KABUPATEN SOLOK, forumsumbar —Dosen dan mahasiswa Fakultas Pertanian Unand, Minggu (10/11) melaksanakan pengabdian kepada masyarakat berupa kegiatan Ipteks Berbasis Dosen dan Masyarakat (IBDM) di Nagari Bukik Sileh Kecamatan Lembang Jaya Kabupaten Solok.
Berangkat dari permasalahan yang ada pada petani di daerah tersebut, yang kala hujan lebat mengalami banjir, dan kemarau kekeringan. Sehingganya keadaan itu merugikan petani bawang merah, tomat, kentang, wortel, dan beberapa tanaman holtikultura lainnya, yang menjadi mayoritas mata pencarian penduduk Nagari Bukik Sileh.
Menurut Ketua Kelompok Tani Banda Sampie Afrianto, lahan pertanian banyak yang ditanam di bukit-bukit dengan kemiringan yang beragam. Apabila musim hujan dengan intensitas yang tinggi maka akan terjadi genangan dan banjir di beberapa lahan pertanian, sehingga petani dapat gagal panen. “Jika musim kemarau datang akan sulit untuk mencari sumber air karena kandungan air tanahnya sedikit,” ujarnya.
Untuk mencari solusi dari permasalahan petani di Nagari Bukik Sileh itu, beberapa dosen Fakultas Pertanian Unand dan mahasiswa melalui pengabdian kepada masyarakat, memberikan pengetahuan kepada para petani dengan menerapkan aplikasi teknologi Lubang Resapan Biopori (LRB) di Kelompok Tani Banda Sampie.

Dosen Fakultas Pertanian Unand yang menjadi pengusul dari pengabdian IBDM tersebut diketuai Firsta Ninda Rosadi, S.P., M.Si, dan anggotanya Meisilva Erona S. S.P., M.Si, Roza Yunita, S.P., M.Si, Winda Purnama Sari S.P., M.P, Zahlul Ikhsan S.P., M.P, dan Dede Suhendra S.P, M.P.
Disampaikan anggota Tim, Roza Yunita, teknologi LRB pada dasarnya merupakan teknologi untuk meresapkan air ke dalam tanah lebih cepat jika curah hujan tinggi. “Teknologi ini, tidak hanya mampu meningkatkan ketersediaan air tanah tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk pengolahan sampah organik, atau kompos,” sebutnya.
Lubang resapan biopori, lanjut Roza, dibuat dengan menggali lubang secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter lubang 10 cm dan kedalaman 100 cm. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan resapan melalui dinding lubang resapan.

“Air yang masuk ke dalam lubang resapan akan diresapkan ke dalam tanah melalui pori-pori tanah pada dinding lubang. Lubang resapan biopori harus diisi oleh sampah organik sampai penuh dan terus-menerus untuk menjaga agar lubang tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak tersumbat oleh lumut yang dapat mengganggu peresapan air serta menghindari adanya sedimen halus yang dapat menyumbat pori,” terangnya.

Dengan semakin banyak Lubang Resapan Biopori (LRB) yang dibuat, sebut Roza, maka tidak hanya dapat memelihara cadangan air tanah, mencegah erosi, tetapi juga dapat mengurangi dampak pencemaran lingkungan yaitu masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran perairan dan pencemaran udara.
Tim dosen Fakultas Pertanian Unand bersama mahasiswa selain memberikan informasi ilmu tentang LRB, juga memberikan bantuan 5 buah alat bor biopori dengan harapan alat ini bisa dimanfaatkan oleh kelompok tani dan juga masyarakat sekitar. (IK)






















