Libur Sekolah, KAI Divre II Sumbar Pasang Spanduk dan Gencarkan Sosialisasi di Perlintasan Sebidang

Antisipasi Risiko Kecelakaan Saat Libur Sekolah, KAI Divre II Sumbar Pasang Spanduk dan Gencarkan Sosialisasi di Perlintasan Sebidang

24 Juni 2026
5
Unand Torehkan Prestasi di Tingkat Internasional, Masuk Kelompok Peringkat 401-600 Dunia dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

Unand Torehkan Prestasi di Tingkat Internasional, Masuk Kelompok Peringkat 401-600 Dunia dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

24 Juni 2026
27

Untuk membayar hutang itu, saya coba memberi pendapat sepatah dua kata. Tanda jadi saja.

Membaca buku “Salam Tubuh pada Bumi: Perjalanan 40 Tahun Karya Ery Mefri” yang ditulis Hendra Makmur (jurnalis senior), mengingatkan kepada kita bahwa hidup itu harus berproses. Terus berjalan. Dan penuh perjuangan.

Di sinilah nanti, proses itu tidak akan mengkhianati hasil.

Ery Mefri hari ini, yang merupakan seorang Maestro Tari Minang/Koreografer Tari Kontemporer yang telah mendunia, bukan secara instan ujuk-ujuk karena TikTok atau YouTube, tiba-tiba saja muncul.

Ery Mefri itu berproses. Mulai dari kecil sampai saat ini, konsisten di jalurnya sebagai seniman tari. Setelah melalui pendakian, onak, duri, dan penderitaan hidup. Suka dan duka. Akhirnya ia bisa mencapai puncak.

Ibunda Ery Mefri, Nurjanah dan ayahanda, Manti Menuik. (Foto : Dok)

Semenjak di Rahim

Ternyata, tekad Ery Mefri ingin mendalami tari dan menjadi seniman itu berangkat dari “dendam”.

Ketersinggungan Ery semasa sekolah di SMP Imam Bonjol di Saniangbaka —sebuah nagari di tepian Danau Singkarak Kabupaten Solok, dimana tempat Ery Mefri lahir pada tanggal 23 Juni 1958, empat bulan setelah PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dideklarasikan.

Berarti umur Ery Mefri itu saat ini; 65 tahun. Ya, sudah mulai senja.

Mulai dari Ery tidak dianggap, karena saat ikut pementasan tari di sekolah, tiba-tiba saja diganti, sampai ada seorang pelukis yang menyebut Ery tidak mengerti dengan seni. Itulah pangkal balanya.

“Dendam” inilah yang menjadi energi bagi Ery, selain Abak dan Amak (panggilan akrab Ery untuk kedua orangtuanya), serta keluarga tercintanya.

Tapi sejatinya, sebenarnya ruh seni Ery itu sudah ada semenjak di dalam rahim Amak, yang bernama Nurjanah (pengrajin kain sulaman Minang). Dan Abak, Jamin Manti Jo Sutan yang dikenal akrab dengan sebutan Manti Menuik —salah seorang seniman tari kenamaan dari Saniangbaka, yang dinobatkan oleh DKSB (Dewan Kesenian Sumatera Barat) pada tahun 2005 sebagai Maestro Seni Tradisi Minang.

Setamat SMP di tahun 1976, walaupun sempat “dibelokkan” Abak agar Ery bersekolah di SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas) di Payakumbuh dengan iming-iming dibelikan sepeda motor Astrea 70.

Tapi Ery meneguhkan hati masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) di Padang Panjang, meski tidak dapat sepeda motor.

Padahal di masa itu, kalau sudah punya sepeda motor Astrea 70, sudah juara. Sudah di atas nama kita.

Masa sekolah di SMKI itulah yang semakin mengasah jiwa seni Ery, khususnya seni tari. Dalam catatannya selama di SMKI, Ery mengikuti 41 pementasan tari, baik di Sumbar maupun ke berbagai daerah lainnya hingga ke Yogyakarta.

Rumah gadang Abak Manti Menuik di Nagari Saniangbaka. (Foto : Dok)

Tradisi Minang

Semenjak kecil Ery sudah hidup di dalam tradisi Minang yang kental di kampungnya Nagari Saniangbaka. Latihan silat (silek) sudah dilakoni Ery di Sasaran Bawah Kuini dengan guru Said Sutan Basa. Seorang guru gadang silek yang terkenal dengan Silek Singo Barantai. Said Sutan Basa juga guru dari Manti Menuik, ayahanda Ery.

