
PADANG, forumsumbar —Sejarah panjang selama 35 tahun menjadi aktivis di bidang pemberdayaan perempuan menjadi dasar bagi Edriana, SH, MA untuk maju menjadi calon DPR RI daerah pemilihan Sumbar 1 dari Partai Gerindra di Pemilu 2024 yang akan datang.
Selama ini Ketua Bidang Kerjasama Organisasi Perempuan DPP Partai Gerindra ini telah mengambil bagian dalam berbagai proyek dan program untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak, termasuk pemberdayaan ekonomi, pendidikan dan kesehatan.

Edriana yang berasal dari daerah pinggang Gunung Singgalang, tepatnya dari Nagari Pandai Sikek Kecamatan X Koto Kabupaten Tanah Datar ini, merupakan pendiri dari Koalisi Perempuan Indonesia untuk Keadilan dan Demokrasi, serta Women Research Institute (WRI) sebuah lembaga penelitian dan peningkatan kapasitas perempuan dalam bidang kesehatan, pemberdayaan anak, pendidikan dan partisipasi politik perempuan.

Prioritas Pemberdayaan Perempuan dan Anak
Dalam pandangan alumnus Fakultas Hukum Universitas Pancasila Jakarta ini, peran perempuan itu sangat penting dalam pembangunan bangsa. Untuk itu, harkat dan martabat perempuan dalam segala aspek kehidupan harus mendapatkan perhatian serius.
“Di era teknologi informasi yang perkembangannya begitu pesat, penting bagi perempuan untuk menguasai teknologi digital agar menjadi produktif dan tidak hanya sebagai konsumen pasif” ujar Wakil Ketua Umum PIRA (Perempuan Indonesia Raya) Bidang OKK/Humas/Hukum ini. PIRA merupakan organisasi sayap perempuan Partai Gerindra.
Kemudian, Presiden Direktur Jakarta Multikultural School ini mempunyai visi bagaimana Sumbar bebas dari kemiskinan dan stunting, dengan meningkatkan mutu dan keterjangkauan layanan kesehatan dan pendidikan, serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi perempuan dan generasi muda.

Edriana yang merupakan alumnus SMAN 2 Padang ini bertekad menjadikan Sumbar ramah perempuan dan anak. Semua pihak harus serius tegakkan Adat Basandi Sara’, Sara’ Basandi Kitabullah (ABS SBK), sehingga dapat menghargai perempuan dan ramah terhadap perempuan.
Menurutnya jika ini terwujud, maka setiap rumah yang ada di Sumbar menjadi aman berstandar. “Jangan hanya sekadar aman saja, tiba-tiba datang saja laki menyerang bawa golok. Karena itu perlu adanya unsur saling menghargai dan jangan sampai ada kekerasan dalam rumah tangga,” kata Edriana saat itu, ketika penyampaian visi misi Bakal Calon Gubernur Sumbar, di Partai Gerindra Sumbar.

Sebagai perempuan, menurut Edriana yang mendapatkan gelar Magister (MA) di Jurusan Perempuan dan Pembangunan di Den Haag Belanda ini menilai, perempuan itu dalam memimpin tidak hanya pakai isi kepala saja, tetapi juga hati. Edriana menegaskan, dirinya berani maju, karena punya tawaran dan solusi terhadap permasalahan pembangunan di Sumbar. Selain itu, juga menegaskan dirinya masih bersih dan bebas KKN.
“Kita buat sejarah, dengan menciptakan pengalaman di ranah Bundo Kanduang, bahwa perempuan bisa jadi pemimpin (Gubernur ;Red). Selama ini, sejarahnya, karena belum ada perempuan yang maju saja. Saya berani maju, berani menyampaikan dan menyapa masyarakat. Sudah saatnya memberikan kesempatan kepada perempuan untuk menjadi pemimpin,” tegas Kandidat Doktor (S3) Jurusan Ilmu Politik Universitas Indonesia (UI) ini, saat jadi Bacalon Gubernur Sumbar itu.

Banyak Program Lainnya
Di samping program perberdayaan perempuan dan anak yang menjadi fokusnya, Edriana juga menekankan pentingnya program UMKM (Usaha Kecil Mikro Menengah), pertanian, infrastruktur, dan pariwisata.
Dalam kiprahnya, Edriana selalu mendorong perkembangan UMKM agar bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi, baik daerah maupun nasional.
Di sektor pertanian, Edriana melihat bagaimana membangun industri pertanian untuk peningkatan ekonomi secara signifikan. Petani ke depan bisa mengelola produk pertanian menjadi industri pertanian.
Termasuk juga kaum milenial. Melalui pertanian hidroponik dan holtikultura, banyak hal yang dikembangkan kaum milenial di sektor pertanian, sehingga anak muda tidak lagi meninggalkan kampungnya untuk bekerja ke kota.

Di bidang infrastruktur, khusus jalur Padang-Bukittinggi-Payakumbuh, jalannya harus diperbesar untuk mengatasi kemacetan. Di Pasar Koto Baru yang selalu mengalami kemacetan harus dibuat flyover.
Edriana memandang perlu dilakukan revitalisasi kereta api (KA) yang menjadi angkutan massal untuk mengatasi kemacetan. “Bagaimana kita promosikan pariwisata kalau jalan macet. Jalan bagus, tetapi sempit. Wisatawan sangat menghargai waktu untuk menuju suatu tempat. Jangan kemacetan sampai jadi masalah di sektor pariwisata,” ujarnya suatu ketika.
Edriana juga menawarkan program harus adanya balairung adat di setiap nagari yang menjadi pusat aktivitas di nagari. Supaya menjadi tempat musyawarah nagari, tempat anak nagari berkreasi dalam seni dan budaya dan olahraga nagari.
(Isa)