Belajar silek di Minangkabau, bukan saja berlatih bela diri. Tapi juga mempelajari nilai-nilai dan filosofi adat Minang.

Menurut Ery, hampir seluruh seni tradisi Minangkabau berbasis pada gerakan silek. Untuk bisa menari dengan baik, seorang penari tradisi harus menguasai dasar-dasar silek Minang.

Dari silek, kemudian beranjak ke tari tradisi, sudah disemai Ery ketika berumur 6 tahun dengan “menyimak” latihan tari yang diadakan Abak dengan anak tarinya.

Sampai kemudian, Ery ikut Abak pementasan tari dari kampung ke kampung.

“Menyimak” inilah yang kemudian menjadi dasar bagi Ery di dalam belajar dan memberikan pembelajaran, termasuk ketika memulai Nan Jombang Dance Company dengan 15 orang anak tari dari SMKK (Sekolah Menengah Keterampilan Keluarga), pada tanggal 1 November tahun 1983.

“Menyimak” ini didapatkan Ery dari nasehat salah seorang kerabatnya yang ia panggil angku (kakek). Kata angku tersebut, menyimak akan membuat kita lebih cepat memahami pelajaran dan persoalan.

“Menyimak adalah cara belajar terbaik, sementara menghafal akan membuat seorang itu seperti robot dan menutup ruang kreativitas seorang seniman,” kata Ery.

Tradisi Minang itulah yang kemudian menjadi dasar bagi Ery di dalam berkarya bersama dengan Nan Jombang sampai saat ini. Setelah 40 tahun semenjak berdiri di tahun 1983, tradisi itu tetap jadi referensi.

Anak tari Nan Jombang sedang perform. (Foto : Dok)

Seni Tari Kontemporer

Bersama dengan Nan Jombang, dalam catatannya Ery sudah menghasilkan 65 karya tari, dimana 4 masih dalam proses, yakni; Himbauan Suara Subuh (2019); Salam Tubuh pada Bumi (2021); Di Atas Sajadah (2021), dan Si Untuang Sudah (2023).

Tari yang masih dalam proses ini menjadi hutang Ery Mefri untuk menuntaskannya. Sembari berproses lagi untuk menghasilkan karya-karya baru.

Mencermati Tari Kontemporer yang diusung oleh Ery Mefri, fondasinya tetap pada tradisi, dengan silek yang menjadi dasar gerakannya, tetapi utuhnya lari dari pakem konvensional tari Minang yang selama ini ada.

Budayawan Edy Utama menyebut ini merupakan sikap pemberontakan terhadap tradisi, walau dinilai belum mencapai totalitas. Kadang, menurutnya, Ery masuk ke dalam tradisi, kemudian keluar dalam nuansa diam.

Edy Utama menilai Ery bergerak dalam dua tarikan latarnya, sebagai seniman tradisi dan latar pendidikan tari modern saat belajar di SMKI.

Tapi bagi Rhian D Kincai (alm), Ery Mefri membawa sesuatu yang baru dalam dunia koreografi di Sumbar. Rhian menilai terjadi pemberontakan dalam batin Ery yang disalurkan lewat ekspresi tari yang keras namun dinamis.

Senada dengan Rhian, menurut Pinto Janir, Ery itu berkesenian tanpa batas. Gerak ciptanya tegas dan tegang. Terlihat betapa gelisahnya Ery melihat berbagai persoalan yang ada.

Ery Mefri mengakui bahwa kalangan teater berpengaruh pada tarinya. Ini karena Ery tidak ingin imajinasinya terhalang oleh berbagai sekat aturan, dan ia hanya ingin berproses dengan leluasa.

Ini yang kadang menjadi sandungan bagi Ery Mefri dan Nan Jombang ketika berhadapan dengan birokrasi. Karena birokrasi itu tahunya “hanya” dengan Tari Pasambahan, Tari Piring dan tari-tari konvensional lainnya.

Sehingganya dukungan bagi Nan Jombang, tidak sama dengan sanggar-sanggar tari yang menjadi binaan birokrasi tadi. Atau sanggar tari lainnya.

Nan Jombang kerap dicap sebagai; “kesenian swasta”.

Bahkan dengan minimnya dukungan tadi, suatu ketika Nan Jombang diundang ke Jawa, karena keterbatasan dana, sempat terlunta-lunta dan menjual perhiasan para penari.

Ery Mefri di Singapura. (Foto : Dok)

Titik Balik

Puluhan tahun Nan Jombang dengan diskriminasi birokrasi dan sengsara di tengah-tengah ketidakpedulian orang lain, akhirnya titik balik itu tiba ketika Nan Jombang bisa tampil di Indonesian Performing Arts Mart (IPAM) di Nusa Dua Bali pada 15-17 Juni 2004.

Di sanalah Ery bertemu dengan Andrew Ross, Direktur Brisbane Powerhouse, yang mengelola sebuah gedung pertunjukan ternama di Australia.

Yes! Nan Jombang diundang Andrew Ross tampil di Australia.

Berselang tiga tahun setelah tampil di Bali, pada 2-11 Agustus 2007, Nan Jombang tampil di Australia, dan mendapat apresiasi dari publik Australia.

Kemudian di IPAM yang digelar di Solo, pada 3-7 Juni 2009, Nan Jombang kembali dapat undangan tampil di luar negeri.

Yes! Kali ini dari Frie Leysen, Direktur Festival Theater Der Welt, untuk tampil di dalam salah satu acara teater terbesar di dunia: “Theater der Welt” di Essen, Jerman, pada 6-12 Juli 2010.

Semenjak tampil di dua iven tadi, undangan untuk Nan Jombang tampil, baik di dalam maupun dari mancanegara, tidak terbendung lagi.

Saat berjuang untuk mengibarkan panji-panji Nan Jombang itu banyak duka yang ditelan Ery dengan rasa perih.

Di antaranya; ketika dua orang tersayangnya meninggal, Ery tidak bisa mengantarkan ke liang kubur, karena bersamaan harus pergi ke luar negeri dengan jadwal yang sudah matang.

Pertama ketika anak Ery, bernama Gessi, meninggal dunia saat ia mengikuti workshop dan menghadiri “American Dance Festival” di Durham, Carolina Utara dan New York, Amerika Serikat pada 5 Juni-28 Juli 1994.

Kemudian saat akan berangkat untuk tampil di Brisbane Powerhouse Australia awal Agustus 2007, ayahanda Ery; Sang Maestro Tari Manti Menuik berpulang ke rahmatullah.

Ery Mefri di museum tari. (Foto : Dok)

Di kedua kemalangan itu, Ery Mefri hanya bisa memeluk nisan orang-orang tersayangnya itu selepas pulang.

Perih memang. Tapi hidup harus terus berjalan.

Dukungan orang-orang di Nan Jombang, keluarga, dan kawan-kawan lah yang membuat Ery tetap kuat melangkah.

Seiring berjalannya waktu, Nan Jombang akhirnya bisa membangun padepokan di atas tanah seluas 2500 m2 di daerah Balai Baru Kuranji Kota Padang, dengan bangunannya yang modern, apik dan asri.

Di tempat yang dinamakan dengan Ladang Tari Nan Jombang ini, Ery Mefri terus menyempurnakan karya-karya, dan kemudian menggelar iven-iven yang rutin dilaksanakan, seperti; Festival Nan Jombang dan KABA Festival.

Saat peringatan 40 Tahun Ery Mefri Berkarya telah diresmikan Museum Tari Ery Mefri, —yang menampilkan rekam jejak Ery selama 40 tahun berkarya.

Kemudian, pada tanggal 9 November 2023 lalu, Ery Mefri menerima penghargaan bergengsi CHI Award 2023 dari Yayasan AlMar, untuk kategori Penerus Seni Tari Nusantara.

Dengan rekam jejak yang terukur selama puluhan tahun tersebut, sudah selayaknya Ery Mefri mendapatkan Dr HC (Doctor Honoris Causa). Bisa saja dari UNP (Universitas Negeri Padang, atau dari Unand (Universitas Andalas).

Gelar Doktor Kehormatan (Dr HC) adalah gelar kehormatan yang diberikan oleh suatu Perguruan Tinggi kepada seseorang yang dianggap telah berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Ery Mefri, Nan Jombang dan keluarga. (Foto : Dok)

Perempuan (Padusi)

Ery Mefri itu sangat menghargai perempuan (padusi). Hal ini ditunjukkannya betapa sayangnya Ery kepada Amak, ibundanya Nurjanah.

Waktu Ery kecil, ia memahami kepedihan hati Amak ketika berpisah dengan Abak, Manti Menuik. Ery hanya berjanji, saat dewasa nanti, kemana pun pergi, ia akan membawa Amak tinggal bersamanya.

Hal itu ditepati Ery. Dimana hingga berpulang pada 7 Desember 2020, Amak tinggal bersama Ery dan keluarga.

Di sisi lain, dari ayahanda Manti Menuik, terlihat bahwa bukan perkara bakat tari saja yang menurun pada Ery Mefri. Perkara padusi pun ikut turun.

Buah itu memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Manti Menuik itu menikah sebanyak 8 kali. Termasuk dengan Nurjanah, ibunda Ery.

Sementara itu Ery Mefri menikah 5 kali. Dengan 3 istri yang sekarang tetap mendampingi Ery.

Pada tahun 1978 saat Ery berusia 20 tahun, ia sudah menikah dengan Dahlia, anak guru silek kedua Ery, Angku Muin Kaco.

Waktu menikah itu, Ery masih sekolah di SMKI Padang Panjang.

Setelah bercerai dengan Dahlia, ketika telah menjadi PNS di Taman Budaya Padang, tahun 1982 Ery menikah lagi dengan Afriyeni (Cal), teman semasa di SMKI yang sering mengantar makan siang saat ia latihan di sekolah.

Setelah itu, pada tahun 1985, Ery menikah lagi dengan Gusti Yanti. Namun kemudian berpisah.

Tahun 1989, Ery menikah lagi dengan Nomi Hardani. Dan terakhir, tahun 2005, Ery menikahi Angga Djamar, penari perempuan yang telah menari untuk Nan Jombang semenjak tahun 1990. Saat ini Angga Djamar menjadi Manajer Nan Jombang, yang merangkap Direktur Festival Nan Jombang dan KABA Festival.

Wujud cintanya pada padusi, khususnya kepada ibunda Nurjanah dan istri-istrinya, Ery kemudian menciptakan tari “Siti Hawa” yang termasuk salah satu tari istimewa di Nan Jombang.

Ery mengaku menikah beberapa kali karena memang jatuh cinta dan membutuhkannya.

Ery menyayangi semua istrinya. Ia tak ingin meninggalkan seorang pun. Ketika ada perceraian, menurutnya, hal tersebut karena permintaan dari mantan istri.

Cerita padusi, seperti Manti Menuik dan Ery Mefri ini sudah tidak asing lagi bagi orang Minang. Dari kekerabatan/dunsanak itu, ada yang istilahnya; sabapak, saparuik dan lainnya.

Tetapi tetap garisnya adalah garis ibu (padusi), sesuai dengan adat Minang yang matrilineal. *)

 

Isa Kurniawan, Wartawan/Penikmat Seni. (Foto : Dok)
ShareTweetSendShare
Previous Post

Nevi Zuairina Silaturahmi dengan Santri Ponpes Nurul Yaqin Padang Pariaman

Next Post

Pilpres Langsung Tetap Hasilkan Polarisasi dan Caci Maki. LaNyalla: Karena Memang Tidak Cocok untuk Indonesia

BeritaTerkait

Hadiri Pengukuhan Tuanku dan Ustadzah Ponpes Nurul Yaqin Sadaniyyah, Wabup Rahmat: Lulusan Istiqomah dan Menyebar Kebaikan di Tengah Masyarakat
Berita

Hadiri Pengukuhan Tuanku dan Ustadzah Ponpes Nurul Yaqin Sadaniyyah, Wabup Rahmat: Lulusan Istiqomah dan Menyebar Kebaikan di Tengah Masyarakat

24 Juni 2026
28
Antisipasi Risiko Kecelakaan Saat Libur Sekolah, KAI Divre II Sumbar Pasang Spanduk dan Gencarkan Sosialisasi di Perlintasan Sebidang
Berita

Antisipasi Risiko Kecelakaan Saat Libur Sekolah, KAI Divre II Sumbar Pasang Spanduk dan Gencarkan Sosialisasi di Perlintasan Sebidang

24 Juni 2026
5
Unand Torehkan Prestasi di Tingkat Internasional, Masuk Kelompok Peringkat 401-600 Dunia dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026
Berita

Unand Torehkan Prestasi di Tingkat Internasional, Masuk Kelompok Peringkat 401-600 Dunia dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026

24 Juni 2026
27
Demi Estetika Konten: Ketika Ritual Sakral Pernikahan Minang Direduksi Menjadi Jasa WO
Berita

Demi Estetika Konten: Ketika Ritual Sakral Pernikahan Minang Direduksi Menjadi Jasa WO

24 Juni 2026
13
Lintau Buo Utara Raih Juara Umum MTQ Nasional ke-43 Tingkat Kabupaten Tanah Datar
Berita

Lintau Buo Utara Raih Juara Umum MTQ Nasional ke-43 Tingkat Kabupaten Tanah Datar

23 Juni 2026
19
Bupati Agam Benni Warlis Serahkan Bantuan RTLH Tahun 2026 pada 14 Orang Penerima Manfaat
Berita

Bupati Agam Benni Warlis Serahkan Bantuan RTLH Tahun 2026 pada 14 Orang Penerima Manfaat

23 Juni 2026
16
Next Post
Pilpres Langsung Tetap Hasilkan Polarisasi dan Caci Maki. LaNyalla: Karena Memang Tidak Cocok untuk Indonesia

Pilpres Langsung Tetap Hasilkan Polarisasi dan Caci Maki. LaNyalla: Karena Memang Tidak Cocok untuk Indonesia

Most Viewed Posts

  • Polda Sumbar Dukung PMPI Wujudkan Regenerasi Pertanian Lewat GenZALS 2025 (40,618)
  • Gubernur Sumbar: PSBB Berakhir, Diganti New Normal (36,540)
  • Ranah Minang Berduka, Haji Boy Lestari Dt Palindih Berpulang ke Rahmatullah (35,825)
  • Keluarga Besar SMPN 13 Padang Gelar Family Gathering 2025: Deep Learning dan Keakraban (35,514)
  • Senin Depan Tidak Juga Cair Bantuan Covid-19, Gubernur Sumbar Dilaporkan ke Presiden (34,953)
  • Meningkatkan Efektivitas Hakim Ad Hoc Tipikor dalam Memberantas Korupsi (34,429)
  • Pepatah Petitih Minangkabau tentang Kebersamaan Beserta Maknanya (32,926)
  • VCO (Virgin Coconut Oil) Dapat Digunakan sebagai Obat Membunuh Covid-19 (32,890)
  • Lakukan RDPU dengan Komisi XIII DPR RI, HAKAN Sampaikan Tiga Poin Utama Terkait Revisi Kebijakan Kewarganegaraan (31,196)
  • Heboh, Satu Orang PDP Covid-19 dari Payakumbuh Meninggal di RSAM Bukittinggi (29,296)

Berita Lainnya

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

‘Ajo JKA Pulang Kampuang’

20 Februari 2025
177
‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

‘Raja Penyair’ Pinto Janir: Bangun ‘Rumah Budaya’ Bintang 7 di Taman Budaya Sumbar!

14 Juni 2024
363
‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

‘Sisi Gelap’ DBL Caketum IKA Unand #NoworNever #KitoNanSantiang

30 Juli 2021
504
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Menyala! Dalmenda dan Ka’bati Ikut Baca Puisi

13 Desember 2024
242
“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

“75 Tahun Prof Harris Effendi Thahar”: Pemprov Sumbar Dukung Upaya Pemajuan Kebudayaan

5 Januari 2025
121
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”, Hary: Unand Siap Jadi Episentrum Gerakan Kebudayaan

17 Mei 2025
159
“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

“78 Tahun Sang Maestro Penulis Indonesia Makmur Hendrik”: Unand Menggelegar oleh Puisi

5 Juni 2025
137
“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra and the Ocean of Letters”: A Poetry Collection by Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Indonesian Writer of Satu Pena Sumbar, Indonesian Creator of AI Era, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
199
“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

“Abrar Yusra dan Samudera Aksara”: Kumpulan Puisi Leni Marlina (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

24 Februari 2025
133

Portal berita forumsumbar.com diterbitkan oleh PT. BANGKA LIMABELAS MULTIMEDIA, merupakan situs berita dari Sumbar.

Kantor : Jl. Bangka No. 15 Wisma Warta Ulak Karang – Padang (25133)

HP / WA : 081275665100

  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

No Result
View All Result
  • Forum Sumbar
  • homepage
  • Kontak
  • Privacy Policy
  • Tim Redaksi

Hak Cipta oleh Forum Sumbar 2022

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In